Memuat...

Thomas Friedman: Trump Bakal “Menelan Banyak Kepahitan” dalam Perang Iran

Samir Musa
Rabu, 27 Mei 2026 / 11 Zulhijah 1447 17:39
Thomas Friedman: Trump Bakal “Menelan Banyak Kepahitan” dalam Perang Iran
Friedman menuduh Trump gagal dalam merencanakan perang terhadap Iran serta gagal dalam memprediksi hasilnya (Associated Press).

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Kolumnis senior Thomas Friedman melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait perang melawan Iran. Dalam analisanya di New York Times, Friedman menilai Trump kini berada di ambang menerima hasil pahit dari perang yang justru berpotensi menghidupkan kembali kekuatan Teheran.

Friedman menyebut hanya tersisa dua pertanyaan besar dari perang tersebut: berapa banyak “cawan kepahitan” yang harus diminum Trump demi mengakhiri konflik dengan pencapaian minimal, dan apakah ia akan mencoba menggambarkan hasil itu sebagai kemenangan besar.

Menurut Friedman, ia tidak mempermasalahkan jika Trump harus menerima kompromi besar selama Iran benar-benar menyerahkan sekitar 1.000 kilogram uranium yang hampir mencapai tingkat pembuatan senjata nuklir. Langkah itu dinilai dapat menghilangkan ancaman langsung kepemilikan bom nuklir oleh Iran.

Namun ia menegaskan, bahkan jika itu terjadi, hal tersebut tetap bukan kemenangan ideal bagi Washington. Sebab rezim Iran masih akan tetap bertahan dengan cadangan uranium berpengayaan rendah dalam jumlah besar serta memperoleh kesempatan memperkuat posisinya.

Friedman menyatakan bahwa sejarah akan mengingat Trump, J. D. Vance, Pete Hegseth, dan Marco Rubio sebagai tim yang telah memberi Iran peluang baru untuk bertahan hidup (Associated Press).

Friedman bahkan menyebut sejarah akan mencatat Trump bersama Wakil Presiden J. D. Vance, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio sebagai tim yang justru memberi “nafas baru” bagi Iran pada saat rezim itu sedang berada dalam kondisi paling lemah di hadapan rakyatnya sendiri.

Iran Bisa Untung Besar

Friedman menilai satu-satunya cara realistis agar Iran mau menyerahkan uranium tersebut adalah melalui kesepakatan yang mencabut sanksi ekonomi Amerika Serikat serta membuka kembali ekspor minyak Iran.

Jika itu terjadi, Teheran diperkirakan akan memperoleh pemasukan dana besar yang bisa digunakan untuk membungkam oposisi domestik, memperkuat represi terhadap rakyat, serta mendanai kelompok-kelompok sekutunya di Lebanon, Irak, dan Yaman.

Ia mengutip pakar pengendalian senjata Robert Litwak yang mengatakan bahwa Trump memulai perang dengan tujuan mengganti rezim Iran, namun kini justru berpotensi mengakhirinya dengan kesepakatan yang mirip dengan perjanjian nuklir era Obama tahun 2015—kesepakatan yang sebelumnya dibatalkan sendiri oleh Trump pada 2018.

Friedman menilai bahwa Selat Hormuz kini berubah menjadi “senjata strategis” Iran, yang menurutnya justru terungkap akibat kebijakan Trump dan Netanyahu (Reuters).

Kritik atas Kegagalan Strategi

Friedman juga menuduh Trump dan tim keamanan nasionalnya gagal menyusun skenario matang sebelum memulai perang. Mereka disebut terlalu percaya pada janji Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu bahwa rezim Iran akan runtuh hanya dalam beberapa pekan akibat serangan besar-besaran.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Iran segera merespons dengan menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Penutupan itu memicu kenaikan harga energi global dan mengguncang ekonomi internasional.

Friedman menilai Iran kini menemukan “senjata penghancur ekonomi” baru melalui penggunaan drone murah, rudal jelajah, dan operasi terbatas yang mampu mengancam ekonomi global tanpa harus menggunakan senjata nuklir.

“Trump dan Netanyahu mengira kekuatan militer raksasa mereka bisa memaksa Iran menyerah, namun mereka justru membantu Iran menemukan kemampuan untuk melumpuhkan ekonomi dunia,” tulis Friedman.

Trump (kanan) saat bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Gedung Putih (European Pressphoto Agency).

Pelajaran dari Ukraina

Dalam tulisannya, Friedman juga menyinggung pertemuan Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Gedung Putih.

Ia mengatakan, seandainya Trump lebih rendah hati dan mau belajar dari perang Ukraina, maka ia akan memahami bagaimana drone murah mampu mengubah peta peperangan modern.

Friedman membayangkan jika Trump sempat bertanya kepada Menteri Pertahanannya tentang kemungkinan Iran menggunakan taktik serupa Ukraina untuk menutup Selat Hormuz hanya dengan drone murah.

Namun pertanyaan itu, menurutnya, tidak pernah diajukan.

Akibatnya, Iran kini dianggap memiliki kemampuan strategis yang secara fungsional setara dengan efek senjata nuklir karena mampu “mencekik” ekonomi global kapan saja melalui ancaman terhadap jalur minyak dunia.

Trump Dinilai Tidak Konsisten

Friedman juga mengkritik berbagai pernyataan Trump yang dinilai tidak realistis, termasuk seruannya agar negara-negara seperti Turki, Pakistan, Mesir, Yordania, Arab Saudi bahkan Iran segera bergabung dalam kesepakatan normalisasi dengan Israel.

Menurut Friedman, gagasan bahwa Iran akan menandatangani perdamaian dengan Israel setelah perang adalah sesuatu yang “mendekati lelucon” dan menunjukkan lemahnya pemahaman geopolitik pemerintahan Trump.

Ia menambahkan bahwa sikap dan keputusan Trump yang berubah-ubah membuat sekutu-sekutu Washington di Timur Tengah semakin khawatir terhadap konsistensi Amerika Serikat sebagai mitra strategis.

Di akhir tulisannya, Friedman menegaskan bahwa menjatuhkan rezim Iran dan menghentikan ambisi nuklirnya memang dapat menjadi langkah besar bagi masa depan Timur Tengah. Namun hal itu membutuhkan strategi matang, legitimasi internasional, dan perencanaan mendalam.

Akibatnya, alih-alih melemahkan Iran, perang ini justru berpotensi memberi Teheran kesempatan bertahan lebih lama, memperkuat pengaruhnya terhadap pasokan minyak dunia, dan menambah sumber daya untuk terus mengguncang kawasan Timur Tengah.

(Samirmusa/arrahmah.id)