WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut gagasan menjadikan Suriah sebagai jalur alternatif bagi distribusi energi dan barang yang selama ini bergantung pada Selat Hormuz. Dukungan itu disampaikan Trump melalui unggahan di media sosialnya pada Kamis (3/9/2026), setelah membaca laporan The Washington Post mengenai upaya pemerintahan Presiden Suriah Ahmad asy-Syaraa memposisikan negaranya sebagai koridor energi dari kawasan Teluk menuju Laut Mediterania.
“Ini SANGAT BAGUS! Suriah sedang menawarkan dirinya sebagai alternatif bagi Selat Hormuz,” tulis Donald Trump dalam unggahannya, seperti dikutip The Washington Post (6/9).
Gagasan tersebut muncul setelah perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran mengganggu lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz. Kondisi itu mendorong negara-negara penghasil minyak dan perusahaan perdagangan mencari jalur alternatif agar ekspor energi tetap dapat mencapai pasar internasional. Suriah melihat posisi geografisnya sebagai peluang untuk menjadi penghubung antara Irak dan negara-negara Teluk dengan pelabuhan-pelabuhan di pesisir Mediterania.
Salah satu bukti awal jalur alternatif itu telah berjalan sejak April 2026. Sekitar 5.000 truk pengangkut minyak setiap hari dilaporkan bergerak dari kilang-kilang di Irak selatan menuju pelabuhan Baniyas di pantai Mediterania Suriah. Pada awalnya, pengiriman tersebut merupakan percobaan yang dilakukan eksportir minyak Irak untuk menghindari Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik.
Pemerintah Suriah kemudian berusaha mengubah jalur darat tersebut menjadi sistem transportasi energi yang lebih permanen. Salah satu rencana utamanya adalah menghidupkan kembali jaringan pipa minyak yang menghubungkan Kirkuk di Irak dengan Baniyas di Suriah. Jalur tersebut sudah memiliki sejarah sejak 1952, tetapi membutuhkan rehabilitasi besar sebelum dapat kembali digunakan untuk mengangkut minyak dalam volume besar.
Rencana yang lebih ambisius adalah pembangunan kembali jalur pipa dari Basra di Irak selatan menuju Baniyas. Pemerintahan Trump disebut telah memberikan dukungan terhadap proyek yang diperkirakan memiliki kapasitas hingga 2 juta barel minyak mentah per hari. Panjang jalur yang direncanakan mencapai sekitar 1.000 mil dengan nilai investasi sekitar US$5,7 miliar.
Wakil Kepala Syrian Petroleum Corporation, Ahmad Qubbaji, mengatakan proyek tersebut mendapat dukungan keamanan dari Amerika Serikat dan tengah dibahas bersama sejumlah investor. “Ini adalah proyek Amerika,” kata Qubbaji dalam wawancara dengan The Washington Post.
Menurut Qubbaji, peluang pengembangan koridor energi Suriah tidak hanya terbatas pada minyak Irak. Qatar disebut telah menunjukkan ketertarikan terhadap kemungkinan memperpanjang jaringan pipa menuju Suriah. Jalur tersebut juga berpotensi menarik negara-negara Teluk lain seperti Kuwait yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.
Suriah juga memiliki kepentingan ekonomi langsung dari proyek tersebut. Setelah bertahun-tahun mengalami perang dan sanksi internasional, pemerintahan baru di bawah Ahmad asy-Syaraa berupaya mengintegrasikan kembali negara itu ke dalam perekonomian regional. Posisi Baniyas sebagai pelabuhan Mediterania dapat menjadikan Suriah sebagai titik transit energi dari Irak dan kawasan Teluk menuju Eropa serta pasar lainnya.
Namun, pembangunan koridor energi tersebut menghadapi sejumlah persoalan. Analis memperingatkan bahwa pipa yang melintasi wilayah Suriah tetap rentan terhadap serangan kelompok bersenjata dan membutuhkan jaminan keamanan jangka panjang. Selain itu, investasi bernilai miliaran dolar berisiko kehilangan daya tarik apabila lalu lintas melalui Hormuz kembali normal dan perusahaan energi tidak lagi membutuhkan jalur alternatif tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
