GAZA (Arrahmah.id) - Seorang aktivis Palestina yang turut membantu proses pembuatan film dokumenter pemenang penghargaan No Other Land tewas ditembak oleh seorang pemukim teroris Yahudi 'Israel' di sebuah desa di Tepi Barat yang diduduki, pada Senin (28/7/2025).
Menurut laporan, Odeh Mohammad Khalil al-Hathalin (31) ditembak setelah seorang pemukim melepaskan tembakan ke arah warga Desa Umm al-Khair di Masafer Yatta, wilayah selatan Hebron. Saat itu, para warga tengah berusaha melindungi desa mereka dari sekelompok pemukim yang mencoba masuk ke tanah milik pribadi.
Dalam insiden yang sama, satu warga Palestina lainnya mengalami luka setelah dipukul dengan palu oleh seorang pemukim, sebagaimana diberitakan oleh TV Palestina.
Dalam rekaman video insiden tersebut, terlihat seorang pemukim ilegal bernama Yinon Levi, yang sebelumnya dikenai sanksi internasional karena aksi kekerasan ekstrem, bersama kelompoknya mencoba masuk ke desa dengan membawa alat berat, menurut laporan lembaga HAM 'Israel', B’Tselem.
“Beberapa warga berusaha menghalangi mereka masuk ke tanah pribadi. Levi tampak mengacungkan senjata dan menembakkannya,” jelas B’Tselem. “Seorang pemukim lainnya terlihat memukul seorang Palestina dengan alat berat itu. Al-Hathalin tertembak dan kemudian dinyatakan meninggal dunia.”
Pemukim yang terekam dalam video tersebut adalah individu yang dikenai sanksi oleh AS dan Uni Eropa pada 2024. Namun, sanksi itu dicabut setelah Presiden Donald Trump kembali menjabat tahun ini.
"Beginilah 'Israel' Menghapus Keberadaan Kami"
Para sutradara No Other Land menyampaikan duka mendalam atas kematian Al-Hathalin, yang dikenal sebagai seorang guru sekaligus ayah dari tiga anak.
“Sahabatku Awdah dibantai malam ini. Ia berdiri di depan pusat komunitas desanya saat seorang pemukim menembakkan peluru ke dadanya dan merenggut nyawanya. Beginilah cara 'Israel' menghapus keberadaan kami, satu nyawa demi satu nyawa,” tulis sutradara Palestina, Basel Adra, di X.
Jurnalis dan sutradara asal 'Israel', Yuval Abraham, juga mengunggah kabar duka: “Odeh baru saja wafat. Dibunuh.”
Dalam unggahan selanjutnya, ia mengatakan bahwa setelah membunuh Odeh, “Yinon menunjuk ke keluarganya dan menyuruh tentara menangkap empat orang dari mereka. Mereka masih dipenjara sementara Yinon hanya dikenai tahanan rumah.”
“Sebuah sistem yang menghukum korban (yang tunduk pada hukum militer) dan melindungi penembak (yang berada di bawah hukum sipil),” tambahnya.
Pembersihan Etnis yang Berkelanjutan
No Other Land adalah film dokumenter yang merekam kehidupan di bawah pendudukan 'Israel' di Masafer Yatta selama empat tahun, dari 2019 hingga 2023. Film ini menggambarkan perjuangan warga Palestina menghadapi pengusiran paksa oleh militer 'Israel' melalui pembongkaran rumah serta serangan dari para pemukim ilegal. Film ini memenangkan kategori Film Dokumenter Terbaik dalam ajang Academy Awards 2024.
Al-Hathalin adalah sepupu dari Alaa Hathalin, sesama aktivis dan penduduk Masafer Yatta. Dalam wawancaranya, Alaa berbicara tentang hidup di bawah aturan militer, realitas pengusiran harian, serta keteguhan warga dalam melawan pasukan 'Israel' dan serangan pemukim.
“Kami mengalami pembongkaran rumah dan operasi militer. Mereka tidak ingin kami tinggal di sini; mereka ingin mengusir kami dengan berbagai cara, termasuk melalui kekerasan pemukim dan pembongkaran rumah,” kata Alaa.
Ancaman Harian dari Kekerasan Pemukim
Kekerasan yang dilakukan pemukim menjadi ancaman harian di Masafer Yatta. Alih-alih melindungi warga Palestina, otoritas 'Israel' justru memfasilitasi kekerasan tersebut dengan membiarkan para pemukim bertindak sewenang-wenang tanpa hukuman.
“Para pemukim menyerang kami, sementara polisi sengaja datang terlambat, menunggu sampai para pemukim selesai melakukan perusakan. Kadang saat kami menelepon mereka, mereka bilang, ‘Mana pemukimnya? Kalian bohong,’ dan alih-alih menangkap penyerang, mereka malah menangkap kami,” ujar Alaa.
Ia juga menyebut bahwa pasukan 'Israel' sebenarnya tahu bahwa pemukim ilegal melanggar hukum, tapi tetap tidak berbuat apa-apa.
“Meski kami telah mengajukan ribuan laporan, tidak ada perubahan,” lanjutnya. “Kami tidak boleh membela diri. Kalau kami mencoba, kami yang ditangkap dan dipenjara. Inilah kenyataan hidup kami.”
Masafer Yatta merupakan salah satu contoh paling nyata dari proses pembersihan etnis di Tepi Barat yang telah berlangsung lama. Namun, warganya menolak untuk dihapus dari peta.
Di wilayah Tepi Barat lainnya pada hari Senin, seorang warga Palestina lainnya juga ditembak mati oleh pasukan Israel.
Mohammad Samer Suleiman Al-Jamal (27) ditembak di pintu masuk utara Kota Hebron (al-Khalil). Ia dibiarkan tergeletak berdarah tanpa pertolongan, sementara ambulans dilarang mendekat, demikian laporan dari kantor berita resmi Palestina, WAFA.
Kematian Al-Jamal dikonfirmasi, dan jenazahnya kemudian dibawa paksa oleh tentara 'Israel'.
Militer 'Israel' mengklaim bahwa Al-Jamal melempar batu bata ke arah tentara dalam sebuah “operasi militer” di Hebron, yang membuat mereka “terpaksa” menembak atas dasar ancaman, menurut laporan Anadolu. (zarahamala/arrahmah.id)
