YERUSALEM (Arrahmah.id) - Menteri Keamanan Nasional 'Israel' Itamar Ben-Gvir menyiapkan rencana bernama Disengagement 710 untuk memindahkan sekitar 1,86 juta warga Palestina dari Jalur Gaza dalam tujuh tahun.
Menurut Yedioth Ahronoth, rencana yang disebut sebagai “migrasi sukarela” itu menargetkan 250 ribu orang meninggalkan Gaza pada tahun pertama, 1,11 juta dalam tiga tahun, dan 1,86 juta dalam tujuh tahun.
Rencana tersebut mencakup penyediaan negara tujuan, status hukum, visa, biaya perjalanan, tempat tinggal awal, pelatihan kerja, bantuan pekerjaan, serta dukungan hingga 24 bulan bagi warga yang meninggalkan Gaza.
'Israel' diperkirakan membutuhkan investasi awal 3,1 miliar dolar AS, dengan kerangka pendanaan hingga 15,6 miliar dolar, bergantung pada dukungan internasional dan kesediaan negara penerima.
Ben-Gvir juga berencana menjadikan rencana itu sebagai syarat bagi partainya, Otzma Yehudit, untuk bergabung dengan pemerintahan 'Israel' berikutnya. Ia mengusulkan pembentukan kementerian khusus untuk menangani apa yang disebutnya “migrasi sukarela”.
Namun, kendala utama rencana tersebut adalah belum ada negara yang menyatakan kesediaan menerima warga Palestina dari Gaza dalam jumlah besar. 'Israel' sebelumnya disebut telah melakukan pembicaraan dengan sejumlah negara, termasuk Ethiopia, Kongo, dan Somaliland.
Menteri Pertahanan 'Israel' Israel Katz pada Rabu (2/9/2026) mengatakan rencana pemindahan warga Palestina dari Gaza belum dibatalkan, tetapi masih dibekukan. Ia menyebut 'Israel' siap mengeluarkan warga Palestina melalui laut, udara, dan berbagai cara lainnya.
Sementara itu, Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu menegaskan 'Israel' tidak akan menarik diri dari Gaza. Ia mengklaim pasukan 'Israel' menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza dan akan tetap berada di kawasan tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)
