MANADO (Arrahmah.id) - Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang hampir seluruh wilayah Sulawesi Utara pada Senin (8/6/2026) pagi.
Guncangan kuat yang dirasakan selama beberapa detik membuat warga di berbagai daerah panik dan berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Menyikapi situasi tersebut, Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Manado langsung mengaktifkan posko koordinasi darurat bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di enam wilayah terdampak.
Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pendataan dampak gempa sekaligus menyiapkan kemungkinan operasi pencarian dan pertolongan.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada koordinat 5,69 derajat Lintang Utara dan 125,05 derajat Bujur Timur.
Episentrum gempa berada sekitar 236 kilometer barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dengan kedalaman 105 kilometer.
Meski pusat gempa berada di laut, getarannya terasa sangat kuat hingga ke wilayah daratan utama Sulawesi Utara.
Warga di Kota Manado, Kota Bitung, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Utara, Kepulauan Sangihe, hingga Kepulauan Talaud dilaporkan melakukan evakuasi mandiri menuju lapangan terbuka dan lokasi yang dianggap lebih aman.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Manado, George Mercy Randang, mengatakan pihaknya saat ini memprioritaskan pemantauan dampak gempa serta pengumpulan informasi dari berbagai daerah yang terdampak.
"Fokus utama kami adalah memantau dampak, mengidentifikasi lokasi kerusakan, serta menyiapkan sumber daya untuk kemungkinan operasi pencarian dan pertolongan," kata George Mercy Randang, Senin (8/6/2026).
Laporan sementara yang diterima tim di lapangan menunjukkan adanya kerusakan pada puluhan bangunan. Sejumlah rumah warga, fasilitas umum, dan tempat ibadah di wilayah kepulauan dilaporkan mengalami retak hingga rusak berat akibat kuatnya guncangan.
Meski demikian, hingga berita ini diturunkan belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa. Petugas gabungan masih melakukan verifikasi data kerusakan dan pendataan terhadap warga yang terdampak.
Basarnas bersama BPBD dan instansi terkait terus memantau perkembangan situasi di lapangan guna memastikan kebutuhan masyarakat dapat segera ditangani apabila diperlukan.
George juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
"Jangan panik, tetapi jangan lengah. Ikuti terus informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah. Hindari menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya," tegasnya.
Hingga saat ini, proses pendataan kerusakan dan pemantauan potensi dampak lanjutan masih terus dilakukan oleh tim gabungan di seluruh wilayah Sulawesi Utara yang terdampak gempa.
(ameera/arrahmah.id)
