WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Analis Aaron Y. Zelin dari Washington Institute for Near East Policy menyatakan kelompok militan Islamic State (ISIS) merencanakan serangan terhadap 'Israel' lebih sering sejak serangan kelompok perlawanan Palestina Hamas 7 Oktober 2023, tetapi intelijen 'Israel' menggagalkan hampir semuanya. Dalam artikel yang terbit di Alhurra (29/10/2026), Zelin memperingatkan ancaman itu terus bertambah, meski nyaris tidak terlihat publik.
Dilansir Alhurra (29/10), basis data Zelin tentang penangkapan terkait ISIS yang dilaporkan terbuka mencatat 46 operasi penangkapan sejak 7 Oktober 2023. Angka itu hampir menyamai 50 operasi selama 2014–2023. Dari 46 operasi itu, 28 menyangkut rencana serangan, dibanding 18 pada seluruh periode sebelum perang.
Sejumlah rencana yang digagalkan terbilang besar. Pada akhir Desember 2023, pasukan keamanan 'Israel' menangkap dua pemuda berusia 19 dan 20 tahun di Ras al-Amud, Yerusalem Timur. Mereka menyimpan bahan peledak, catatan perakitan bom, dan bendera ISIS, dan berencana meledakkan truk berisi tabung gas dekat Knesset.
Di dekat Hebron, empat orang disebut membuat sekitar 100 alat peledak untuk menyasar tentara 'Israel'. Di Taibeh, lima pria membahas bahan peledak untuk merobohkan Menara Azrieli di Tel Aviv.
Pelakunya didominasi warga Arab 'Israel'. Sekitar dua pertiga kasus sejak 7 Oktober melibatkan warga Arab 'Israel', setidaknya sembilan kasus melibatkan anak di bawah umur (termasuk usia 14 tahun), dan tersangka mencakup seorang dokter rumah sakit di Beersheba dan mantan tentara.
Kasus-kasus serupa tercatat dalam laporan lain. Polisi menangkap tiga warga Arab 'Israel' dari Arara pada Mei 2025 karena berbaiat kepada ISIS. Penyelidik menyebut mereka mendapat petunjuk perakitan bom dari ISIS di Suriah. Pada 17 Desember 2025, otoritas keamanan Israel memperingatkan peningkatan ancaman dari pendukung ISIS sejak perang dimulai.
Menurut Zelin, jaringan di luar negeri berperan. Lebih dari sepertiga kasus melibatkan tersangka yang berhubungan langsung dengan operator ISIS di luar negeri atau mencoba bergabung dengan ISIS di sana, terutama di Suriah. Hanya satu serangan mematikan terjadi sejak 7 Oktober, yakni pembunuhan remaja 'Israel' berusia 14 tahun, Benjamin Achimeir, pada April 2024 oleh pelaku terinspirasi ISIS dekat Duma. ISIS juga menyerukan serangan terhadap komunitas Yahudi lewat buletin al-Naba, termasuk pada April 2026 menjelang Paskah.
Zelin menyarankan Amerika Serikat dan 'Israel' memperlakukan ISIS sebagai ancaman tersendiri di arena 'Israel'-Palestina. Ia meminta Washington mendorong Damaskus menindak fasilitator ISIS di Suriah, dan meminta 'Israel' menggandeng pemerintah daerah, sekolah, dan tokoh agama untuk deteksi dini di kalangan pemuda Arab 'Israel'. (hanoum/arrahmah.id)
