Memuat...

6 Brigade 'Israel' Beroperasi di Gaza, Sinyal Pendudukan Jangka Panjang?

Zarah Amala
Selasa, 5 Mei 2026 / 18 Zulkaidah 1447 10:46
6 Brigade 'Israel' Beroperasi di Gaza, Sinyal Pendudukan Jangka Panjang?
'Israel' mempertahankan kehadiran militer yang besar di Jalur Gaza (Getty)

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Laporan harian Yedioth Ahronoth pada Senin (4/5/2026) mengungkapkan bahwa enam brigade militer 'Israel' saat ini beroperasi di dalam Jalur Gaza secara bergilir. Rotasi pasukan ini dinilai sebagai indikasi kesiapan militer untuk kehadiran yang berkepanjangan dan intensif di wilayah tersebut.

Menurut laporan tersebut, militer 'Israel' terus melakukan rotasi pasukan untuk mempertahankan intensitas operasi. Brigade 205 dilaporkan baru saja menyelesaikan misi tempur intensif selama dua bulan, yang merupakan putaran keenam sejak perang dimulai pada Oktober 2023, setelah berpindah-pindah tugas antara wilayah selatan Gaza dan Lebanon selatan. Brigade Pasukan Terjun Payung (Paratroopers) dijadwalkan akan segera menggantikan brigade cadangan yang baru saja menyelesaikan tugasnya.

Para personel militer yang berpartisipasi dalam operasi di jantung Gaza melaporkan bahwa Hamas terus berupaya keras untuk membangun kembali kekuatan pasukannya.

Laporan tersebut juga mencatat perubahan strategis dalam taktik militer 'Israel'. Pos-pos pertahanan yang sebelumnya bersifat sementara kini telah diubah menjadi titik konsentrasi permanen di area antara perbatasan dan "Garis Kuning" (Yellow Line).

Puluhan titik posisi ini telah dibangun dalam beberapa bulan terakhir dengan tujuan menciptakan zona keamanan yang stabil di wilayah Gaza.

Laporan Yedioth Ahronoth menekankan bahwa kemampuan militer 'Israel' untuk mencapai kemenangan di Gaza sangat bergantung pada perkembangan di front lain, terutama di Lebanon selatan.

Kemampuan pasukan 'Israel' untuk beroperasi di luar Sungai Litani (Lebanon selatan) dan eskalasi serangan Hizbullah terhadap pemukiman serta target militer di utara 'Israel' menjadi variabel utama dalam pembagian jumlah pasukan.

Negosiasi Amerika Serikat dengan Iran juga disebut sebagai faktor krusial yang mempengaruhi kebijakan militer 'Israel'.

Laporan ini menyimpulkan bahwa kepemimpinan politik dan militer 'Israel' menyadari bahwa Gaza bukanlah medan pertempuran yang terisolasi.

'Israel'memberikan sinyal bahwa jika jalur diplomasi tidak membuahkan hasil, militer siap untuk kembali meningkatkan intensitas pertempuran di Gaza, meskipun langkah tersebut mengharuskan penarikan kembali pasukan yang kini telah dikerahkan ke Lebanon.

Sejak dimulainya perang genosida pada Oktober 2023, data menunjukkan lebih dari 72.000 warga Palestina gugur dan lebih dari 172.000 lainnya terluka. Meski kesepakatan gencatan senjata berlaku sejak Oktober 2025, 'Israel' tetap mempertahankan blokade dan serangan harian yang telah merenggut sedikitnya 832 nyawa tambahan dalam periode terakhir. (zarahamala/arrahmah.id)