Memuat...

Jangan Lewatkan! Rahasia Ibadah Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

Oleh KH Bachtiar NasirDa'i dan Ulama Nasional
Rabu, 11 Maret 2026 / 22 Ramadan 1447 10:46
Jangan Lewatkan! Rahasia Ibadah Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan
Jangan Lewatkan! Rahasia Ibadah Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

SEPULUH hari terakhir bulan Ramadhan memiliki kedudukan yang sangat istimewa bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Pada waktu inilah mereka semakin meningkatkan semangat ibadah dibandingkan hari-hari sebelumnya. Mereka memfokuskan diri untuk memperbanyak amal, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Pada masa ini, mereka benar-benar ingin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka merasakan hubungan yang sangat dekat dengan-Nya sehingga tidak ingin disibukkan oleh urusan dunia, meskipun urusan tersebut halal dan dibolehkan.

قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

Aisyah ra. berkata, “Pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah ﷺ lebih giat beribadah dibandingkan hari-hari lainnya.” (Riwayat Muslim).

Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan inilah Allah Ta’ala menyediakan satu malam yang sangat istimewa bagi umat Islam, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu, Rasulullah ﷺ memberikan teladan kepada umatnya agar benar-benar memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jangan sampai kita menjadi orang yang merugi karena tidak memanfaatkan kesempatan besar ini. Allah telah menyediakan pahala yang sangat besar pada malam Lailatul Qadar.

Dalam sebuah hadits dijelaskan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ﷺ bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang terhalang dari kebaikan malam itu, maka sungguh ia telah terhalang dari banyak kebaikan.” (Riwayat An-Nasa’i).

Di antara amalan yang selalu dilakukan Rasulullah ﷺ pada sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah:

Pertama, beri’tikaf di masjid.

Rasulullah ﷺ memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah dengan melakukan i’tikaf.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ

Dari Abdullah bin Umar ra., ia berkata, “Rasulullah ﷺ selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Kedua, menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah.

Beliau memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَخْلِطُ فِي الْعِشْرِينَ الْأُولَى مِنْ نَوْمٍ وَصَلَاةٍ، فَإِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ جَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

Dari Aisyah ra., ia berkata, “Pada dua puluh hari pertama Ramadhan, Nabi ﷺ masih mencampurkan antara tidur dan shalat. Namun ketika masuk sepuluh hari terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah.” (Riwayat Ahmad).

Ketiga, membangunkan keluarga untuk beribadah.

Rasulullah ﷺ juga mengajak keluarganya untuk menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan agar mereka mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ، شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Dari Aisyah ra., ia berkata, “Apabila memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, Nabi ﷺ mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Ungkapan “mengencangkan sarung” dalam hadits tersebut menunjukkan kesungguhan Nabi ﷺ dalam beribadah serta meninggalkan kesibukan dunia yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah.

Keempat, memperbanyak doa memohon ampunan.

Pada malam-malam terakhir Ramadhan, Rasulullah ﷺ juga menganjurkan umatnya untuk memperbanyak doa, khususnya doa yang dibaca ketika bertemu dengan malam Lailatul Qadar.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّهَا قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، مَاذَا أَدْعُو بِهِ؟ قَالَ: قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Aisyah ra. bertanya, “Wahai Rasulullah, jika aku mendapatkan malam Lailatul Qadar, doa apa yang harus aku baca?”

Beliau menjawab, “Bacalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai memaafkan, maka maafkanlah aku).” (Riwayat Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i).

Itulah beberapa amalan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Semua itu dilakukan agar seorang hamba dapat merasakan kenikmatan beribadah dan kedekatan dengan Allah Ta’ala, serta meraih kemuliaan malam Lailatul Qadar yang penuh keberkahan.

Wallahu a’lam bish shawab.

(*/arrahmah.id)

Editor: Ukasyah