KABUL (Arrahmah.id) - Alexander De Croo, administrator Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), dan Barham Salih, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), tiba di Kabul pada Ahad (5/7/2026).
Selama pertemuan dengan Wakil Menteri Pengungsi dan Repatriasi Imarah Islam, kedua pejabat senior PBB tersebut mengatakan tujuan kunjungan bersama mereka adalah untuk mendengarkan langsung dari rakyat Afghanistan dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana Perserikatan Bangsa-Bangsa dapat mendukung solusi praktis di negara tersebut, lansir Tolo News (6/7).
UNDP mengatakan kepada Tolo News: "Misi bersama ini memberikan kesempatan untuk mendengarkan langsung dari rakyat Afghanistan dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana Perserikatan Bangsa-Bangsa dapat mendukung solusi praktis yang digerakkan oleh masyarakat setempat."
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan kunjungan tersebut menggarisbawahi perlunya dukungan yang berkelanjutan, terkoordinasi, dan berkesinambungan bagi rakyat Afghanistan, khususnya perempuan, pengungsi yang kembali, pengungsi internal (IDP), dan komunitas tuan rumah.
Organisasi tersebut juga memperingatkan bahwa Afghanistan terus menghadapi pemulangan pengungsi skala besar, tantangan ekonomi, dampak perubahan iklim, dan tekanan yang meningkat pada layanan publik penting, menekankan bahwa negara tersebut membutuhkan dukungan berkelanjutan dari komunitas internasional.
Menurut Kementerian Pengungsi dan Repatriasi Imarah Islam, mengutip Barham Salih, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, "Tujuan kunjungan kami adalah untuk menilai secara cermat tantangan yang dihadapi warga Afghanistan dan mengeksplorasi cara untuk mengatasinya. Sejak 2023, enam juta warga Afghanistan telah kembali ke negara itu, menjadikannya salah satu gerakan pemulangan terbesar di dunia dan mencakup sekitar seperempat dari total pengungsi dan orang yang kembali secara global."
Kunjungan oleh dua pejabat senior PBB ini terjadi ketika Afghanistan mengalami pemulangan migran skala besar dari negara-negara tetangga sementara bantuan kemanusiaan ke negara tersebut telah menurun secara signifikan. (haninmazaya/arrahmah.id)
