GAZA (Arrahmah.id) - Brigade Syuhada Izzuddin Al-Qassam, sayap militer gerakan perlawanan Islam (Hamas), resmi merilis surat wasiat dan pesan terakhir yang ditulis oleh mendiang Panglima Kepala Staf mereka, Izzuddin Al-Haddad, sebelum ia gugur dalam serangan udara 'Israel'.
Dalam surat yang dipublikasikan melalui akun resmi Telegram Al-Qassam pada Ahad (24/5/2026), Al-Haddad meluapkan keprihatinan mendalam atas apa yang ia sebut sebagai absennya aksi nyata dari dunia Islam dan internasional dalam membantu warga Gaza secara langsung. Ia menyoroti bagaimana Jalur Gaza dibiarkan menghadapi genosida dan kelaparan sistematis selama hampir dua tahun terakhir.
Al-Haddad menambahkan bahwa respons eksternal yang terjadi sejauh ini dinilai belum sebanding dengan besarnya momentum operasi Banjir Al-Aqsha pada 7 Oktober 2023, maupun skala pembantaian massal yang tengah menghancurkan seluruh lini kehidupan di Gaza.
"Terlepas dari semua pengabaian ini, kami tidak akan pernah berputus asa. Kami akan terus berjuang, bekerja, dan mengetuk setiap pintu (perlawanan)," tulis Al-Haddad dalam manifesto terakhirnya.
Gugur Bersama Keluarga dalam Serangan Udara
Klan Al-Qassam dan Hamas sebelumnya telah mengumumkan duka cita nasional atas gugurnya Izzuddin Al-Haddad pada 16 Mei 2026 lalu akibat serangan udara fatal 'Israel' di Kota Gaza. Prosesi pemakamannya dihadiri oleh ribuan masyarakat sipil setempat.
Berdasarkan pernyataan resmi Hamas saat itu, Al-Haddad gugur bersama istrinya (Ummu Suhaib), putrinya (Noor), serta beberapa warga sipil lainnya dalam sebuah operasi pembunuhan terarget oleh militer 'Israel'. Pihak faksi menggambarkan Al-Haddad sebagai sosok yang konsisten berada di medan pertempuran guna membela tanah airnya hingga embusan napas terakhir.
Rekam Jejak Singkat Panglima Izzuddin Al-Haddad
Rekam jejak taktis Izzuddin Al-Haddad dalam struktur perlawanan ditandai oleh loyalitas jangka panjang dan kontribusi strategis yang besar. Ia telah bergabung sejak awal berdirinya gerakan Hamas pada 1987 sebagai kader awal dan secara konsisten meniti karier taktisnya di dalam struktur komando militer.
Selama perjalanannya, Al-Haddad memegang peran sentral dalam pengembangan sektor intelijen dengan mengorganisasi serta membangun Unit Al-Majd, sebuah badan intelijen internal Al-Qassam yang mengemban tugas krusial untuk melacak dan menindak jaringan mata-mata serta spionase Israel di dalam Jalur Gaza.
Puncak komando militernya tercapai ketika ia resmi ditunjuk untuk memimpin Kepala Staf Brigade Al-Qassam di tengah berkecamuknya perang defensif sengit guna menghadapi agresi militer 'Israel' pasca-peristiwa 7 Oktober 2023.
Lolos dari Berbagai Upaya Pembunuhan
Sebagai salah satu target utama intelijen 'Israel', Al-Haddad tercatat berulang kali lolos dari upaya pembunuhan selama dua dekade terakhir. Rumah tinggalnya di lingkungan Shuja'iyya pertama kali hancur dibom saat Perang Al-Furqan (2009).
Militer 'Israel' kembali mencoba mengeliminasi dirinya pada perang tahun 2012 dan 2021. Menyusul pecahnya pertempuran pada Oktober 2023, intensitas perburuan terhadap Al-Haddad semakin ditingkatkan melalui pengeboman berkali-kali ke lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyiannya, sebelum akhirnya ia dinyatakan gugur pertengahan Mei ini. (zarahamala/arrahmah.id)
