Memuat...

Menangis, Ed Sheeran Merasa Ditinggalkan Pasca Polemik Gaza

Hanoum
Selasa, 22 September 2026 / 11 Rabiulakhir 1448 05:59
Menangis, Ed Sheeran Merasa Ditinggalkan Pasca Polemik Gaza
Ed Sheeran. [Foto: Getty Images]

PHILADELPHIA (Arrahmah.id) -- Ed Sheeran mengaku merasa “ditinggalkan” oleh teman, keluarga, dan orang-orang yang dikenalnya ketika polemik mengenai Gaza dan Palestina menyeret tur konsernya di Amerika Serikat. Pernyataan emosional itu disampaikan Sheeran saat tampil di Lincoln Financial Field, Philadelphia, Sabtu malam (19/9/2026) waktu setempat, dalam konser pertamanya setelah rapper Macklemore dikeluarkan dari rangkaian tur The Loop.

Dilansir Al Jazeera (20/9), Sheeran mengatakan dirinya menghadapi tekanan agar membatalkan konser tersebut. Di hadapan sekitar 50.000 penonton, ia menyebut situasi itu membuatnya merasa teman dan keluarganya menjauh. Ia kemudian mengatakan bahwa melihat puluhan ribu penonton tetap hadir memberinya perasaan bahwa masih banyak orang yang mendukungnya.

Pernyataan itu muncul setelah tur Amerika Serikat Sheeran dilanda kontroversi menyusul keputusan mengeluarkan Macklemore sebagai penampil pembuka. Macklemore sebelumnya menyampaikan dukungan terhadap Palestina dan menyerukan “Free Palestine” dalam penampilannya di MetLife Stadium, New Jersey, pada awal September. Setelah itu, sejumlah pengelola stadion yang menjadi lokasi konser berikutnya menyatakan keberatan terhadap kehadirannya.

Sheeran kemudian membantah bahwa dirinya yang secara langsung memutuskan mengeluarkan Macklemore. Dalam pernyataan di Instagram pada 15 September, penyanyi Inggris tersebut mengatakan keputusan itu berasal dari promotor tur setelah sejumlah venue menyatakan tidak akan menyelenggarakan konser jika Macklemore tetap tampil.

Sheeran mengatakan dirinya menghargai Macklemore sebagai seniman dan menyetujui keikutsertaannya dalam tur tersebut sejak tahun sebelumnya.

Polemik semakin besar setelah sejumlah artis pendukung memilih meninggalkan tur Sheeran. The Guardian melaporkan empat penampil pendukung kemudian mengundurkan diri dan menyatakan dukungan kepada Palestina. Band pengiring Sheeran juga termasuk yang meninggalkan rangkaian pertunjukan tersebut.

Dalam konser tersebut, Sheeran juga secara terbuka berbicara mengenai perang Israel-Palestina. Ia mengatakan serangan 7 Oktober 2023 di Israel merupakan peristiwa yang “mengerikan”, tetapi menyebut kondisi yang terjadi di Gaza sebagai “katastropik dan tidak dapat dibenarkan”.

Ia mengatakan penderitaan warga sipil dan anak-anak di Gaza telah membuat dirinya terpukul. Pernyataan itu menandai perubahan dari sikapnya sebelumnya yang cenderung menghindari pernyataan publik mengenai konflik tersebut.

Sebelumnya, Sheeran mengatakan dirinya tidak ingin menjadi musisi aktivis politik karena ingin konsernya berfokus pada persatuan dan kemanusiaan. Namun, dalam pernyataan terbarunya, ia mengatakan konflik tersebut telah membuatnya berada di tengah perdebatan mengenai kebebasan berbicara dan isu politik yang sangat kompleks. Ia juga meminta maaf kepada penonton dan mengakui bahwa dalam menghadapi situasi tersebut dirinya telah mengambil keputusan yang sulit dan membuat sejumlah kesalahan.

Kontroversi tersebut tidak hanya terjadi di dalam tur Sheeran. Sebelum konser Philadelphia dimulai, kelompok pro-Palestina menggelar aksi di sekitar Lincoln Financial Field dan menyerukan boikot terhadap konser-konser Sheeran. ABC News melaporkan sebuah kelompok yang mendukung boikot budaya terhadap Israel juga memperluas seruannya agar artis, penggemar, dan kru tidak menghadiri konser Sheeran di sejumlah negara. (hanoum/arrahmah.id)