Memuat...

Bebas Setelah Sepekan Ditahan, Dua Bocah Palestina Kisahkan Brutalnya Penyiksaan di Penjara 'Israel'

Zarah Amala
Kamis, 6 Agustus 2026 / 23 Safar 1448 11:30
Bebas Setelah Sepekan Ditahan, Dua Bocah Palestina Kisahkan Brutalnya Penyiksaan di Penjara 'Israel'
Kedua anak tersebut, Wasif (kanan) dan Muhammad, menceritakan kisah tentang para penjaga penjara 'Israel' yang menyiksa anak-anak selama penahanan mereka (Al Jazeera).

NABLUS (Arrahmah.id) - Setelah sepekan mendekam di balik jeruji besi penjara pendudukan 'Israel', dua kakak beradik, Wasef dan Mohammad Abu Al-Saud, akhirnya dapat kembali berkumpul bersama keluarga di rumah mereka. Namun, kepulangan tersebut bukanlah akhir dari segalanya, trauma mendalam dan bayang-bayang masa penahanan meninggalkan bekas psikologis yang tak mudah dihapus bagi kedua bocah di bawah umur tersebut.

Dalam penuturannya kepada Al Jazeera, kedua anak asal desa Beit Furik, sebelah timur Nablus, Tepi Barat utara, menceritakan detik-detik penangkapan mereka sepekan lalu, ketika pasukan 'Israel' mendatangkaangi rumah keluarga mereka pada tengah malam dan mencokok keduanya bersama sang ayah.

Mohammad (13) mengenang betapa mencekamnya malam itu. "Kami terbangun oleh suara tentara di dalam rumah. Saya tidak mengerti apa yang terjadi. Kami sangat ketakutan, dan rasa syok itu jauh melampaui apa yang bisa kami bayangkan," ujarnya. Sang kakak, Wasef (14), menambahkan bahwa ketidakpastian usai digelandang dari rumah membuat hari-hari mereka diliputi rasa takut yang luar biasa.

Selama sepekan di dalam tahanan, hari-hari yang dilalui bukanlah waktu yang singkat bagi anak seusia mereka. Keduanya mengeluhkan perlakuan buruk, kekerasan fisik oleh para tentara terhadap para tahanan, krisis gizi, serta wabah penyakit yang mengancam di dalam sel.

Salah satu momen paling merendahkan dan traumatis diungkapkan oleh Mohammad, yang mengalami nasib serupa dengan kakaknya. "Salah satu hal paling berat yang saya alami adalah ketika tentara mencukur habis rambut kepala saya setelah memasukkan kepala saya ke dalam tempat sampah. Saya merasa saat itu mereka sedang merampas martabat kami, bukan sekadar kebebasan," kenangnya. Mereka terus-menerus menghitung hari dan menanyakan kepastian pembebasan, namun hanya dijawab dengan kebisuan.

Saat gerbang kebebasan akhirnya terbuka, tangis haru pecah. "Ketika saya melihat keluarga saya, saya merasa hidup kembali," ucap Mohammad. Meski demikian, Wasef mengakui bahwa kengerian di dalam penjara masih menghantui ingatan mereka, terutama saat malam tiba dan rasa takut kembali menyergap.

Meski telah bebas, pikiran kedua bocah ini masih tertuju pada kawan-kawan sebayanya yang tertinggal di dalam penjara. "Kami sudah keluar, tetapi masih banyak anak-anak lain yang menunggu momen kebebasan mereka. Saya berharap mereka semua bisa kembali ke keluarga masing-masing. Tempat anak-anak seharusnya adalah di sekolah, rumah, dan taman bermain, bukan di dalam sel penjara," tegas Mohammad.

Berdasarkan data dari Palestinian Prisoners’ Club, saat ini tercatat tidak kurang dari 350 anak-anak dan remaja di bawah umur yang mendekam di berbagai penjara pendudukan 'Israel', termasuk fasilitas penahanan Ofer, Damon, dan Megiddo. (zarahamala/arrahmah.id)