Memuat...

Hancurkan 3,8 Juta Pohon di Gaza, 'Israel' Sengaja Rekayasa Kelaparan Massal

Zarah Amala
Sabtu, 6 Juni 2026 / 21 Zulhijah 1447 11:32
Hancurkan 3,8 Juta Pohon di Gaza, 'Israel' Sengaja Rekayasa Kelaparan Massal
94% lahan pertanian Gaza jadi gurun akibat buldozer 'Israel' (Foto: tangkapan video)

GAZA (Arrahmah.id) - Kehancuran masif yang menimpa lahan pertanian dan perkebunan di Jalur Gaza dilaporkan bukan sekadar dampak ikutan dari perang, melainkan bagian dari strategi sistematis untuk menciptakan ketergantungan pangan kronis. Berdasarkan data terbaru yang dirilis pada Jumat (5/6/2026), militer 'Israel' telah membumihanguskan jutaan pohon buah-buahan dan infrastruktur agraria, yang memicu kelaparan struktural di kantong pemukiman tersebut.

Kantor Media Pemerintah di Gaza melaporkan bahwa militer 'Israel' telah menghancurkan lebih dari 94% lahan pertanian dari total luas sekitar 178.000 dunam (17.800 hektare). Agresi ini mengakibatkan produksi pangan lokal terjun bebas dari 405.000 ton per tahun menjadi hanya sekitar 28.000 ton. Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyatakan wilayah yang tersisa untuk bertani kini menyusut hingga di bawah 5% karena sebagian besar lahan telah rusak total atau berada di bawah zona bahaya militer.

Seorang petani lokal dari Distrik Sheikh Ajlin, Abu Fares, mengisahkan bagaimana wilayahnya yang dahulu dikenal sebagai lumbung anggur, ara, dan komoditas musiman, kini telah berubah menjadi gurun pasir yang gersang akibat buldozer militer 'Israel'.

Sekitar 3,8 juta pohon produktif hancur total, termasuk di antaranya 1,6 juta pohon zaitun tua yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk bisa tumbuh dan berbuah kembali.

Sebanyak 87% sumur irigasi pertanian, 87% lahan terbuka, dan 80% rumah kaca (greenhouse) rusak parah akibat serangan langsung atau pembongkaran paksa.

Sektor yang awalnya menjadi tumpuan hidup bagi sedikitnya 560.000 warga Gaza ini kini lumpuh total dan kehilangan kemampuan produksinya.

Dr. Fadel Al-Zoubi, pakar ketahanan pangan global sekaligus Penasihat Kebijakan Regional Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), menegaskan bahwa pola kerusakan ini menunjukkan adanya penargetan yang disengaja terhadap seluruh rantai pasok makanan di Gaza.

"Ini bukan kerusakan sampingan. Penghancuran sistematis terhadap sumur air, jaringan irigasi, gudang logistik, peternakan, hingga pohon-pohon endemik merupakan upaya nyata untuk mengeringkan sendi-sendi bertahan hidup. Tujuannya adalah memaksa populasi sipil bergantung sepenuhnya pada bantuan pangan luar, atau merekayasa ketergantungan pangan lokal," jelas Dr. Al-Zoubi kepada Al Jazeera.

Dr. Al-Zoubi menilai seretnya bantuan ini disebabkan oleh bergesernya skala prioritas negara-negara donor internasional di tengah rentetan krisis global baru yang terjadi berturut-turut. Di tengah keterbatasan pupuk, bibit, obat-obatan pertanian, serta blokade suku cadang mesin, para petani Gaza yang tersisa kini hanya bisa mengandalkan metode konvensional secara swadaya demi menghidupkan kembali sejengkal tanah mereka yang tersisa. (zarahamala/arrahmah.id)