JAKARTA (Arrahmah.id) - Dunia akademik Indonesia tengah menjadi sorotan setelah muncul dugaan praktik pemalsuan data penelitian dan identitas dalam forum ilmiah internasional.
Tiga peneliti asal Indonesia, yakni Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti, dituding melakukan manipulasi terorganisasi demi memperoleh travel grant, hadiah konferensi, hingga fasilitas perjalanan luar negeri gratis.
Kasus ini pertama kali mencuat melalui unggahan dosen dan peneliti Indonesia, Wa Ode Dwi Daningrat, yang menghadiri konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 bersama Ida Bagus Mandhara Brasika di Kopenhagen, Denmark.
Dalam unggahan media sosialnya, Wa Ode mengungkap sejumlah kejanggalan yang diduga dilakukan kelompok peneliti tersebut selama mengikuti konferensi ilmiah internasional itu.
Dugaan Ganti Identitas saat Presentasi
Menurut Wa Ode, salah satu terduga pelaku diduga menggunakan identitas berbeda pada beberapa sesi presentasi hanya dengan mengganti jilbab dan kartu nama (nametag).
Pada sesi presentasi di Station 01, pelaku disebut tampil menggunakan identitas “Riana Dwi Kurniawati”.
Namun sekitar 10 menit kemudian, orang yang sama diduga berpindah ke Station 04 dengan identitas berbeda atas nama “Dimas Fajar Prasetyo”.
Selain dugaan pergantian identitas, kelompok tersebut juga dituding mempresentasikan riset yang dinilai tidak masuk akal dan sarat kejanggalan.
Wa Ode menduga sebagian materi penelitian disusun menggunakan bantuan kecerdasan buatan (AI), disertai fabrikasi data secara sistematis, mulai dari pemalsuan data penelitian, gambar, hingga narasi ilmiah.
Klaim Penelitian di Banyak Negara Dipertanyakan
Kecurigaan semakin menguat karena sejumlah penelitian yang dipresentasikan diklaim dilakukan di berbagai negara, mulai dari Peru, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India Utara.
Namun seluruh penelitinya berasal dari Indonesia tanpa adanya kolaborator asing maupun dokumen ethical clearance yang lazim diperlukan dalam penelitian kesehatan internasional.
Kelompok tersebut juga diduga mencantumkan afiliasi lembaga bernama “The IMCD BioMed Research Foundation” yang disebut-sebut tidak memiliki kejelasan legal maupun rekam jejak akademik yang dapat diverifikasi.
“Dengan cara ini, pelaku mendapatkan dana travel grant yang membuat mereka bisa ke luar negeri gratis,” tulis Wa Ode dalam unggahannya.
Ia menilai praktik semacam itu bukan hanya merugikan penyelenggara konferensi, tetapi juga mencoreng nama baik akademisi Indonesia di mata komunitas ilmiah dunia.
Profil Prihantini dan Rekam Jejak Akademik
Prihantini, yang akrab disapa Titin, dikenal sebagai peneliti independen dan penggerak komunitas pendidikan. Dalam profil profesionalnya, ia mengaku fokus pada riset matematika, komputasi, dan sains data untuk sektor biomedis.
Ia merupakan lulusan S1 Matematika Universitas Negeri Yogyakarta periode 2015–2019 dan melanjutkan studi magister di Institut Teknologi Bandung dengan fokus kajian dinamika fluida dan tsunami.
Prihantini juga tercatat sebagai penerima beasiswa LPDP tahun 2019 dan pernah meraih Juara 1 Pertamina National Science Olympiad bidang matematika.
Di luar aktivitas akademik, ia mendirikan platform bimbingan penulisan ilmiah Orbit Paper serta komunitas Youth Passion to Action.
Rifaldy dan Rini Pernah Raih Prestasi Internasional
Rifaldy Fajar merupakan alumnus Program Studi Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta angkatan 2014. Ia pernah dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi Utama tingkat sarjana pada 2017.
Selama masa kuliah, Rifaldy aktif mengikuti kompetisi internasional, termasuk meraih medali perak dalam 1st India International Innovation Fair di Bengaluru, India.
Sementara itu, Rini Winarti adalah alumnus Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta yang juga beberapa kali tercatat membawa pulang penghargaan internasional.
Bersama Rifaldy, ia dilaporkan pernah meraih medali emas dalam The 3rd International Youth Invention Contest 2015 di Seoul, Korea Selatan, serta penghargaan lain di Mesir pada 2016.
Belum Ada Klarifikasi Resmi
Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Prihantini maupun Rini Winarti terkait tudingan tersebut.
Sementara itu, Rifaldy Fajar sempat disebut mengunggah klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya sebelum akun tersebut akhirnya tidak lagi dapat diakses publik.
Kasus ini kini menjadi perhatian luas warganet dan kalangan akademisi, terutama terkait integritas riset, penggunaan AI dalam publikasi ilmiah, serta mekanisme seleksi travel grant pada konferensi internasional.
(ameera/arrahmah.id)
