QUNAITIRAH (Arrahmah.id) - Pasukan keamanan Republik Arab Suriah telah menangkap sembilan anggota sel yang berafiliasi dengan ISIS di provinsi selatan Quneitra, kata pihak berwenang pada Ahad (9/8/2026), di tengah operasi yang semakin intensif untuk menargetkan jaringan dan jalur pasokan kelompok militan tersebut.
Pasukan Keamanan Dalam Negeri, yang bekerja sama dengan Dinas Intelijen Umum, menahan para tersangka di Khan Arnabah, demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri yang disiarkan oleh kantor berita negara SANA.
Di antara mereka yang ditangkap terdapat sosok yang diduga sebagai pemimpin sel tersebut, Musab Khalil Al-Sheikh—yang dikenal dengan julukan "Al-Sini" atau "Si Orang Tiongkok"—yang menurut pihak berwenang sebelumnya pernah beroperasi bersama ISIS di Damaskus dan wilayah sekitarnya, Badia Suriah, serta desa-desa di kawasan Hauran, lansir Arab News ((10/8).
Kementerian menyatakan bahwa Al-Sheikh juga pernah menjadi bagian dari kelompok yang berafiliasi dengan Abu Abdulrahman Al-Iraqi, seorang pemimpin ISIS yang tewas di Daraa pada 2022.
Penyelidikan awal menemukan bahwa sel tersebut telah menjalankan berbagai tugas untuk ISIS, termasuk mengumpulkan senjata serta mengangkut bahan peledak dan material terkait, selain aktivitas lain yang bertujuan mendukung operasi kelompok tersebut, ungkap kementerian.
Penangkapan ini merupakan rangkaian terbaru dari operasi pasukan keamanan Suriah terhadap sisa-sisa anggota ISIS sejak otoritas transisi berkuasa menyusul runtuhnya pemerintahan rezim Assad pada Desember 2024.
Pada akhir Juli, pasukan keamanan menangkap sejumlah orang yang diduga anggota ISIS dalam penggerebekan terkoordinasi di Aleppo dan kota terdekat, Al-Bab; dalam operasi itu, ditemukan gudang berisi bahan peledak, bom rakitan (IED), dan senjata, menurut Kementerian Dalam Negeri.
Sebelumnya pada Juli, pasukan keamanan menewaskan dua militan ISIS yang diduga sedang memasang bom rakitan di dekat kawasan Sayyidah Zaynab, sebelah selatan Damaskus. Pihak berwenang menyatakan bahwa senjata dan bahan peledak ditemukan di lokasi kejadian dan para pria tersebut diketahui berafiliasi dengan ISIS.
Kementerian menyatakan bahwa ISIS memanfaatkan kekosongan keamanan—yang timbul akibat runtuhnya institusi keamanan dan militer rezim sebelumnya—untuk memindahkan para petempur dari gurun Suriah ke wilayah perkotaan serta memperoleh senjata dan bahan peledak dari berbagai gudang penyimpanan yang ditinggalkan.
Meskipun ISIS kehilangan wilayah kekuasaan terakhirnya di Suriah pada 2019, kelompok tersebut tetap mempertahankan keberadaannya melalui sel-sel tidur dan jaringan rahasia, khususnya di wilayah utara Suriah dan kawasan gurun bagian tengah. Otoritas Suriah telah meningkatkan operasi terhadap kelompok tersebut dalam beberapa bulan terakhir, dengan menyatakan bahwa mereka telah melumpuhkan puluhan sel dan menangkap ratusan orang yang diduga sebagai anggota.
Kementerian Dalam Negeri juga menuduh ISIS sebagai pelaku pengeboman Gereja Mar Elias di Damaskus pada bulan Juni 2025—yang menewaskan 25 orang dan melukai 63 orang—serta merancang serangan yang bertujuan memicu ketegangan sektarian, termasuk rencana yang diduga menargetkan tempat suci pengikut Syiah. (haninmazaya/arrahmah.id)
