Memuat...

Mujtaba Khamenei Terbitkan Pesan Pertama Pasca-Pemakaman, Tegaskan Janji Balas Dendam

Zarah Amala
Senin, 13 Juli 2026 / 28 Muharam 1448 12:44
Mujtaba Khamenei Terbitkan Pesan Pertama Pasca-Pemakaman, Tegaskan Janji Balas Dendam
Sebuah foto yang dirilis untuk pertama kalinya oleh media Iran menunjukkan Mujtaba Khamenei bersama ayahnya, mantan pemimpin Iran Ali Khamenei. (Foto: Media Iran)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Mujtaba Khamenei, pemimpin baru Iran, menerbitkan pesan publik besar pertamanya pasca-pemakaman sang ayah, Ali Khamenei. Dalam pernyataan bertajuk "We Must Rise" (Kita Harus Bangkit) yang dirilis pada 8 Juli, Mojtaba menegaskan komitmen Iran untuk melestarikan warisan mendiang pemimpinnya sekaligus menjanjikan pertanggungjawaban atas pembunuhan sang ayah.

Dalam pesan yang bernuansa refleksi teologis sekaligus deklarasi politik tersebut, Mujtaba menggambarkan mendiang ayahnya sebagai sosok yang meneladani prinsip perlawanan dan keteguhan Imam Hussain. Ia menegaskan bahwa pembunuhan tersebut tidak akan memicu gerakan yang dipimpin ayahnya, melainkan justru akan memperkuatnya. Ia berjanji bahwa Republik Islam Iran akan terus menempuh jalan yang telah ditetapkan oleh mendiang Ayatullah Khamenei, terlepas dari tantangan di masa depan.

Selain itu, Mujtaba menyampaikan apresiasi mendalam kepada jutaan pelayat yang memadati prosesi pemakaman di Iran dan Irak, menyebut partisipasi massa tersebut sebagai refleksi loyalitas yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap cita-cita Revolusi Islam.

Salah satu poin krusial dalam pernyataan tersebut adalah komitmen terkait aksi balasan atas serangan pada 28 Februari lalu yang membatalkan Ayatullah Khamenei beserta anggota keluarganya di Teheran. Mujtaba secara tegas menyatakan bahwa keadilan terhadap pelaku pembunuhan adalah kewajiban historis dan tuntutan nasional yang tidak terelakkan.

“Mereka yang bertanggung jawab telah diidentifikasi, dan mereka akan menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka,” ujar Mujtaba dalam pesannya. Ia menegaskan bahwa misi penyelesaian ini merupakan tanggung jawab kolektif yang melampaui masa jabatan individu pejabat mana pun, serta membingkai pembunuhan tersebut sebagai bagian dari konfrontasi luas yang melibatkan Amerika Serikat dan 'Israel' terhadap “poros perlawanan”.

Pesantren tersebut sangat kental dengan simbolisme keagamaan Syiah, yang berhubungan dengan kehidupan dan wafatnya Ayatullah Khamenei dengan narasi pengorbanan di Karbala. Mojtaba menekankan bahwa Revolusi Islam dihapuskan dari warisan spiritual tersebut, dan pembunuhan ayahnya harus dipahami dalam konteks sejarah yang sama.

Pesan ini dirilis bertepatan dengan berakhirnya serangkaian upacara pemakaman yang tercatat sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah modern Iran. Prosesi dimulai di Teheran pada 4 Juli, dilanjutkan ke kota suci Qom, serta Najaf dan Karbala di Irak, sebelum akhirnya berakhir di kota asal mendiang, Masyhad.

Puncak pemakaman dilakukan di Tempat Suci Imam Reza, di mana shalat jenazah dipimpin oleh putra sulung mendiang, Mustafa Husseini Khamenei. Kehadiran utusan dari hampir seratus negara dalam rangkaian pemakaman tersebut dinilai oleh para pengamat sebagai bentuk kohesi nasional dan solidaritas regional di tengah ketegangan militer yang terus meningkat di Timur Tengah. (zarahamala/arrahmah.id)