Memuat...

'Eks PM Israel' Akui Selundupkan Ribuan Starlink ke Iran Bantu Oposan

Hanoum
Rabu, 24 Juni 2026 / 9 Muharam 1448 13:31
'Eks PM Israel' Akui Selundupkan Ribuan Starlink ke Iran Bantu Oposan
Naftali Bennet. [Foto: Al Jazeera]

JERUSALEM (Arrahmah.id) -- Mantan Perdana Menteri 'Israel', Naftali Bennett, mengungkap bahwa 'Israel' pernah menyelundupkan ribuan perangkat internet satelit Starlink ke Iran guna membantu para demonstran anti-pemerintah tetap terhubung ke internet di tengah pemadaman akses komunikasi yang dilakukan otoritas Iran.

Pengakuan tersebut disampaikan Bennett dalam sebuah forum kebijakan internasional di Yerusalem pada Senin (23/6), memicu sorotan baru terhadap perang informasi dan persaingan geopolitik antara kedua negara.

Menurut Bennett, seperti dilansir Al Jazeera (23/6), operasi tersebut dilakukan ketika ia masih menjabat sebagai perdana menteri 'Israel'. Tujuannya adalah memberikan akses internet yang tidak dapat dikendalikan pemerintah Iran sehingga para demonstran dapat berkomunikasi, menyebarkan informasi, dan mengoordinasikan aksi mereka selama gelombang protes yang melanda negara itu.

Starlink merupakan layanan internet satelit milik perusahaan antariksa SpaceX yang didirikan oleh Elon Musk dan diketahui tidak memiliki izin resmi beroperasi di Iran.

Dalam pidatonya, Bennett juga mengkritik pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu karena dinilai tidak melanjutkan program tersebut. Ia menilai penghentian dukungan tersebut membuat kelompok oposisi Iran kehilangan sarana komunikasi penting pada saat pemerintah Iran kembali memperketat kontrol terhadap internet dan media sosial.

“Kami menyelundupkan puluhan ribu perangkat Starlink ke Iran agar masyarakat dapat tetap terhubung dan mengorganisasi diri mereka. Sayangnya, pemerintah berikutnya tidak melanjutkan langkah tersebut,” kata Naftali Bennett.

Pengungkapan itu muncul di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap pembatasan internet di Iran. Sejumlah laporan media internasional sebelumnya menyebut pemerintah Iran beberapa kali menerapkan pemadaman internet berskala nasional saat terjadi gelombang protes maupun ketegangan keamanan.

Dalam kondisi tersebut, perangkat Starlink yang masuk secara tidak resmi ke Iran menjadi salah satu jalur komunikasi alternatif bagi warga yang ingin mengakses informasi dari luar negeri.

Laporan Associated Press pada Januari 2026 bahkan menyebut layanan Starlink telah membantu para demonstran Iran mengirimkan informasi dan dokumentasi aksi protes ke dunia internasional setelah pemerintah memberlakukan pembatasan komunikasi yang ketat.

Aktivis memperkirakan puluhan ribu terminal Starlink telah beredar di Iran melalui berbagai jalur penyelundupan sejak beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, pemerintah Iran menuduh perangkat Starlink diselundupkan oleh pihak asing untuk mengganggu keamanan nasional. Otoritas Iran dilaporkan telah menyita ratusan terminal Starlink dan mengategorikan penggunaan perangkat tersebut sebagai pelanggaran serius, terutama selama masa konflik dan keadaan darurat keamanan. (hanoum/arrahmah.id)