TEHERAN (Arrahmah.id) - Otoritas militer Iran secara resmi membantah bertanggung jawab atas serangan yang menghantam Bandara Internasional Kuwait. Teheran menolak keras berbagai laporan serta foto-foto yang beredar di media sosial yang mengaitkan kerusakan fasilitas sipil tersebut dengan operasi pesawat tanpa awak milik militer Iran pada Rabu (3/6/2026).
Kantor Berita Tasnim mengutip sumber militer senior Iran yang menegaskan bahwa bukti-bukti foto kerusakan akibat hantaman drone Iran tersebut merupakan rekayasa rapuh yang diciptakan oleh musuh. Pihak Teheran menilai terdapat kejanggalan indikator waktu yang fatal antara material foto yang beredar dengan lini masa riil operasi militer yang diluncurkan oleh Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Otoritas militer Iran membeberkan dua poin teknis utama untuk mematahkan tuduhan bahwa mereka menyasar fasilitas sipil Kuwait. Poin pertama terkait dengan anomali waktu foto, di mana sumber resmi menyatakan bahwa armada drone yang diluncurkan oleh Pasukan Dirgantara IRGC menyerang situs militer Amerika Serikat tepat pada tengah malam di bawah kegelapan total, sedangkan foto-foto kerusakan bandara yang dituduhkan oleh musuh justru memperlihatkan kondisi lanskap pada siang hari bolong.
Poin kedua adalah adanya jarak geografis yang jauh, mengingat target militer yang ditetapkan oleh IRGC sebenarnya berjarak lebih dari 40 kilometer dari lokasi Bandara Internasional Kuwait. Terkait hal tersebut, sumber militer yang dikutip Kantor Berita Fars menegaskan bahwa tingkat presisi tinggi dari armada drone Iran membuatnya mustahil untuk meleset sejauh puluhan kilometer hingga keliru menghantam bandara sipil.
Bantahan resmi Teheran ini mencuat beberapa jam setelah pemerintah Kuwait mengumumkan bahwa bandara internasional mereka dihantam serangan udara yang menewaskan satu orang dan melukai puluhan warga sipil.
Juru Bicara IRGC, Hossein Mohebi, menegaskan melalui saluran resmi Telegram Garda Revolusi bahwa target asli dari operasi udara malam itu adalah Pangkalan Udara Ali Al Salem (Ali Al Salem Air Base). Fasilitas tersebut merupakan pangkalan militer taktis yang digunakan secara aktif oleh pasukan Angkatan Darat dan skuadron helikopter tempur Amerika Serikat yang ditempatkan di Kuwait. Mohebi memastikan bahwa terminal penumpang bandara sipil tidak pernah masuk dalam daftar target operasi mereka.
Sebaliknya, pemerintah Iran menuding insiden berdarah di bandara sipil tersebut disebabkan oleh kegagalan sistem pertahanan udara buatan Amerika Serikat sendiri yang ditempatkan di Kuwait.
Menurut penjelasan Mohebi, hancurnya terminal penumpang Bandara Internasional Kuwait diakibatkan oleh jatuhnya rudal pencegat Patriot milik AS. Rudal penangkis tersebut dilaporkan mengalami malafungsi sistem kontrol setelah gagal mengintersepsi proyektil-proyektil rudal dan drone datang yang diluncurkan oleh Iran.
"Kerusakan parah pada bangunan penumpang di bandara tersebut murni akibat jatuhnya salah satu rudal dari sistem pertahanan udara Patriot Amerika Serikat, setelah rudal tersebut gagal mencegat proyektil-proyektil milik Iran di udara," pungkas Mohebi. Pihak Iran menilai tuduhan sepihak ini merupakan bagian dari operasi psikologis musuh untuk mengaburkan fakta di lapangan. (zarahamala/arrahmah.id)
