GAZA (Arrahmah.id) - Sedikitnya empat warga Palestina dilaporkan gugur pada Ahad (12/7/2026) dalam serangan udara 'Israel' yang menyasar sebuah bengkel pandai besi di lingkungan Sabra, sebelah selatan Kota Gaza.Serangan ini menambah panjang korban jiwa di tengah situasi gencatan senjata yang terus melanggar pelanggaran oleh kedua belah pihak.
Menurut sumber keamanan dan medis Palestina, sebuah pesawat nirawak (drone) militer 'Israel' menembakkan setidaknya tiga rudal ke arah bengkel tersebut. Serangan ini menyebabkan kerusakan material yang luas di area sekitar dan menyerang empat orang di lokasi kejadian, sementara setidaknya satu orang lainnya mengalami luka-luka. Para korban segera dilarikan ke rumah sakit setempat untuk mendapatkan penanganan medis.
Militer 'Israel' menyatakan bahwa bermaksud menargetkan "infrastruktur teroris" di wilayah tersebut, yang kemudian mereka klaim sebagai situs produksi senjata milik Hamas. Meski demikian, serangan ini memicu kecaman karena dampaknya meluas terhadap warga sipil di sekitar lokasi.
Selain di Kota Gaza, eskalasi militer pada hari yang sama juga tercatat terjadi di berbagai wilayah lain. Di Deir al-Balah, serangan udara 'Israel' menghantam kawasan Al-Bassa yang terletak di bagian barat kota tersebut, meskipun sejauh ini belum ada laporan mengenai korban jiwa dalam kejadian spesifik itu. Di sisi lain, wilayah Khan Yunis mengalami duka mendalam setelah seorang warga Palestina tewas akibat serangan drone 'Israel' yang secara presisi menyasar sebuah tenda pengungsian di kamp Al-Qadisiyah. Tragisnya, dampak kekerasan ini juga merenggut nyawa warga sipil tak berdosa lainnya, termasuk seorang anak perempuan berusia 9 tahun bernama Tala Abu Matar, yang dilaporkan gugur akibat tembakan militer 'Israel' di salah satu kamp pengungsian di Gaza tengah.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah terjadi sejak Oktober 2025, kejadian kekerasan di Jalur Gaza terus terjadi hampir setiap hari. Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa sedikitnya 1.098 warga Palestina telah terbunuh sejak gencatan senjata tersebut dimulai, mencerminkan kerapuhan kesepakatan yang ada.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai lembaga kemanusiaan terus menyuarakan kekhawatiran atas perluasan wilayah di bawah kendali militer 'Israel' yang dinilai semakin meningkatkan risiko terhadap warga sipil. Hambatan dalam distribusi bantuan kemanusiaan serta menghubungkan akses di perbatasan juga mengirimkan krisis kemanusiaan di wilayah yang telah hancur akibat perang selama hampir dua tahun terakhir ini. (zarahamala/arrahmah.id)
