Memuat...

AS dan Iran Sama-Sama Klaim Menang, Tapi Diam-Diam Terjebak dalam Kerugian Besar

Samir Musa
Jumat, 5 Juni 2026 / 20 Zulhijah 1447 15:26
AS dan Iran Sama-Sama Klaim Menang, Tapi Diam-Diam Terjebak dalam Kerugian Besar
Konfrontasi Amerika Serikat dan Iran terus memanas, di tengah klaim kemenangan masing-masing pihak yang justru menyembunyikan kerugian besar di baliknya (AI/Arrahmah.id)

LONDON (Arrahmah..id) – Sebuah analisis yang dimuat di media Inggris The Guardian mengungkap paradoks dalam konflik yang terus berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara dinilai sama-sama merasa berada di posisi menang, padahal kenyataannya keduanya justru menanggung kerugian yang semakin besar.

Penulis artikel, Sanam Vakil—Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di lembaga riset Chatham House—menyebut bahwa baik Washington maupun Teheran terus bertindak seolah mereka memperoleh keuntungan strategis dari konfrontasi yang terjadi. Namun di balik itu, keduanya menghadapi tekanan politik, ekonomi, dan strategis yang kian meningkat.

Menurutnya, gencatan senjata yang mulai berlaku pada 8 April lalu tidak benar-benar membawa stabilitas. Situasi di lapangan justru diwarnai gelombang eskalasi baru, termasuk serangan Amerika terhadap target Iran serta respons Teheran yang menyasar wilayah Kuwait dan Bahrain. Di saat yang sama, Israel juga meningkatkan operasi militernya di Lebanon.

Meski kedua pihak sejauh ini berhasil menghindari perang terbuka, kondisi yang berlangsung dinilai berpotensi berubah menjadi kebuntuan berkepanjangan dengan dampak luas di kawasan dan dunia.

Empat Hambatan Utama

Vakil mengidentifikasi empat faktor utama yang menghambat tercapainya solusi politik.

Pertama, krisis kepercayaan. Iran tidak meyakini bahwa Presiden AS Donald Trump mampu memberikan jaminan kesepakatan jangka panjang. Teheran khawatir tuntutan Washington akan terus berkembang, dari isu nuklir hingga menyentuh program rudal dan kebijakan regional.

Kedua, ketiadaan komunikasi langsung yang efektif. Sejak pertemuan terbatas di Islamabad antara pejabat tinggi kedua negara pada April lalu, belum ada jalur komunikasi yang mampu menghasilkan kesepahaman konkret.

Ketiga, perbedaan tujuan yang tajam. Iran menuntut kejelasan dan jaminan konkret, termasuk pencabutan sanksi dan mekanisme implementasi yang pasti. Sebaliknya, Trump disebut lebih menginginkan kesepakatan cepat yang dapat dijual sebagai kemenangan politik.

Keempat, dinamika politik domestik di kedua negara. Di Amerika Serikat, setiap kesepakatan dengan Iran berpotensi mendapat tentangan keras dari berbagai kubu politik. Sementara di Iran, kompromi setelah periode konflik dapat dianggap sebagai bentuk kelemahan, terutama oleh generasi politik baru.

Ilusi Kemenangan

Lebih jauh, artikel tersebut menyoroti bahwa kedua pihak sama-sama meyakini waktu berada di pihak mereka.

Iran merasa berhasil bertahan dari tekanan Amerika dan sekutunya, serta menganggap posisinya semakin kuat dengan kemampuan menekan jalur strategis seperti Selat Hormuz. Di sisi lain, Amerika Serikat melihat dirinya unggul secara militer dan berhasil melemahkan jaringan sekutu Iran di kawasan.

Namun, Vakil menilai persepsi ini menyesatkan.

Kerugian yang Kian Nyata

Amerika Serikat menghadapi beban politik dan ekonomi yang meningkat. Ketidakstabilan yang terus berlangsung membuat pasar energi global tetap dalam ketidakpastian dan meningkatkan risiko terhadap sekutu-sekutunya di kawasan Teluk.

Sementara itu, Iran meski bertahan, mengalami tekanan ekonomi berat. Tingkat inflasi dilaporkan melonjak hingga sekitar 77 persen pada Mei, disertai melemahnya nilai mata uang nasional. Selain itu, dampak dari gelombang protes domestik sebelumnya masih membayangi situasi internal negara tersebut.

Peluang yang Masih Terbuka

Meski situasi tampak buntu, Vakil menegaskan bahwa peluang untuk meredakan ketegangan masih ada. Namun, hal itu mensyaratkan adanya komunikasi langsung yang lebih efektif, peta jalan yang jelas, serta kesiapan kedua pihak untuk melakukan kompromi nyata.

Tanpa langkah tersebut, gencatan senjata yang ada hanya akan menjadi jeda sementara dalam konflik panjang yang merugikan semua pihak.

(Samirmusa/arrahmah.id)