Memuat...

Saudi Murka, Dua Tanker Dihantam Iran di Selat Hormuz

Hanoum
Jumat, 4 September 2026 / 23 Rabiulawal 1448 04:02
Saudi Murka, Dua Tanker Dihantam Iran di Selat Hormuz
Foto ilustrasi. [Foto: AP]

RIYADH (Arrahmah.id) -- Arab Saudi mengecam Iran setelah tanker minyak milik perusahaan pelayaran nasionalnya, Sidr, diserang saat melintasi Selat Hormuz dan menyebabkan dua pelaut asal Filipina tewas. Serangan terhadap kapal yang dioperasikan Bahri itu terjadi pada Senin (31/9/2026) malam, ketika ketegangan antara Iran, Amerika Serikat dan negara-negara Teluk kembali meningkat.

Bahri mengonfirmasi, seperti dilansir Reuters (3/9), Sidr mengalami insiden keamanan sekitar pukul 23.40 waktu setempat pada 31 Agustus saat sedang berlayar di Selat Hormuz. Dua awak kapal berkewarganegaraan Filipina meninggal akibat insiden tersebut.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi kemudian secara resmi menyatakan bahwa Sidr menjadi sasaran serangan Iran. Riyadh juga mengecam serangan Iran terhadap Yordania, Bahrain dan Kuwait yang terjadi dalam eskalasi konflik terbaru. Saudi menyatakan dukungan terhadap negara-negara tersebut untuk melindungi keamanan dan kedaulatan masing-masing.

“Kerajaan menekankan perlunya menghentikan eskalasi serta menghormati keselamatan pelayaran internasional dan keamanan pasokan energi global,” kata Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dalam pernyataannya, sebagaimana dikutip Reuters.

Insiden Sidr terjadi ketika dua supertanker yang membawa minyak mentah Saudi dilaporkan terkena proyektil hanya berselang beberapa menit pada Senin malam. Kapal lainnya, Senegal Prosperity berbendera Liberia, juga diserang ketika melewati Selat Hormuz. Kedua kapal sebelumnya memuat sekitar 2 juta barel minyak mentah dari terminal Juaymah, Arab Saudi.

Laporan Wall Street Journal menyebut kedua kapal dihantam saat melintasi koridor pelayaran yang dibentuk untuk mengurangi risiko serangan Iran. Belum ada kelompok yang secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kedua kapal tersebut. Namun, dugaan terhadap Iran menguat karena Tehran sebelumnya mengancam kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz tanpa izin dan telah terjadi serangkaian serangan terhadap pelayaran komersial di kawasan itu.

Iran sendiri memberikan versi berbeda mengenai insiden maritim tersebut. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan dua kapal tanker terkena ranjau laut dan mengalami kerusakan ketika berusaha melewati Selat Hormuz. Pernyataan tersebut berbeda dengan tuduhan Arab Saudi yang menyebut Sidr diserang Iran.

Serangan tersebut menambah tekanan terhadap keamanan Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum konflik terbaru membawa sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan pelayaran di kawasan itu telah menyebabkan jumlah kapal yang melintas turun tajam.

Menurut laporan The National yang mengutip data IMO, sedikitnya 70 serangan maritim telah terverifikasi dan 19 pelaut tewas hingga akhir Agustus. Sekitar 400 kapal dengan kurang lebih 6.000 awak juga disebut mengalami kesulitan meninggalkan kawasan Teluk secara aman.

Direktur Jenderal IMO Arsenio Dominguez memperingatkan dampak luas dari kondisi tersebut. “Ribuan pelaut di kawasan ini terus hidup dan bekerja dalam kondisi risiko dan ketidakpastian yang meningkat,” kata Dominguez. (hanoum/arrahmah.id)