BALOCHISTAN (Arrahmah.id) -- Sedikitnya lebih dari 20 orang tewas setelah serangan bom mengguncang Provinsi Balochistan, Pakistan barat daya, Sabtu waktu setempat. Kelompok militan Balochistan Liberation Army (BLA) mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang menargetkan kendaraan keamanan dan warga sipil di wilayah yang selama bertahun-tahun dilanda konflik bersenjata tersebut.
Dilansir Al Jazeera (24/5/26), ledakan terjadi di Distrik Mastung, sekitar 50 kilometer dari Kota Quetta, ibu kota Balochistan. Menurut pejabat Pakistan, bom meledak ketika sebuah konvoi melintas di jalan raya utama yang menghubungkan Quetta dengan wilayah selatan provinsi tersebut. Korban tewas terdiri dari personel keamanan dan warga sipil, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Tak lama setelah ledakan, Balochistan Liberation Army merilis pernyataan yang mengklaim operasi tersebut dilakukan oleh unit bersenjata mereka. BLA menyatakan, “Serangan ini menargetkan pasukan pendudukan Pakistan di Balochistan.”
Pemerintah Pakistan mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai aksi terorisme. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan berjanji memburu para pelaku. Shehbaz Sharif mengatakan, “Musuh Pakistan tidak akan berhasil menggoyahkan perdamaian dan stabilitas negara.”
Al Jazeera melaporkan ledakan tersebut merupakan salah satu serangan paling mematikan di Balochistan tahun ini. Aparat keamanan Pakistan segera menutup lokasi kejadian dan mengerahkan pasukan tambahan untuk mengantisipasi serangan lanjutan. Rumah sakit di Quetta juga menetapkan status darurat untuk menangani banyaknya korban luka.
Balochistan Liberation Army merupakan kelompok militan terbesar di Pakistan yang memperjuangkan kemerdekaan Provinsi Balochistan. Kelompok itu selama bertahun-tahun melakukan serangan terhadap aparat keamanan Pakistan, proyek infrastruktur China, serta instalasi pemerintah. Pakistan, Amerika Serikat, dan Inggris telah menetapkan BLA sebagai organisasi teroris.
Konflik di Balochistan sendiri dipicu kombinasi persoalan politik, ekonomi, dan etnis. Banyak kelompok militan menuduh pemerintah pusat mengeksploitasi sumber daya alam Balochistan tanpa memberikan manfaat ekonomi yang adil bagi masyarakat lokal.
Serangan terbaru ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan di Pakistan barat daya dalam beberapa bulan terakhir. Reuters mencatat kelompok militan Baloch dan militan Islamis sama-sama meningkatkan intensitas serangan terhadap aparat keamanan Pakistan sepanjang 2026. (hanoum/arrahmah.id)
