BANTEN (Arrahmah.id) — Sebanyak lima jurnalis dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau menggunakan sebuah kapal sejak Senin (07/09) sore.
Hingga Rabu (09/09) sore, kelima jurnalis bersama tiga awak kapal masih belum ditemukan. Tim SAR Gabungan telah memperluas area pencarian dengan mengerahkan tujuh Search and Rescue Unit (SRU).
Area pencarian mencakup perairan sekitar Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, kawasan Krakatau, hingga Pulau Rakata dan Pulau Panjang.
Para petugas menyisir perairan Pulau Sebesi hingga kawasan Krakatau menggunakan rigid inflatable boat, yakni kapal cepat dengan lambung bawah yang keras dari fiberglass atau aluminium.
Kasubbag Umum Basarnas Lampung, Zulkarnain Siagian, mengatakan proses pencarian menjadi lebih sulit karena tidak ada sinyal marabahaya yang muncul dari kapal ketika komunikasi dengan rombongan terputus.
"Pada saat terjadinya musibah itu tidak ada distress, istilahnya sinyal marabahaya. Itu yang membuat kami belum bisa mendeteksi di mana posisinya," ujar Zulkarnain.
Menurut dia, posisi terakhir kapal juga belum dapat dilacak melalui telepon seluler.
"Untuk sinyal dari ponsel juga sama sekali belum ada untuk itu. Jadi, kami belum bisa mendeteksi posisi," katanya.
Karena itu, tim SAR mengandalkan penyisiran langsung berdasarkan area yang telah ditentukan dalam operasi pencarian dan pertolongan.
Tim SAR Maksimalkan Pencarian
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, mengatakan pencarian dilakukan secara maksimal dengan memperluas area penyisiran serta mengoptimalkan seluruh unsur dan sarana yang tersedia.
"Sampai saat ini hasil pencarian masih nihil. Kami tidak berhenti melakukan upaya pencarian. Setiap perkembangan di lapangan akan terus kami evaluasi untuk menentukan strategi berikutnya," kata Al Amrad.
Dalam proses pencarian, Gunung Anak Krakatau terpantau mengeluarkan material debu vulkanik yang cukup tebal.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh petugas SAR. Al Amrad menegaskan bahwa keselamatan personel tetap menjadi prioritas selama operasi berlangsung.
"Saat terlihat adanya material debu vulkanik yang cukup tebal, kami tetap mempertimbangkan faktor keselamatan bagi seluruh personel. Pencarian akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan," jelasnya.
Delapan Orang Hilang Kontak
Sebelumnya, Al Amrad mengatakan kelima jurnalis tersebut menumpang kapal cepat Arupadhatu 1 dari Dermaga Pagedongan, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin (07/09) pukul 14.00 WIB.
Kapal tersebut berisi Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) selaku anak buah kapal, dan Heriyanto (49) sebagai pemandu.
Adapun lima jurnalis yang berada di kapal tersebut yakni M Bagus Khoirunnas, jurnalis kantor berita Antara Biro Banten; Ari Basuki, jurnalis Merdeka.com; Yudhis, jurnalis iNews; Daus, jurnalis kantor berita Anadolu; serta Donal Husni, jurnalis lepas.
Sebelum berangkat, Bagus sempat mengirimkan foto dirinya di dalam kapal bersama empat rekannya kepada istrinya.
Estimasi perjalanan dari dermaga menuju Gunung Anak Krakatau sekitar dua jam.
Pada pukul 14.42 WIB, Bagus sempat berkomunikasi dengan jurnalis Antara Biro Lampung, Abay, yang sedang berada di Pulau Sebesi. Saat itu, Bagus mengirimkan informasi dan mengabarkan lokasi terkini.
Namun, pada pukul 15.04 WIB, Abay kehilangan kontak dengan Bagus.
Kemudian, pada pukul 18.13 WIB, pemandu kapal Heriyanto sempat mengirimkan foto sedang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Setelah itu, tidak ada lagi kabar dari kru kapal maupun kelima jurnalis tersebut.
Laporan Diterima Basarnas
Pada Selasa (08/09) siang, pimpinan kantor berita Antara Biro Banten, Bayu Kuncahyo, melaporkan pewartanya yang hilang kontak kepada Basarnas.
Setelah menerima laporan tersebut, tim SAR dari Pandeglang langsung berangkat menuju lokasi terakhir kontak rombongan.
"Tim kemudian melakukan penyisiran menuju arah Krakatau dan sejumlah wilayah perairan yang diduga menjadi lokasi keberadaan speed boat," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad.
Polda Banten juga menyampaikan bahwa Basarnas mengerahkan sejumlah kapal dan personel untuk mencari lima jurnalis tersebut.
"Dalam pencarian tersebut, sebanyak 23 personel terlibat, terdiri dari dua personel KP Sanjaya Mabes Polri, lima personel Ditpolairud Polda Banten, dan 16 personel Basarnas Banten," kata Kabid Humas Polda Banten, Kombes Maruli Hutapea, pada Selasa (08/09).
Pencarian juga didukung kapal Basarnas KN Tetuka yang bergerak dari Dermaga Pelabuhan BBJ Bojonegara menuju wilayah perairan Carita dan selanjutnya ke lokasi pencarian.
"Kapal masih melakukan pencarian terus di laut selama tiga hari ini," tambahnya.
Pencarian Diperluas
Hingga penyisiran berakhir pada Selasa (08/09) pukul 22.12 WIB, tim SAR belum menemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang masih dalam pencarian.
Menurut Al Amrad, Tim SAR Gabungan kemudian akan memperluas area penyisiran pada Rabu (09/09).
Kantor SAR Banten juga menyiapkan dua pesawat nirawak termal atau drone termal untuk membantu pencarian delapan orang yang hilang kontak.
Koordinator Operasi SAR, Rizky Dwianto, mengatakan pencarian melalui udara menggunakan helikopter atau pesawat belum memungkinkan karena abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih menyebar.
Hingga Rabu (09/09) sore, upaya pencarian masih terus dilakukan dengan mengerahkan berbagai unsur dan sarana yang tersedia. Tim SAR Gabungan juga terus mengevaluasi kondisi di lapangan untuk menentukan strategi pencarian berikutnya.
(ameera/arrahmah.id)
