Memuat...

Asy Syaraa Buka Peluang Kesepakatan dengan 'Israel', Suriah Incar Jaminan Keamanan

Hanoum
Senin, 27 Juli 2026 / 13 Safar 1448 04:47
Asy Syaraa Buka Peluang Kesepakatan dengan 'Israel', Suriah Incar Jaminan Keamanan
Presiden Suriah Ahmad Asy Syaraa. [Foto: X]

DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa mengungkapkan bahwa pemerintahannya tengah mengupayakan kesepakatan keamanan dengan 'Israel' sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas kawasan dan menghentikan pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan Al Jazeera dan menjadi salah satu sinyal paling jelas sejauh ini mengenai kemungkinan normalisasi hubungan antara Damaskus dan Tel Aviv setelah perubahan politik besar yang terjadi di Suriah pasca-runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad.

Asy Syaraa mengatakan, seperti dilansir The Times of Israel (26/7/2026), pembicaraan antara Suriah dan 'Israel' saat ini masih berlangsung dengan melibatkan sejumlah negara mediator. Menurutnya, tujuan utama Damaskus bukanlah membangun konflik baru, melainkan mencapai pengaturan keamanan yang menjamin penghormatan terhadap kedaulatan Suriah dan mencegah eskalasi militer di masa depan.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera tersebut, Asy Syaraa menegaskan bahwa Suriah menginginkan kesepakatan yang mengembalikan situasi ke kerangka perjanjian pemisahan pasukan tahun 1974 yang selama puluhan tahun menjadi dasar stabilitas di perbatasan Dataran Tinggi Golan. Ia juga menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki kepentingan untuk terlibat dalam perang baru dengan 'Israel'.

"Kami sedang berupaya mencapai kesepakatan keamanan dengan 'Israel' melalui partisipasi beberapa negara. Konflik bukanlah kepentingan Suriah. Yang kami cari adalah keamanan, stabilitas, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara kami," kata Asy Syaraa.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya aktivitas diplomatik Suriah dengan negara-negara Barat dan regional. Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Asy Syaraa berhasil memperoleh pelonggaran sanksi internasional, memperbaiki hubungan dengan sejumlah negara Arab, serta menjalin komunikasi lebih intensif dengan Amerika Serikat dan Eropa terkait proses rekonstruksi pascaperang.

Menurut laporan Times of Israel dan Al Monitor, pembicaraan yang berlangsung saat ini tidak serta-merta mengarah pada normalisasi diplomatik penuh seperti yang dilakukan beberapa negara Arab melalui Abraham Accords. Fokus utama tahap awal masih berkisar pada mekanisme keamanan perbatasan, pencegahan bentrokan militer, dan pengurangan ketegangan di wilayah selatan Suriah.

Asy Syaraa juga menepis spekulasi bahwa Suriah akan terlibat dalam konflik baru di Lebanon atau menjadi bagian dari konfrontasi regional yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa prioritas pemerintahannya adalah membangun kembali negara yang hancur akibat perang berkepanjangan dan memulihkan kondisi ekonomi masyarakat. (hanoum/arrahmah.id)