Memuat...

Al Nujaba Ancam AS: Tinggalkan Irak atau Pulang dalam Peti Mati

Hanoum
Jumat, 4 September 2026 / 23 Rabiulawal 1448 04:24
Al Nujaba Ancam AS: Tinggalkan Irak atau Pulang dalam Peti Mati
Akram al-Kaabi. [Foto: ejazira]

BAGHDAD (Arrahmah.id) -- Harakat Hezbollah al-Nujaba, milisi Syiah Irak yang didukung Iran, mengancam akan menyerang pasukan Amerika Serikat yang masih berada di Irak setelah batas waktu penarikan pada 30 September 2026. Ancaman itu disampaikan Sekretaris Jenderal Al-Nujaba, Akram al-Kaabi, ketika tenggat penarikan pasukan AS semakin dekat dan ketegangan Washington-Teheran kembali meningkat akibat konflik di kawasan.

Al-Kaabi mengatakan Al-Nujaba telah bersiap menghadapi apa yang disebutnya sebagai konfrontasi menentukan apabila seluruh pasukan AS tidak meninggalkan wilayah darat dan udara Irak pada tenggat tersebut. Ia bahkan memperingatkan bahwa keberadaan satu saja tentara AS setelah 30 September akan memicu respons kelompoknya.

“Jika bahkan satu tentara tetap berada di Irak setelah tanggal tersebut, kami tidak akan membiarkannya kembali dengan selamat dan akan mengirimkan jasadnya,” kata Akram al-Kaabi, sebagaimana dikutip Iran International (3/9/2026).

Al-Kaabi sekaligus menyerang Presiden AS Donald Trump dengan mengatakan bahwa Washington tidak akan memperoleh kemenangan di Irak. Ia menyebut Trump sebagai pihak yang berkhayal dapat memenangkan perang di Irak setelah gagal mengalahkan Iran.

“Trump, yang tidak mampu mengalahkan Iran, sekarang berkhayal dapat mencapai kemenangan di Irak,” ujar Al-Kaabi menurut laporan yang dikutip Iran International.

Ancaman tersebut berkaitan langsung dengan rencana penarikan militer AS dari Irak. Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi sebelumnya mengatakan kepada Trump bahwa seluruh pasukan AS dijadwalkan meninggalkan Irak paling lambat 30 September. Trump pada pertemuan di Gedung Putih juga mengatakan Amerika Serikat tidak lagi merasa membutuhkan keberadaan militer dalam jumlah besar di Irak.

Sebelumnya, sekitar 2.500 tentara AS ditempatkan di Irak dalam misi melawan kelompok militan Islamic State (ISIS) dan memberikan dukungan kepada pasukan keamanan Irak. Jumlah tersebut telah berkurang dalam beberapa bulan terakhir seiring perubahan kerja sama keamanan Washington-Baghdad. Penarikan pasukan menjadi bagian dari kesepakatan yang lebih luas mengenai perubahan hubungan militer kedua negara.

Namun, tenggat penarikan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Dalam beberapa hari terakhir, Washington dan Tehran kembali terlibat dalam pertukaran serangan setelah periode relatif tenang. Pasukan dan fasilitas AS di sejumlah negara kawasan menjadi sasaran serangan Iran, sementara Washington melancarkan serangan terhadap sasaran militer Iran.

Irak berada dalam posisi yang sangat sensitif karena sejumlah kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dekat dengan Iran beroperasi di dalam struktur keamanan negara maupun di luar struktur resmi tersebut.

Laporan Combating Terrorism Center di West Point menyebut kelompok-kelompok Iraqi muqawama atau “resistance” yang didukung Iran memiliki kemampuan melakukan serangan terhadap kepentingan AS dan sebelumnya telah menyerang pangkalan Amerika di Irak, Suriah, serta kawasan lainnya.

Harakat Hezbollah al-Nujaba merupakan salah satu milisi Syiah yang paling keras menentang kehadiran AS. Pemerintah Amerika Serikat telah menetapkan Al-Nujaba dan Akram al-Kaabi sebagai Specially Designated Global Terrorists. Penetapan tersebut dilakukan Washington pada 2019 berdasarkan dugaan keterlibatan kelompok dan pemimpinnya dalam aktivitas kekerasan serta ancaman terhadap kepentingan AS. (hanoum/arrahmah.id)