JAKARTA (Arrahmah.id) — Polemik memanas di media sosial menyusul beredarnya gambar satir yang menampilkan lima ekor anjing yang digambarkan sedang mengikuti acara bedah buku.
Unggahan yang awalnya dikaitkan dengan akun Facebook Fatarudin Tilawa Temarwut itu menuai respons keras dari Ustadz Adi Hidayat (UAH) serta tokoh muda Nahdlatul Ulama, Gus Ajir Ubaidillah.
Meski unggahan asli di akun Facebook tersebut kini sudah tidak lagi dapat ditemukan, jejak digital dan polemiknya terlanjur memantik perhatian luas warganet.
Respons Menohok Ustadz Adi Hidayat
Melalui akun Instagram resminya @adihidayatofficial pada Jumat (9/10/2026), UAH menanggapi gambar satir tersebut dengan nada mempertanyakan keabsahannya.
Ia menilai tata letak tempat duduk dan figur yang ditampilkan dalam gambar memiliki kemiripan mencolok dengan kegiatan bedah buku Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang ia selenggarakan di Masjid Al-Furqan, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, pada 3 Oktober 2026 lalu.
"Barangkali di antara sahabat ada yang mengetahui acara bedah buku ini?" tulis UAH.
Tidak hanya itu, UAH juga menyindir gambar lain yang menggunakan tema "Power Rangers" dalam konteks serupa.
Dengan nada satir, ia meminta agar lembaga pencetak rekor turut dilibatkan jika acara semacam itu benar-benar pernah terjadi di dunia nyata.
"Bila memang dua event ini terjadi, MURI harus mencatat dan merekomendasikannya ke Guinness Book of Records. Bila tidak ditemukan, barangkali Bareskrim Polri dapat membantu melacaknya," tulis UAH menegaskan.
Hingga saat ini, belum ada keterangan pasti mengenai siapa pembuat gambar tersebut serta apa tujuan di balik penyebarannya.
Salinan unggahan yang sempat beredar sebelumnya sempat memuat kritik tajam dan narasi menuduh terhadap sejumlah ulama.
Tanggapan Gus Ajir Ubaidillah
Polemik ini turut menarik perhatian Gus Ajir Ubaidillah. Melalui akun Instagram @ajir_ubaidillah, ia mengunggah respons bernada keprihatinan dan mempertanyakan etika digital yang berkembang di tengah masyarakat.
"Beginikah Ajaran Salaf dan Sunnah?" tulis Gus Ajir dalam unggahannya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Ajir juga menyinggung berbagai dinamika yang sempat ia hadapi, mulai dari tuduhan afiliasi keagamaan hingga tantangan diskusi terbuka yang menurutnya tidak mendapat respons dari pihak-pihak terkait.
Ia menutup pesannya dengan penegasan bahwa nilai-nilai keagamaan yang ia pelajari tidak pernah mengajarkan tindakan saling merendahkan atau menebar kebencian di ruang publik.
Berawal dari Diskusi Buku Syaikh Al-Albani
Akar dari rangkaian perdebatan di dunia maya ini bermula dari kegiatan diskusi dan bedah buku biografi serta metodologi keilmuan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di Masjid Al-Furqan UPI Bandung, 3 Oktober 2026.
Acara yang mengupas tuntas pemikiran ulama hadis tersebut ternyata memicu pro dan kontra berkepanjangan yang berlanjut hingga ke media sosial.
UAH sendiri sebelumnya telah mengingatkan masyarakat agar senantiasa berhati-hati, memverifikasi kebenaran informasi, serta tidak langsung mempercayai potongan video atau narasi provokatif yang beredar tanpa memeriksa sumber dan konteks aslinya.
Hingga berita ini diturunkan, pemilik akun Facebook Fatarudin Tilawa Temarwut belum memberikan keterangan resmi terkait alasan hilangnya postingan tersebut.
(ameera/arrahmah.id)
