KABUL (Arrahmah.id) -- Pemerintah Taliban atau Imarah Islam Afghanistan (IIA) dan Rusia resmi menandatangani kerja sama militer-teknis yang berfokus pada penguatan keamanan dan pemberantasan kelompok militan Islamic State Khorasan Province (ISKP). Kesepakatan tersebut ditandatangani dalam forum keamanan internasional di Moskow dan menjadi salah satu bentuk kerja sama pertahanan paling signifikan antara kedua pihak sejak IIA kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021.
Dilansir Radio Free Europe (28/5/2026), perjanjian itu diteken pada 27 Mei 2026 oleh Menteri Pertahanan IIA, Mullah Mohammad Yaqoub, dan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Sergei Shoigu, di sela-sela International Security Forum yang berlangsung di Moskow. Meski rincian lengkap isi perjanjian belum dipublikasikan, sejumlah media internasional melaporkan bahwa kerja sama tersebut mencakup pertukaran persenjataan, lisensi teknologi militer, bantuan teknis, hingga kemungkinan pengembangan proyek pertahanan bersama.
Kesepakatan tersebut lahir di tengah meningkatnya kekhawatiran Rusia terhadap aktivitas ISKP yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi salah satu kelompok militan paling berbahaya di kawasan Asia Tengah dan Afghanistan. Moskow menilai kelompok itu sebagai ancaman langsung terhadap keamanan regional, terutama setelah serangan mematikan di gedung konser Crocus City Hall dekat Moskow pada Maret 2024 yang menewaskan hampir 150 orang dan diklaim oleh ISKP.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menegaskan pentingnya koordinasi keamanan untuk menghadapi ancaman terorisme. Menteri Pertahanan IIA, Mohammad Yaqoub, menyebut kerja sama baru itu sebagai bagian dari perluasan hubungan bilateral antara Kabul dan Moskow.
“Hubungan antara Afghanistan dan Rusia terus berkembang di berbagai bidang, termasuk keamanan dan pertahanan,” kata Mohammad Yaqoub dalam pernyataan yang dikutip dari The Times of India.
Sementara itu, Sergei Shoigu menyoroti meningkatnya ancaman ISKP di Afghanistan. Menurutnya, kelompok tersebut masih aktif merekrut anggota dan melancarkan serangan terhadap pemerintah Taliban maupun target-target sipil. Shoigu menyebut keberadaan ISKP sebagai salah satu ancaman utama bagi stabilitas Asia Tengah dan keamanan Rusia.
Media Rusia dan Afghanistan melaporkan bahwa kerja sama militer tersebut merupakan kelanjutan dari hubungan yang semakin erat antara Moskow dan IIA dalam beberapa tahun terakhir. Rusia menjadi negara pertama yang secara resmi mengakui pemerintahan IIA pada 2025 setelah sebelumnya menghapus kelompok itu dari daftar organisasi teroris nasional. Langkah tersebut membuka jalan bagi hubungan diplomatik dan keamanan yang lebih luas antara kedua pihak.
Pengamat keamanan menilai kepentingan utama yang menyatukan Rusia dan IIA adalah ancaman bersama dari ISKP. Kelompok tersebut tidak hanya memusuhi Rusia, tetapi juga terus melancarkan serangan terhadap pemerintahan IIA sejak kelompok itu mengambil alih Kabul pada Agustus 2021. ISKP menuduh Taliban terlalu pragmatis dan menjalin hubungan dengan negara-negara asing, sementara IIA menganggap ISKP sebagai ancaman terbesar terhadap stabilitas kekuasaan mereka.
Dalam laporan Radio Free Europe, para ahli menyebut perjanjian baru itu menunjukkan semakin dalamnya kerja sama strategis antara Rusia dan IIA. Namun mereka juga mengingatkan bahwa belum jelas sejauh mana kerja sama tersebut akan diwujudkan dalam bentuk bantuan militer langsung atau penjualan senjata skala besar.
“Perjanjian semacam ini dapat mencakup penjualan senjata, pelatihan, dukungan logistik, hingga bantuan teknis,” tulis laporan tersebut.
Kesepakatan tersebut juga diperkirakan akan memengaruhi dinamika geopolitik kawasan. Sejumlah analis menilai hubungan yang semakin erat antara Rusia dan IIA dapat mengubah keseimbangan pengaruh di Afghanistan, termasuk terhadap Pakistan, Cina, dan negara-negara Asia Tengah yang selama ini memantau perkembangan keamanan di negara tersebut.
Meski demikian, fokus utama kerja sama itu tetap berada pada upaya memerangi ISKP. Rusia dan IIA sama-sama melihat kelompok tersebut sebagai ancaman yang dapat mengguncang stabilitas kawasan jika tidak ditekan secara bersama. Dengan latar belakang serangkaian serangan ISKP di Afghanistan dan Rusia dalam beberapa tahun terakhir, kesepakatan militer terbaru ini menandai babak baru hubungan Moskow-Kabul yang kini semakin didorong oleh kepentingan keamanan bersama. (hanoum/arrahmah.id)
