NEW YORK (Arrahmah.id) — Wali Kota New York Zahran Mamdani memutuskan untuk sementara melarang penggunaan aplikasi kecerdasan buatan (AI) bagi siswa sekolah dasar dan menengah pertama selama tahun ajaran mendatang.
Dilansir dari Al Jazeera (3/9/2026) dan sejumlah kantor berita, kebijakan tersebut akan berlaku selama satu tahun dan menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh mengenai bagaimana anak-anak berinteraksi dengan teknologi AI generatif di lingkungan sekolah.
Larangan tersebut mencakup berbagai aplikasi AI dan disebut sebagai salah satu kebijakan paling luas terkait penggunaan teknologi tersebut di sekolah-sekolah Amerika Serikat.
Di sisi lain, Pemerintah Kota New York akan menyelenggarakan pelajaran literasi AI sebanyak dua kali dalam setahun bagi seluruh siswa sekolah menengah atas. Pemerintah kota juga menyiapkan sejumlah program percontohan yang memungkinkan sebagian siswa SMA menggunakan platform AI tertentu dalam jumlah terbatas.
Mamdani juga secara khusus melarang penggunaan aplikasi "teman digital" berbasis AI di seluruh jenjang pendidikan. Aplikasi semacam ini memungkinkan pengguna berinteraksi dengan chatbot yang dapat menghasilkan respons emosional, romantis, bahkan seksual.
Sebelumnya, distrik pendidikan Salamanca di New York menghentikan rencana integrasi sebuah robot berbasis AI yang dirancang khusus untuk berinteraksi dengan siswa dan terhubung dengan platform pengelolaan pendidikan, menurut laporan The Guardian.
Kebijakan Mamdani mencerminkan kekhawatiran pemerintah kota dan para orang tua terhadap dampak penggunaan AI terhadap anak-anak.
"Kita mengajarkan anak-anak di sekolah untuk mengajukan pertanyaan, mempertanyakan asumsi, dan mencari tahu alasannya. Ketika menyangkut AI, kita memiliki kewajiban untuk melakukan hal yang sama," ujar Mamdani dalam konferensi pers.

Orang Tua Khawatir Dampak AI
Kekhawatiran terhadap penggunaan AI oleh anak juga tercermin dalam sebuah survei yang dilakukan American Families and Technology Institute.
Survei yang dilaksanakan oleh GQR dan American Viewpoint pada Oktober 2025 tersebut melibatkan sekitar 800 orang tua yang terdaftar dalam daftar pemilih di Amerika Serikat.
Hasilnya menunjukkan bahwa 61 persen orang tua menilai AI secara umum berdampak buruk bagi anak-anak. Hanya sekitar 20 persen responden yang menganggap AI memberikan dampak positif bagi anak-anak dan remaja.
Aplikasi "teman digital" menjadi salah satu sumber kekhawatiran terbesar. Orang tua menyoroti kemampuan aplikasi tersebut menghasilkan percakapan romantis atau seksual yang tidak sesuai untuk anak, sementara mekanisme pengawasan terhadap aplikasi tersebut dinilai belum memadai.
Sebanyak 42 persen orang tua yang mengikuti survei juga mengatakan bahwa anak-anak mereka telah membentuk ikatan emosional yang kuat dengan chatbot berbasis AI.

Apa Kata Para Ilmuwan?
Penggunaan AI dalam pendidikan anak masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Sebagian melihat teknologi tersebut berpotensi memberikan manfaat bagi proses belajar, sementara pihak lain memperingatkan risiko terhadap perkembangan intelektual dan sosial anak.
Ying Xu, asisten profesor di Harvard Graduate School of Education, mengatakan anak-anak pada dasarnya dapat belajar dengan baik menggunakan AI selama prinsip-prinsip pendidikan diterapkan sejak teknologi tersebut dikembangkan.
Namun, menurut Xu, masih terdapat pertanyaan penting mengenai apakah anak-anak dapat memperoleh manfaat dari interaksi dengan AI dengan cara yang sama seperti ketika mereka berinteraksi dengan manusia.
Sementara itu, sebuah studi baru dari Center for Universal Education di Brookings Institution memberikan pandangan yang lebih berhati-hati.
Studi tersebut melibatkan kelompok siswa pendidikan dasar dan menengah, orang tua, guru, serta pakar teknologi dari lebih dari 50 negara. Peneliti juga meninjau ratusan artikel ilmiah mengenai penggunaan AI dalam pendidikan.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan berpotensi menghambat sejumlah aspek fundamental perkembangan anak. Penelitian tersebut menilai risiko yang ditimbulkan saat ini masih lebih besar dibandingkan manfaatnya, meskipun sebagian dampak negatif tersebut masih dapat diperbaiki.
Dampak Jangka Panjang Belum Diketahui
Persoalan lain adalah keterbatasan penelitian mengenai dampak jangka panjang AI terhadap anak.
The Conversation dalam laporan yang diterbitkan pada Maret 2026 menyebutkan bahwa sebagian besar penelitian mengenai dampak AI terhadap anak masih bersifat jangka pendek. Akibatnya, dampak jangka panjang teknologi tersebut belum dapat diketahui secara memadai.
Keterbatasan penelitian juga terlihat dari sebuah studi mengenai dampak teknologi AI seperti ChatGPT terhadap siswa dan proses pembelajaran yang sebelumnya diterbitkan Springer Nature. Studi tersebut kemudian ditarik kembali sekitar satu tahun setelah diterbitkan karena adanya kekhawatiran mengenai konflik kepentingan yang dinilai dapat memengaruhi kepercayaan terhadap analisis dan hasil penelitian.
Studi tersebut pada dasarnya bukan penelitian eksperimental, melainkan analisis yang menggabungkan hasil dari 51 penelitian sebelumnya.
Ben Williams, dosen senior di Centre for Research in Digital Education, University of Edinburgh, mengatakan belum memungkinkan untuk melakukan dan meninjau puluhan penelitian berkualitas tinggi mengenai dampak ChatGPT terhadap pendidikan dalam waktu yang relatif singkat sejak teknologi tersebut muncul.
Perusahaan Teknologi Klaim AI Bermanfaat
Di tengah kekhawatiran tersebut, perusahaan teknologi justru terus mengembangkan berbagai perangkat AI yang diklaim dapat mendukung pendidikan dan dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan anak-anak serta remaja.
OpenAI sebelumnya meluncurkan versi ChatGPT yang ditujukan bagi remaja dan memperkuat fitur kontrol orang tua pada platformnya.
Sementara itu, Google juga mengembangkan sejumlah perangkat AI yang diarahkan untuk mendukung kegiatan belajar, termasuk Gemini Notebook yang sebelumnya dikenal sebagai NotebookLM serta berbagai mode pembelajaran pada Gemini.
Google juga menawarkan berbagai program dan potongan harga layanan AI bagi pelajar, termasuk akses gratis selama satu tahun dalam program tertentu.
Perdebatan mengenai AI dan anak-anak dengan demikian belum menemukan titik akhir. Di satu sisi, teknologi tersebut menawarkan kemampuan personalisasi pembelajaran dan akses informasi yang luas. Namun di sisi lain, para peneliti dan orang tua masih mempertanyakan dampaknya terhadap kemampuan berpikir, perkembangan sosial, serta hubungan emosional anak.
Kebijakan New York menjadi salah satu contoh pendekatan kehati-hatian, dengan memberikan ruang bagi pemerintah dan lembaga pendidikan untuk mempelajari lebih jauh manfaat dan risiko AI sebelum penggunaannya diperluas di kalangan anak-anak.
(Samirmusa/arrahmah.id)
