Memuat...

AS - Iran Sepakat Perpanjang Gencatan Senjata 60 Hari, Menunggu Restu Trump

Hanoum
Sabtu, 30 Mei 2026 / 14 Zulhijah 1447 04:45
AS - Iran Sepakat Perpanjang Gencatan Senjata 60 Hari, Menunggu Restu Trump
Foto ilustrasi. [Foto: X]

WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari sebagai bagian dari upaya meredakan konflik yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Namun, nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) tersebut masih menunggu persetujuan akhir Presiden AS Donald Trump sebelum dapat diberlakukan secara resmi.

Kesepakatan itu dicapai melalui perundingan intensif antara tim negosiator Washington dan Teheran yang berlangsung dengan melibatkan sejumlah mediator regional. Berdasarkan rancangan perjanjian yang beredar, kedua negara sepakat mempertahankan penghentian sementara aksi militer selama dua bulan sambil membuka jalan bagi pembahasan yang lebih luas mengenai program nuklir Iran, keamanan kawasan, dan stabilitas jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Menurut laporan Reuters dan Axios (28/5/2026), para perunding dari kedua pihak telah menyelesaikan sebagian besar poin kesepakatan. Salah satu fokus utama dalam masa gencatan senjata baru tersebut adalah pembahasan stok uranium yang diperkaya Iran, isu yang selama ini menjadi sumber ketegangan utama antara Washington dan Teheran. Selain itu, terdapat pembicaraan mengenai kemungkinan pelonggaran sanksi ekonomi dan akses Iran terhadap sebagian asetnya yang dibekukan di luar negeri.

Meski demikian, Presiden Donald Trump belum memberikan persetujuan final. Sejumlah pejabat AS menyebut Trump masih melakukan evaluasi terhadap isi kesepakatan sebelum memutuskan apakah perjanjian tersebut akan disahkan atau tidak. Pada Kamis (28/5), Trump bahkan menggelar pertemuan penting bersama para penasihat keamanan nasionalnya di Situation Room Gedung Putih untuk membahas langkah selanjutnya terkait Iran.

Wakil Presiden AS JD Vance mengakui bahwa proses negosiasi memang menunjukkan kemajuan, tetapi belum sepenuhnya selesai.

“Kami sudah sangat dekat, tetapi kami belum sampai di titik itu,” ujar JD Vance mengenai peluang tercapainya kesepakatan permanen dengan Iran.

Sementara itu, sumber diplomatik yang mengetahui jalannya pembicaraan mengatakan perjanjian sementara tersebut juga mencakup upaya menjamin kelancaran pelayaran internasional di Selat Hormuz. Jalur laut strategis itu menjadi perhatian utama karena sempat mengalami gangguan akibat meningkatnya ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat yang berdampak pada perdagangan energi global.

Dalam rancangan kesepakatan yang dibahas, Iran disebut diminta memastikan keamanan pelayaran dan menghapus berbagai hambatan yang mengganggu lalu lintas kapal di kawasan tersebut. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat membuka peluang untuk membahas pengurangan tekanan ekonomi terhadap Teheran melalui mekanisme perundingan lanjutan.

Perundingan terbaru ini berlangsung setelah beberapa bulan diwarnai bentrokan militer, serangan balasan, dan ketegangan terkait program nuklir Iran. Bahkan di tengah proses diplomasi yang sedang berlangsung, kedua negara masih terlibat insiden keamanan yang memicu kekhawatiran internasional bahwa gencatan senjata dapat sewaktu-waktu runtuh. Washington sebelumnya melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran yang disebut mengancam pasukan AS, sementara Teheran menuduh tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap semangat gencatan senjata.

Media internasional melaporkan bahwa rancangan kesepakatan baru juga telah dibagikan kepada sejumlah sekutu utama Amerika Serikat, termasuk Israel. Namun beberapa bagian dari proposal tersebut memunculkan perdebatan karena dianggap terlalu lunak terhadap Iran, khususnya terkait isu nuklir dan pelepasan aset yang dibekukan.

Meski masih menghadapi berbagai hambatan politik dan diplomatik, kesepakatan 60 hari ini dipandang sebagai peluang penting untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Apabila disetujui Trump dan diterima penuh oleh kepemimpinan Iran, perjanjian tersebut dapat menjadi dasar bagi negosiasi jangka panjang yang bertujuan mengurangi ketegangan antara dua negara yang selama puluhan tahun berada dalam hubungan penuh permusuhan.(hanoum/arrahmah.id)