TEL AVIV (Arrahmah.id) - Kabinet Keamanan 'Israel' dilanda syok dan kekecewaan mendalam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara sepihak mengumumkan penghentian rencana perang dan pembatalan serangan udara terhadap Iran. Pengumuman mengejutkan ini memicu reaksi keras dari jajaran pejabat tinggi Tel Aviv, di mana salah satu pejabat senior bahkan secara blak-blakan menuduh Washington telah melakukan pengkhianatan diplomatik.
"Trump telah menipu kita," ujar seorang pejabat tinggi 'Israel' kepada harian Yediot Ahronot pada Jumat (12/6/2026). Pejabat lain menambahkan, "Draf perjanjian yang sedang digodok ini terlihat sangat buruk dari sudut pandang kita. Ini adalah bencana besar karena tidak memenuhi satu pun prinsip dan target strategis yang kita tetapkan sejak awal perang."
Pengumuman sepihak Trump ini datang di waktu yang sangat sensitif bagi masa depan politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengingat 'Israel' akan segera menggelar Pemilu pada September atau Oktober mendatang.
Merespons draf kesepahaman AS-Iran tersebut, Netanyahu langsung merilis dua pernyataan berturut-turut demi menegaskan posisi kerasnya dan menenangkan publik domestik.
"Selama saya masih menjabat sebagai Perdana Menteri 'Israel', Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Saya dan Presiden Trump sepenuhnya sepakat dalam prinsip dasar ini. Iran bertekad menghancurkan negara Yahudi, dan selama saya memimpin, hal itu tidak akan terjadi," tegas Benjamin Netanyahu.
Dalam upaya merumuskan kompromi regional, Tel Aviv secara ketat menetapkan empat tuntutan mutlak yang menjadi garis merah bagi 'Israel' dalam menghadapi setiap perjanjian akhir terkait berkas Iran.
Tuntutan pertama berfokus pada pembersihan total yang mewajibkan pembuangan seluruh material serta stok uranium yang telah diperkaya keluar dari wilayah kedaulatan Iran. Langkah ini harus dibarengi dengan pembongkaran situs secara radikal, yang mencakup penghancuran total seluruh infrastruktur serta instalasi pengayaan nuklir bawah tanah milik Teheran.
Selain mematikan ambisi nuklirnya, 'Israel' juga menuntut pengekangan rudal melalui pemberlakuan sanksi ekonomi dan pembatasan sangat ketat terhadap program pengembangan rudal balistik Iran. Terakhir, jaminan keamanan tersebut wajib disempurnakan dengan pemutusan proksi, yang mengharuskan penghentian total seluruh aliran dana segar serta dukungan logistik dari Teheran kepada faksi-faksi sekutunya di kawasan, khususnya pergerakan Hamas di Gaza dan milisi Hizbullah di Lebanon.
Analis politik Yedioth Ahronot, Itamar Eichner, mengungkapkan bahwa intelijen 'Israel' sebenarnya mengendus adanya kemajuan dalam komunikasi rahasia antara AS dan Iran yang dimediasi oleh Qatar. Namun, Tel Aviv sama sekali tidak mengira Trump akan mengumumkan draf tersebut secepat ini secara terbuka, tepat di saat Kabinet Terbatas 'Israel' sedang menggelar rapat darurat untuk membahas skenario eskalasi militer melawan Teheran.
Pihak 'Israel' menilai Teheran telah sukses besar memenangi perang diplomasi ini. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dianggap berhasil memanfaatkan waktu untuk menyelamatkan ekonomi mereka dari sanksi tanpa harus kehilangan program nuklirnya. Di sisi lain, harian Maariv melaporkan bahwa meski nota kesepahaman ini matang dengan cepat, 'Israel' tetap berharap draf ini kolaps di tengah jalan.
Mengenai front utara, pejabat tinggi 'Israel' memastikan gencatan senjata di Lebanon tetap berjalan, namun militer 'Israel' (IDF) akan tetap mempertahankan kebebasan bertindak penuh untuk menyerang setiap ancaman baru.
Menariknya, Channel 14, saluran televisi sayap kanan yang dikenal dekat dengan lingkaran Netanyahu, mempertanyakan momentum pengumuman Trump yang bertepatan persis dengan pembukaan Piala Dunia (World Cup) 2026 di mana Amerika Serikat bertindak sebagai tuan rumah utama.
Saluran tersebut menganalisis bahwa pembatalan perang dan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz sengaja diledakkan ke media bersamaan dengan upacara pembukaan sepak bola dunia demi memberikan citra stabilitas, keamanan, dan penurunan tensi regional yang dibutuhkan Washington untuk menyukseskan turnamen raksasa tersebut.
Meski pejabat Gedung Putih membantah asumsi tersebut, bagi publik 'Israel', timing pengumuman ini memperkuat kesan bahwa kepentingan strategis Tel Aviv telah dikorbankan demi agenda domestik Amerika Serikat. (zarahamala/arrahmah.id)
