Memuat...

Anggota DPR AS Geram Usai Ditahan 'Israel' Saat Kunjungi Tepi Barat

Hanoum
Senin, 13 Juli 2026 / 28 Muharam 1448 09:51
Anggota DPR AS Geram Usai Ditahan 'Israel' Saat Kunjungi Tepi Barat
Anggota parlemen Demokrat AS, Ro Khanna, diwawancarai oleh Reuters pada 9 Juli (kiri), dan foto yang ia unggah di akun X-nya pada 11 Juli. [Foto: Reuters]

WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Anggota DPR Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Ro Khanna, melontarkan kecaman keras terhadap militer 'Israel' (Israel Defense Forces/IDF) setelah mengaku ditahan bersama rombongannya oleh pemukim bersenjata dan tentara 'Israel' saat melakukan kunjungan ke wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Insiden yang terjadi pada Rabu (8/7/2026) di dekat desa Khirbet Zanuta, Hebron Selatan, itu memicu ketegangan baru dalam hubungan politik antara sebagian anggota Partai Demokrat AS dan pemerintah 'Israel'.

Khanna mengatakan, seperti dilansir Al Jazeera (12/7), peristiwa tersebut terjadi ketika ia melakukan kunjungan lapangan untuk melihat langsung kondisi warga Palestina yang terdampak kekerasan pemukim 'Israel'.

Menurutnya, kendaraan yang ditumpanginya dihentikan oleh sekelompok pemukim bersenjata senapan M4 buatan Amerika Serikat sebelum kemudian tentara IDF tiba di lokasi. Alih-alih membubarkan para pemukim, Khanna mengklaim pasukan 'Israel' justru ikut memblokir jalan sehingga rombongannya tidak dapat melanjutkan perjalanan selama lebih dari satu jam.

Dalam wawancara dengan media Amerika, Khanna mengaku kecewa dengan sikap aparat 'Israel 'yang menurutnya tidak melindungi delegasi resmi dari Kongres AS.

"IDF berbohong. Mereka mengatakan jalan segera dibuka, padahal kami ditahan sekitar 20 menit oleh pemukim bersenjata dan tentara Israel tidak menghentikan mereka. Pengalaman ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan yang tidak memiliki akuntabilitas dapat melahirkan budaya penindasan," kata Ro Khanna.

Khanna menjelaskan bahwa kunjungannya ke Khirbet Zanuta bertujuan melihat kondisi sebuah desa Palestina yang menurutnya telah rusak akibat serangan berulang pemukim 'Israel'.

Ia mengatakan rombongannya hanya melakukan observasi ketika sekelompok pria bertopeng membawa senjata otomatis mengepung kendaraan mereka dan menolak memberikan akses keluar. Ia menambahkan rombongan baru dapat meninggalkan lokasi setelah menghubungi Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem dan kepolisian 'Israel'.

Militer 'Israel' membantah tuduhan tersebut. Dalam pernyataan resminya, IDF menyebut pihaknya menerima laporan mengenai warga sipil 'Israel' yang memblokir kendaraan warga negara asing, kemudian segera mengirim pasukan untuk membubarkan mereka dan membuka kembali akses jalan.

IDF menegaskan tentaranya "tidak ikut memblokir jalan maupun menahan rombongan tersebut", serta menyatakan identitas pria bersenjata yang terlihat dalam video masih dalam penyelidikan.

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan oleh pemukim 'Israel' terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Organisasi hak asasi manusia dan sejumlah badan internasional dalam beberapa bulan terakhir melaporkan peningkatan serangan terhadap desa-desa Palestina, termasuk perusakan rumah, sekolah, lahan pertanian, dan intimidasi terhadap warga sipil.

Khanna menyebut apa yang ia alami merupakan gambaran langsung dari situasi yang selama ini dihadapi masyarakat Palestina di wilayah pendudukan.

Peristiwa tersebut juga memicu perdebatan di Washington mengenai hubungan Amerika Serikat dengan 'Israel'. Khanna, yang dikenal sebagai salah satu tokoh progresif Partai Demokrat, kembali menyerukan evaluasi terhadap bantuan militer Amerika Serikat kepada 'Israel' apabila pelanggaran hak asasi manusia terus terjadi.

Menurutnya, dukungan terhadap keamanan 'Israel' harus tetap disertai penghormatan terhadap hukum internasional dan perlindungan warga sipil.

Sementara itu, pemerintah 'Israel' menilai kunjungan Khanna ke Tepi Barat memiliki muatan politik dan menuduh anggota Kongres tersebut mengabaikan kesempatan untuk bertemu dengan korban serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Khanna membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa ia mengutuk terorisme sekaligus menilai perlindungan terhadap hak-hak warga Palestina tetap harus menjadi perhatian masyarakat internasional. (hanoum/arrahmah.id)