Memuat...

Genosida Anak Palestina, dan Kebisuan Dunia

Oleh Umi Fahri
Sabtu, 5 September 2026 / 24 Rabiulawal 1448 16:32
Genosida Anak Palestina, dan Kebisuan Dunia
Anak Palestina. (Foto: Antara/Anadolu/py)

Sejak genosida Zionis pada Oktober 2023, lebih dari 60 ribu anak Gaza kehilangan orang tua, tumbuh tanpa pelukan dan kasih sayang. Dengan luka batin yang tidak akan pernah sembuh, mereka bahkan harus menanggung kehilangan kedua orang tua sekaligus. Meski selamat dari hantaman rudal dan bom, tapi anak-anak Palestina tidak akan terlepas dari trauma akibat tragedi yang berkepanjangan. Mereka mencari tempat berlindung, mengungsi berulang kali, kehilangan anggota keluarga, kelaparan, serta hidup tanpa masa depan.

Genosida militer Zionis telah menyeret ratusan ribu anak Palestina ke dalam penderitaan fisik dan juga mental yang begitu parah. Situasi ini diperburuk oleh blokade bantuan kemanusiaan. Makanan, obat-obatan dan akses layanan kesehatan diputus, sehingga membuat kehidupan sehari-hari berubah menjadi perjuangan untuk sekedar bertahan hidup.

Lebih dari itu, Zionis makin menggila dengan menjadikan kelaparan sebagai senjata mematikan dalam membantai anak-anak yang tidak berdosa. Palestina pun menjadi bencana kemanusiaan terbesar dalam penjara genosida baru bernama kelaparan dan kekurangan gizi akut. Begitu pula dengan bayi-bayi yang baru lahir pun tidak luput dari kekejaman Zionis. Fakta ini membuat luka kehilangan kian menganga. Anak-anak dibantai sehingga generasi hilang terlibas reruntuhan perang.

Tidak berhenti sampai di situ saja, Zionis menambah daftar kekejaman terhadap anak-anak Palestina. Bahwasanya, sekitar 370 anak Palestina saat ini ditahan di penjara-penjara Israel, dengan sebagian besar berada di penjara Megiddo dan Ofer. (ANTARA, 28/8/2026)

Anak-anak tersebut merupakan bagian lebih dari 9.400 tahanan dan narapidana Palestina, yang ditahan Israel hingga awal Agustus. Laporan itu menyebutkan bahwa penahanan anak-anak Palestina oleh Israel tidak lagi terbatas pada kasus-kasus terpisah, tetapi telah menjadi praktik berulang dalam kampanye penangkapan di seluruh Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur.

Berbagai serangan, pengusiran, dan perampasan tanah yang dilakukan Zionis dengan ritme teror begitu konsisten. Gaza sudah mereka kuasai, kini Tepi Barat menjadi target berikutnya. Genosida tidak selalu diikuti ledakan besar, melainkan dengan peluru yang menembus tubuh generasi, penjara dapat merenggut masa remaja, serta penghapusan eksistensi Palestina dalam perjuangannya melawan penjajahan.

Dunia membisu ketika AS, Zionis, dan pendukungnya mengutak-atik Gaza dengan proyek mereka. Di tengah seruan perdamaian dan gencatan senjata, Zionis memborbardir Gaza tanpa ampun. Narasi perdamaian juga gencatan senjata tidak lagi mampu melawan keangkuhan para penjajah.

Miris melihat kondisi seperti ini, para penguasa negeri-negeri muslim memilih untuk diam. Mereka tidak berani bersuara lantang, apalagi bertindak tegas. Meski memiliki kekuasaan, otoritas, dan sumber daya yang besar, akan tetapi mereka lebih memilih menutup mata terhadap penderitaan saudara muslim di Palestina, seakan-akan tragedi itu bukan bagian dari tubuh umat Islam. Padahal, di hadapan mereka anak-anak Palestina dibantai, darah kaum muslim ditumpahkan, kehormatan umat diinjak-injak oleh kafir penjajah.

Nurani mati rasa, sedangkan ukhwuah dan ikatan akidah Islam kalah demi melindungi kepentingan mereka. Kebisuan ini adalah pengkhianatan terhadap muslim Palestina. Diam dan membisu berarti membiarkan darah anak-anak terus mengalir, serta kejahatan Zionis tetap berlangsung tanpa perlawanan.

Rasulullah SAW bersabda:
"Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh, barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya." (HR Bukhari)

Agar anak-anak muslim Palestina tidak lagi menjadi korban kejahatan genosida, umat harus tetap bersuara dengan lantang. Begitu pula dengan ikatan akidah Islam dan ukhuwah, tidak boleh hanya berhenti pada solidaritas serta bantuan kemanusiaan saja. Lebih dari itu, bahwasannya ukhuwah Islam sejatinya menuntut persatuan dari aspek pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama yakni dengan perlindungan dan penjagaan umat Islam secara hakiki. Atas permasalahan ini semua, maka hanya dengan penerapan hukum Islam saja yang dapat mengatasi permasalah anak-anak Palestina.

Kematian anak-anak Palestina adalah noda hitam yang tak bisa dihapus dengan resolusi, konferensi, diplomasi, apalagi rekonstruksi semu yang ditawarkan Barat. Dunia boleh bungkam, tetapi umat Islam tidak boleh diam. Dengan persatuan umat muslim di seluruh dunia adalah solusi nyata bagi kebebasan Palestina dari tangan Zionis.

Wallahu a'lam bis shawwab

Editor: Hanin Mazaya