Memuat...

JD Vance Sebut Dajjal Mungkin Sudah di Tengah Manusia, Singgung Akhir Zaman dan AI

Samir Musa
Kamis, 3 September 2026 / 22 Rabiulawal 1448 19:04
JD Vance Sebut Dajjal Mungkin Sudah di Tengah Manusia, Singgung Akhir Zaman dan AI
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa ia bekerja sesuai kehendak Tuhan dan tidak mempermasalahkan jika hal itu pada akhirnya membawa dunia menuju akhir zaman (Reuters)

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengungkapkan pandangannya mengenai akhir zaman dan kemungkinan Dajjal telah berada di tengah manusia. Ia mengatakan sejumlah perkembangan di dunia membuatnya tidak akan terkejut jika Dajjal memang sudah “berjalan di antara kita”.

Pernyataan tersebut disampaikan Vance dalam wawancara panjang bersama pembawa acara podcast Kristen evangelis Bryce Crawford. Dalam wawancara yang berlangsung sekitar satu jam itu, keduanya membahas berbagai persoalan, mulai dari keyakinan agama, politik, kecerdasan buatan (AI), hingga pandangan Vance mengenai akhir zaman.

Ketika Crawford bertanya apakah Vance meyakini dunia saat ini telah memasuki masa akhir zaman, wakil presiden AS itu mengaku tidak mengetahui jawabannya.

“Saya tidak tahu apakah kita berada di akhir zaman,” ujar Vance.

Menurut Vance, terlalu banyak memusatkan perhatian pada pertanyaan tentang kapan akhir zaman akan tiba justru dapat berdampak buruk terhadap kondisi spiritual seseorang. Ia mengatakan masih memiliki berbagai tanggung jawab yang harus dijalankan.

Namun, sejumlah perkembangan dunia membuatnya tidak menutup kemungkinan bahwa Dajjal telah berada di tengah manusia.

“Ada berbagai hal tentang dunia yang membuat saya merasa tidak akan terkejut jika Dajjal sudah berjalan di antara kita. Namun, saya berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya,” kata Vance.

JD Vance (kiri) dalam wawancara bersama Bryce Crawford di YouTube (media sosial).

Vance kemudian mengatakan dirinya lebih memilih berkonsentrasi menjalankan tugas dan melakukan apa yang diyakininya sebagai kehendak Tuhan.

Ia bahkan menyatakan tidak mempermasalahkan jika pekerjaan politik yang dilakukannya pada akhirnya berkontribusi terhadap datangnya akhir zaman.

“Saya mencoba melakukan sebanyak mungkin pekerjaan Tuhan sekarang. Jika itu membawa kepada akhir zaman, tidak apa-apa. Dan jika itu membawa kita membangun dunia yang lebih baik yang dapat berkembang dan bertahan sangat lama setelah saya tiada, itu juga bagus,” ujarnya.

Menurut Vance, akhir zaman pada akhirnya memang akan datang. Persoalannya, kata dia, hanyalah kapan peristiwa tersebut terjadi.

“Akhir zaman mungkin akan datang, bahkan memang akan datang. Pertanyaannya hanya apakah itu terjadi ribuan tahun dari sekarang atau beberapa bulan lagi,” katanya.

Merasakan “kegelapan spiritual”

Dalam wawancara tersebut, Vance juga mengaku pernah merasakan apa yang ia sebut sebagai “kegelapan spiritual”, terutama ketika menghadiri pertemuan dengan para pemimpin dunia.

Menurutnya, perasaan tersebut muncul ketika mendengar berbagai hal yang disampaikan atau dibahas dalam pertemuan tersebut.

Vance mengatakan beberapa pernyataan yang ia dengar terkadang memunculkan perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres secara spiritual.

Ia menggambarkan pengalaman tersebut seperti munculnya “alarm spiritual” dalam dirinya.

Vance juga menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi medan perang Gettysburg di Pennsylvania, lokasi salah satu pertempuran paling berdarah dalam Perang Saudara Amerika. Menurutnya, tempat tersebut memberikan kesan spiritual yang sangat kuat karena banyaknya orang yang tewas dalam pertempuran.

Vance mengatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak seharusnya dijadikan pengganti hubungan sosial (Getty).

Vance soroti “energi spiritual gelap” dari AI

Pembicaraan mengenai akhir zaman kemudian berlanjut pada perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan.

Vance mengaku melihat sesuatu yang ia sebut sebagai “energi spiritual yang gelap” dalam sejumlah praktik penggunaan AI. Ia merasa khawatir ketika teknologi tersebut mulai digunakan untuk menggantikan hubungan dan interaksi antarmanusia.

Salah satu hal yang disorot Vance adalah penggunaan AI untuk memberikan nasihat mengenai hubungan sosial dan pernikahan.

Ia mengatakan penggunaan AI sebagai pengganti konselor atau tempat seseorang mencari nasihat mengenai hubungan merupakan sesuatu yang menurutnya “semacam satanik”.

Vance menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya diciptakan untuk hidup dalam hubungan sosial dengan manusia lainnya.

“Ketika Anda sepenuhnya memisahkan manusia dari aspek sosial yang Tuhan ciptakan untuk kita, itu sangat buruk,” ujarnya.

Vance juga menyinggung sebuah “upacara pemakaman” yang diikuti lebih dari 200 penggemar AI di San Francisco pada 2025 untuk mengenang model AI Claude 3 Sonnet setelah model tersebut dihentikan.

Menurut Vance, acara tersebut membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

Ia melihat peristiwa tersebut sebagai salah satu contoh bagaimana hubungan sebagian orang dengan teknologi AI telah berkembang menjadi sesuatu yang menurutnya memiliki dimensi spiritual yang mengkhawatirkan.

Gambar yang dibuat dengan kecerdasan buatan (AI) menampilkan Trump sebagai “Yesus”, yang kemudian ia hapus (Reuters).

Pernyataan Vance mengenai AI menjadi sorotan karena pemerintahan Presiden Donald Trump sendiri dikenal mendorong perkembangan teknologi tersebut dan menolak regulasi yang dianggap terlalu berlebihan terhadap industri AI.

Vance juga dikenal mendukung inovasi AI dan pendekatan regulasi yang lebih terbatas terhadap teknologi tersebut.

Keyakinan agama Vance

Dalam wawancara itu, Vance juga berbicara mengenai perjalanan keagamaannya. Ia sebelumnya pernah menjadi seorang Protestan evangelis sebelum kemudian memeluk Katolik pada 2019.

Vance mengatakan dirinya memiliki ketertarikan terhadap pembahasan mengenai akhir zaman sejak masih muda. Namun, kini ia berusaha tidak terlalu larut dalam spekulasi mengenai kapan peristiwa tersebut akan terjadi.

Ia memilih untuk berkonsentrasi pada tanggung jawab yang menurutnya harus dijalankan saat ini.

Ketika ditanya seberapa yakin dirinya akan masuk surga dalam skala satu sampai 10, Vance mengatakan pertanyaan tersebut sulit dijawab.

Ia kemudian memperkirakan tingkat keyakinannya berada di angka tujuh atau delapan.

Bela Trump soal gambar AI menyerupai Yesus

Dalam wawancara yang sama, Vance juga diminta menanggapi kontroversi mengenai gambar buatan AI yang menampilkan Presiden Donald Trump menyerupai Yesus Kristus.

Gambar tersebut sebelumnya diunggah Trump melalui media sosial dan memicu kritik, termasuk dari sejumlah kalangan Kristen yang mendukungnya. Trump kemudian menghapus gambar tersebut setelah menuai reaksi negatif.

Crawford mengaku merasa tersinggung dengan gambar tersebut dan mempertanyakan alasan Trump mengunggahnya.

Vance kemudian membela Trump dan mengatakan presiden AS tersebut tidak bermaksud menghina atau mengejek Tuhan.

“Presiden tidak bermaksud menyinggung. Jelas bahwa dia mencintai umat Kristen,” kata Vance.

Ia menegaskan bahwa Trump tidak bermaksud membuat gambar yang menggambarkan dirinya sebagai Tuhan.

“Apakah Donald Trump bermaksud mengunggah meme dirinya sebagai Tuhan? Tidak,” ujarnya.

Menurut Vance, Trump memiliki selera humor yang kuat dan tidak bermaksud menghina agama Kristen melalui gambar tersebut.

“Dia tidak bermaksud mengejek atau meniru Tuhan. Itu memang bukan dirinya,” kata Vance.

Trump akhirnya menghapus gambar tersebut setelah mendapat reaksi negatif.

Akhir zaman dan perkembangan teknologi

Pernyataan Vance mengenai Dajjal, akhir zaman, “kegelapan spiritual”, dan AI menjadi perhatian karena disampaikan oleh salah satu pejabat tertinggi pemerintahan AS dalam konteks pembicaraan mengenai agama dan perkembangan dunia.

Meski tidak secara tegas menyatakan bahwa dunia saat ini telah memasuki akhir zaman, Vance mengakui kemungkinan tersebut dan mengatakan dirinya tidak akan terkejut jika Dajjal sudah berada di tengah manusia.

Pada saat yang sama, ia mengatakan tidak ingin larut dalam spekulasi mengenai kapan akhir zaman akan tiba. Vance menegaskan akan tetap menjalankan apa yang diyakininya sebagai tugas dan kehendak Tuhan.

Wawancara tersebut kemudian menjadi sorotan sejumlah media Amerika dan Inggris, termasuk Axios, The Guardian, The Independent, dan Associated Press.

(Samirmusa/arrahmah.id)