Memuat...

Cinta Nabi: Ittiba’, Bukan Sekadar Euforia

Oleh Novi WidiastutiPegiat Literasi
Senin, 7 September 2026 / 26 Rabiulawal 1448 15:45
Cinta Nabi: Ittiba’, Bukan Sekadar Euforia
Ilustrasi. (Foto: minanews.net)

Setiap kali Maulid Nabi saw. tiba, umat Islam kembali diingatkan tentang sosok agung yang membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam. Berbagai kegiatan digelar untuk mengenang perjuangan beliau. Salah satunya Gebyar Maulid Nabi di Dome Bale Rame, Kabupaten Bandung.

Dalam kegiatan tersebut, Ketua BAZNAS Kabupaten Bandung, Dr. KH. Yusuf Ali Tantowi, Lc., M.A., mengajak masyarakat meneladani kedermawanan Rasulullah saw., dengan peduli kepada tetangga yang kesulitan, anak yatim, keluarga kurang mampu, orang sakit, serta menguatkan zakat, infak, dan sedekah. BAZNAS juga menyalurkan dana zakat, infak, dan sedekah melalui program pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, ekonomi, dan sosial.

Tentu, kepedulian sosial dan kedermawanan merupakan bagian penting dari keteladanan Rasulullah saw. Namun, muncul pertanyaan mendasar: apakah cinta kepada Rasulullah saw. cukup diwujudkan dengan meneladani kedermawanan dan akhlak personal beliau?

Sekularisme-Kapitalisme: Ketika Cinta Nabi Dipersempit, Ketimpangan Dibiarkan

Di sinilah letak persoalannya, bagaimana cara umat memahami cinta kepada Rasulullah saw. hari ini sering kali telah mengalami penyempitan. Rasulullah saw. diposisikan terutama sebagai teladan akhlak personal: penyayang, pemaaf, jujur, dan dermawan. Semua itu benar. Namun, ketika pembahasan berhenti di sana, umat kehilangan gambaran utuh tentang risalah beliau. Mengapa demikian ?

Karena,  sekularisme telah membentuk cara pandang yang memisahkan agama dari kehidupan publik. Agama didorong untuk mengatur ibadah dan moral individu, sedangkan urusan ekonomi, politik, hukum, pendidikan, dan pemerintahan dianggap sebagai wilayah manusia yang bebas menentukan aturan sendiri.

Di sinilah Islam direduksi. Seolah-olah seorang Muslim cukup rajin beribadah, berakhlak baik, bersedekah, dan membantu sesama, sementara sistem yang mengatur kehidupan masyarakat tidak perlu dikaitkan dengan syariat Allah Swt.

Padahal, ketika kita berbicara tentang kemiskinan misalnya, persoalannya tidak selalu sesederhana “orang kaya kurang bersedekah”. Bantuan kepada fakir miskin memang penting dan dapat meringankan beban mereka. Namun, jika akar persoalan ekonomi dibiarkan, kemiskinan akan terus melahirkan masalah baru.

Maka perlu pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa ketimpangan ekonomi terus terjadi? Bagaimana kekayaan didistribusikan? Siapa yang menguasai sumber daya strategis? Aturan ekonomi seperti apa yang digunakan? Dan sejauh mana negara menjalankan kewajibannya dalam mengurus kebutuhan rakyat?

Dalam sistem kapitalisme, kepemilikan dan aktivitas ekonomi sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar serta kekuatan modal. Kekayaan dapat terkonsentrasi pada kelompok yang memiliki modal dan akses terbesar. Sementara rakyat yang lemah harus berhadapan dengan kebutuhan hidup yang semakin kompleks.

Dalam kondisi seperti ini, zakat, infak, dan sedekah memang tetap dibutuhkan. Akan tetapi, sedekah tidak boleh diposisikan sebagai pengganti kewajiban negara dalam mengurus rakyat.

Islam sendiri tidak hanya mengajarkan orang kaya agar memberikan hartanya kepada orang miskin. Islam memiliki aturan tentang kepemilikan, perdagangan, distribusi kekayaan, larangan riba, pengelolaan harta milik umum, serta kewajiban penguasa dalam memenuhi kebutuhan rakyat.

Dengan demikian, kedermawanan individu dan sistem ekonomi yang adil bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya memiliki tempat masing-masing. Persoalannya muncul ketika kedermawanan dijadikan satu-satunya jawaban atas persoalan kemiskinan, sementara akar sistemiknya tidak pernah disentuh.

Kita membantu orang yang jatuh, tetapi tidak pernah bertanya mengapa begitu banyak orang terus jatuh. Inilah yang perlu dikritisi.

Rasulullah saw., memang mengajarkan kasih sayang dan kedermawanan. Namun, beliau juga memberikan contoh bagaimana masyarakat diatur berdasarkan Islam. Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah saw., bukan hanya menjadi pembimbing spiritual, tetapi juga pemimpin masyarakat. Beliau mengatur urusan publik, mengangkat pejabat, menyelesaikan perselisihan, menjalin perjanjian, mengirim utusan, dan memimpin pertahanan masyarakat.

Kepedulian beliau kepada kaum lemah pun tidak sekadar berupa ajakan moral. Para sahabat yang dikenal sebagai Ahlus Suffah, yang tinggal di bagian serambi Masjid Nabawi dan sebagian berada dalam kondisi membutuhkan, mendapatkan perhatian dari Rasulullah saw., dan kaum Muslimin.

Ini menunjukkan bahwa kepedulian sosial merupakan bagian dari kehidupan Islam secara menyeluruh.

Lalu, mengapa ketika berbicara tentang Rasulullah saw. kita begitu mudah mengingat beliau sebagai sosok penyayang dan dermawan, tetapi sering lupa bahwa beliau juga seorang pemimpin yang menerapkan Islam dalam kehidupan masyarakat? Inilah dampak ketika Islam dipersempit hanya menjadi persoalan individu.

Padahal Rasulullah saw. telah menunjukkan bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga sistem kehidupan. Beliau tidak memisahkan masjid dari kehidupan masyarakat, tidak memisahkan akhlak dari hukum, dan tidak memisahkan ibadah dari pengaturan urusan umat.

Karena itu, mencintai Rasulullah saw. berarti mencintai risalah yang beliau bawa dan bersungguh-sungguh mengikuti petunjuknya.

Ittiba’ Rasulullah: Jalan Menuju Penerapan Islam Kaffah

Lantas, bagaimana seharusnya cinta kepada Rasulullah saw. diwujudkan?

Pertama, dengan menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman kehidupan. Keduanya bukan sekadar bahan bacaan atau sumber inspirasi, tetapi menjadi petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan.

Kedua, dengan meneladani Rasulullah saw. secara menyeluruh sesuai tuntunan syariat. Kita meneladani beliau sebagai hamba Allah yang taat, sebagai suami dan ayah, sebagai pendidik, sebagai dai, sebagai pemimpin masyarakat, sekaligus sebagai kepala pemerintahan.

Ketika Rasulullah saw.,  menghadapi penolakan dan perlakuan buruk dalam dakwah, beliau tetap menunjukkan kelembutan dan berharap kebaikan bagi generasi berikutnya. Namun, kelembutan tersebut berjalan bersama keteguhan dalam menjalankan risalah Allah Swt.

Allah Swt. menggambarkan karakter para pengikut Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka.” (QS Al-Fath: 29)

Ketiga, cinta kepada Rasulullah saw., harus mendorong umat untuk memahami Islam sebagai mabda yakni sebuah ideologi atau pandangan hidup yang bersumber dari aqidah Islam dan memiliki seperangkat aturan untuk mengatur kehidupan manusia.

Jika Islam diyakini sebagai risalah yang sempurna, maka tidak semestinya Islam hanya diterapkan dalam sebagian aspek kehidupan. Allah Swt. berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS Al-Baqarah: 208)

Karena itu, Islam kaffah mencakup kehidupan individu sekaligus kehidupan masyarakat. Islam mengatur ibadah dan akhlak, tetapi juga memiliki aturan tentang ekonomi, pendidikan, hukum, pemerintahan, keamanan, dan hubungan luar negeri.

Penerapan aturan-aturan tersebut membutuhkan institusi yang memiliki kewenangan untuk menjalankannya. Khilafah sebagai institusi pemerintahan yang bertugas menerapkan syariat Islam dan mengurus urusan umat. Dengan demikian, syariat tidak berhenti sebagai nasihat moral individual, tetapi menjadi aturan yang mengatur kehidupan masyarakat.

Konsep ri’ayah pun menjadi penting. Penguasa bukan sekadar pembuat kebijakan, tetapi bertanggung jawab mengurus kepentingan rakyat. Kebutuhan dasar, keamanan, pendidikan, kesehatan, keadilan, dan berbagai urusan publik merupakan bagian dari amanah kepemimpinan.

Inilah yang membedakan antara solusi yang hanya bersifat karitatif dengan solusi yang bersifat sistemis. Sedekah membantu orang yang membutuhkan. Syariat mengatur agar kebutuhan rakyat tidak diabaikan. Kedermawanan memperkuat solidaritas. Negara menjalankan kewajiban ri’ayah. Akhlak membentuk pribadi yang baik. Sistem Islam membangun kehidupan masyarakat berdasarkan ketaatan kepada Allah Swt.

Maka, Maulid Nabi saw., semestinya tidak berhenti menjadi seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum muhasabah: sudah sejauh mana kita benar-benar mengikuti Rasulullah saw.?

Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah saw. tetapi hanya mengambil sebagian keteladanan beliau dan meninggalkan risalah yang beliau perjuangkan.

Jangan sampai kita menangis ketika mendengar kisah perjuangan beliau, tetapi tidak tertarik mempelajari bagaimana beliau membangun masyarakat Islam.

Jangan sampai kita menyerukan kedermawanan Rasulullah saw. tetapi lupa bahwa beliau juga merupakan pemimpin yang bertanggung jawab mengurus umat dengan hukum Allah Swt.

Cinta kepada Nabi saw. bukan sekadar ucapan. Cinta adalah ittiba’. Dari sekadar mengagumi menjadi mengikuti. Dari sekadar mengenang menjadi memperjuangkan. Dari sekadar memperbaiki individu menjadi membangun masyarakat. Dari sekadar euforia Maulid menjadi kesadaran untuk menerapkan Islam secara kaffah.

Sebab, cinta yang benar kepada Rasulullah saw. bukan hanya membuat kita bangga memiliki beliau sebagai teladan, tetapi juga mendorong kita untuk mengikuti jalan yang beliau tempuh.

Maka, jika benar mencintai Rasulullah saw. mari kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, teladani seluruh perjuangan beliau, dakwahkan Islam, dan perjuangkan terwujudnya kehidupan yang tunduk sepenuhnya kepada syariat Allah Swt.

Itulah cinta Nabi yang tidak berhenti pada euforia. Namun, cinta yang melahirkan ittiba’.

Wallahua'lam bis shawwab

Editor: Hanin Mazaya