Memuat...

Citra Satelit Ungkap 'Israel' Bangun 8 Pangkalan Militer Baru Pasca-Gencatan Senjata di Gaza

Zarah Amala
Selasa, 2 Juni 2026 / 17 Zulhijah 1447 10:00
Citra Satelit Ungkap 'Israel' Bangun 8 Pangkalan Militer Baru Pasca-Gencatan Senjata di Gaza
Citra Satelit Ungkap 'Israel' Bangun 8 Pangkalan Militer Baru Pasca-Gencatan Senjata di Gaza

GAZA (Arrahmah.id) - Hasil analisis citra satelit terbaru yang dirilis oleh Unit Sumber Terbuka Al Jazeera (Al Jazeera Investigative Unit) mengungkap bahwa keberadaan militer 'Israel' di dalam Jalur Gaza sama sekali tidak menyusut sejak kesepakatan gencatan senjata berlaku. Sebaliknya, data visual pertengahan Mei 2026 menunjukkan adanya ekspansi teritorial yang masif dan pembangunan infrastruktur pertahanan yang bersifat permanen.

Berdasarkan perbandingan citra satelit dari perusahaan Planet Labs antara Oktober 2025 dan 18 Mei 2026, teridentifikasi total 40 titik pangkalan militer 'Israel' yang tersebar di seluruh distrik. Dari jumlah tersebut, 8 pangkalan militer di antaranya baru dibangun secara sepihak setelah perjanjian gencatan senjata ditandatangani.

Secara geografis, kedelapan pangkalan militer baru tersebut ditempatkan di titik-titik krusial: dua pangkalan di Gaza Utara, satu pangkalan di Juhor ad-Dik (timur Koridor Netzarim), dua pangkalan di Gaza Tengah, dan tiga pangkalan di Khan Yunis (Gaza Selatan).

Analisis kronologis berbasis waktu (time-series) memperlihatkan bagaimana militer 'Israel' secara bertahap mengubah lanskap geografis Gaza guna memperkuat cengkeraman militer jangka panjang mereka di lapangan.

Citra satelit pada 14 Oktober 2025 menunjukkan wilayah Juhor ad-Dik merupakan area tanah terbuka tanpa aktivitas militer. Namun, per 18 Mei 2026, area tersebut telah bertransformasi menjadi pangkalan militer baru yang dilengkapi tanggul tanah dan jalur logistik internal. Operasi teknis rekayasa tanah ini terdeteksi mulai berjalan sejak Maret 2026.

Di sektor utara, citra satelit mengonfirmasi bahwa struktur eksterior dan fasilitas operasional internal pangkalan militer baru telah selesai dibangun sepenuhnya pada pertengahan Mei 2026 setelah pengerjaan awal terpantau sejak November 2025.

Di Khan Yunis, militer 'Israel' terbukti mendirikan salah satu dari tiga pangkalan baru di atas puing-puing Pemakaman Timur (Al-Maqbara al-Sharqiya). Citra satelit memperlihatkan adanya zona penempatan kendaraan lapis baja serta deretan bangunan modular kecil yang diidentifikasi sebagai barak prajurit dan ruang komando lapangan.

Selain membangun pangkalan baru, militer 'Israel' juga secara drastis memperkuat pertahanan pada pangkalan-pangkalan lama yang sudah ada sebelum gencatan senjata.

Di wilayah timur Kota Gaza, sebuah pangkalan militer tercatat mengalami perluasan area perimeter hingga 70 persen lebih luas dibandingkan ukuran aslinya pada Oktober 2025. Penataan ulang interior ini mencakup penambahan struktur pelindung beton dan area parkir baru untuk kendaraan tempur berat.

Sementara itu, di sektor Gaza Tengah, citra satelit menangkap aktivitas alat berat yang menggali parit-parit pertahanan dalam ukuran besar di sekeliling pangkalan militer. Pengamat militer menilai pola pembangunan parit dan tanggul kokoh ini mengindikasikan kuatnya intensi Tel Aviv untuk memperpanjang durasi pendudukan fisik dan memotong mobilitas warga sipil antardistrik, terutama di sekitar Koridor Netzarim yang memisahkan wilayah Gaza Utara dan Selatan.

Aktivitas militer di lapangan ini bertolak belakang dengan draf perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober 2025. Kesepakatan yang mengacu pada kerangka kerja usulan Presiden AS Donald Trump itu awalnya mengamanatkan penghentian perang secara menyeluruh, penarikan pasukan 'Israel' secara bertahap di belakang "Garis Kuning", pertukaran tawanan, dan pelucutan senjata Hamas.

Meskipun fase pertama disepakati melalui negosiasi tidak langsung di Sharm el-Sheikh dengan mediasi dari AS, Mesir, Qatar, dan Turki, eskalasi bersenjata di lapangan tetap tinggi. Data Kementerian Kesehatan di Gaza menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata dideklarasikan, setidaknya 929 warga Palestina gugur dan 2.811 lainnya luka-luka akibat rentetan pelanggaran sepihak. Angka ini menambah total korban jiwa kumulatif sejak meletusnya perang pada Oktober 2023 yang kini telah menembus 72.938 jiwa. (zarahamala/arrahmah.id)