KUNAR (Arrahmah.id) - Peringatan Hari Internasional untuk Melindungi Pendidikan dari Serangan tahun 2026 ini berlangsung di tengah situasi di mana sekolah umum dan sekolah keagamaan di distrik Nari dan Dangam, Kunar—serta di provinsi-provinsi lain di dekat Garis Durand—mengalami serangan pada tahun ini.
Akibat serangan dari pihak Pakistan, 12 sekolah di berbagai wilayah Kunar mengalami kerusakan, yang berdampak pada pendidikan bagi hampir 12.000 siswa.
Faridullah, seorang warga Kunar, mengatakan: "Provinsi Kunar juga mengalami serangan terbaru dari Pakistan. Dalam serangan tersebut, Pakistan menargetkan Universitas Kunar dan sejumlah sekolah, sehingga banyak siswa kehilangan akses terhadap pendidikan. Banyak keluarga juga terpaksa mengungsi dari rumah mereka dan mendirikan tenda di sepanjang Sungai Kunar, menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan berat."
Dost Mohammad, warga Kunar lainnya, mengatakan: "Dalam serangannya, Pakistan menyasar universitas, sekolah, dan lembaga pendidikan, yang menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas pendidikan serta mengganggu proses belajar-mengajar. Meskipun keluarga yang mengungsi akibat serangan Pakistan telah kembali ke rumah dan para siswa telah melanjutkan kembali studi mereka, pertanyaan kami adalah: Mengapa sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan menjadi sasaran dalam serangan dan peperangan? Kami mendesak organisasi internasional untuk meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang melakukan serangan terhadap lembaga pendidikan serta menuntut penjelasan dari mereka."
Sekolah bukan satu-satunya fasilitas pendidikan yang rusak akibat serangan-serangan ini. Pada 28 April tahun ini, Universitas Sayed Jamaluddin Afghan di Kunar juga menjadi sasaran dan mengalami kerusakan akibat serangan pasukan Pakistan.
Warga menganggap serangan terhadap infrastruktur pendidikan selama konflik sebagai kejahatan perang dan mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk menjamin keselamatan fasilitas pendidikan serta warga sipil.
Rohullah, seorang mahasiswa di Kunar, menuturkan: "Tahun ini, ketika rezim militer Pakistan menyerang Universitas Sayed Jamaluddin Afghan di Kunar, sebuah roket menghantam langsung gedung asrama. Saat itu para mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan, dan kepanikan melanda di mana-mana. Beberapa mahasiswa terluka, kaca jendela gedung pecah berantakan, dan semua orang berteriak ketakutan lalu berlarian keluar dari lingkungan universitas."
Khater Khan, mahasiswa lainnya di Kunar, mengatakan: "Kami menyerukan agar lembaga pendidikan dan fasilitas umum tidak dijadikan sasaran selama konflik, karena tempat-tempat inilah satu-satunya sarana bagi kami untuk mengakses pendidikan dan meraih cita-cita. Pakistan telah berulang kali melanggar prinsip ini dan terus melakukan tindakan serupa." Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk tahun 2026, sebanyak 8.566 serangan terhadap infrastruktur pendidikan telah dilaporkan di seluruh dunia selama dua tahun terakhir, dibandingkan dengan 6.000 serangan pada 2022 dan 2023. (haninmazaya/arrahmah.id)
