TEHERAN (Arrahmah.id) - Komandan militer tertinggi Iran pada Selasa (3/11/202) memperingatkan bahwa angkatan bersenjata negara itu akan merespons setiap ancaman tanpa “batasan geografis,” seraya menjabarkan lima syarat untuk mewujudkan keamanan yang langgeng.
Menurut IRIB, Mayor Jenderal Abdollahi—kepala staf Angkatan Bersenjata Iran sekaligus komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya—menyatakan bahwa aset material maupun non-material milik pihak lawan Iran berada dalam jangkauan kekuatan militernya.
Ia mengklaim bahwa Iran telah muncul sebagai “pusat kekuatan global keempat” melalui kendalinya atas Selat Hormuz—jalur vital bagi lalu lintas energi—serta kemampuannya dalam menentukan aturan akses ke jalur perairan tersebut, lansir Anadolu.
Abdollahi memaparkan lima syarat yang dianggap penting oleh Teheran untuk menciptakan keamanan yang berkelanjutan.
Syarat pertama menuntut diakhirinya perang di semua front, khususnya di Lebanon dan Jalur Gaza, sembari menolak negosiasi yang dilakukan di bawah ancaman militer.
Syarat kedua menuntut pencabutan total sanksi terhadap Iran serta pelepasan aset-aset Iran yang dibekukan.
Syarat ketiga menuntut kompensasi atas kerusakan yang diakibatkan oleh perang; Abdollahi menegaskan bahwa Iran memandang dirinya sebagai “pihak kreditur, bukan debitur.”
Syarat keempat menuntut pengakuan atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz, serta penggantian kerangka keamanan yang dipimpin oleh AS dengan apa yang ia sebut sebagai “mekanisme Hormuz.”
Syarat kelima menuntut adanya jaminan agar tidak terjadi lagi serangan militer, serta pembentukan pengaturan keamanan yang dipimpin oleh negara-negara di kawasan tersebut.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang terus berlanjut antara Iran dan AS, menyusul perang yang dilancarkan oleh Washington dan "Israel" terhadap Teheran pada 28 Februari.
Iran telah berulang kali menuntut diakhirinya blokade angkatan laut AS serta penghapusan sanksi ekonomi sebagai bagian dari upaya untuk mencapai penyelesaian diplomatik.
Pada Selasa, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf, yang memimpin tim negosiasi Teheran, menyatakan bahwa Iran telah memberikan tanggapan yang “tegas dan rasional” kepada Washington. Kini, AS harus memutuskan apakah mereka akan mencegah terjadinya perang kembali.
Qalibaf juga memperingatkan bahwa setiap tindakan militer baru dari pihak AS akan memicu respons Iran yang “tidak dapat diprediksi” dan tidak dibatasi oleh batasan geografis apa pun. (haninmazaya/arrahmah.id)
