Memuat...

Indonesia Berjuang Mengatasi Kebakaran Hutan dan Lahan, Termasuk di Bromo

Hanin Mazaya
Senin, 10 Agustus 2026 / 27 Safar 1448 18:07
Indonesia Berjuang Mengatasi Kebakaran Hutan dan Lahan, Termasuk di Bromo
Para pejabat menyatakan bahwa medan yang sulit, angin kencang, dan kondisi kering menghambat upaya pemadaman, sementara pihak berwenang berpacu mencegah kebakaran meluas lebih jauh. (Foto: AP)

PASURUAN (Arrahmah.id) - Indonesia pada Senin (10/8/2026) meningkatkan upaya untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang kian marak di seluruh penjuru negeri. Pihak berwenang mengerahkan helikopter, ratusan petugas pemadam kebakaran, dan personel penanggulangan bencana seiring meluasnya kobaran api di taman nasional populer di Jawa Timur serta lahan gambut di Sumatra selama musim kemarau yang lebih kering dari biasanya.

Otoritas Jawa Timur menyatakan bahwa kebakaran terbesar terjadi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, di mana sekitar 743 hektare lahan telah hangus terbakar.

Cuaca kering dan kondisi El Nino yang semakin menguat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan selama puncak musim kemarau, demikian pernyataan Kementerian Kehutanan Indonesia pada Ahad (9/8), seperti dilansir AP.

Kementerian tersebut menyebutkan bahwa api telah menghanguskan area luas yang terdiri dari padang rumput kering, vegetasi, dan bunga edelweiss yang dilindungi, seiring merambatnya api ke kawasan Penanjakan—titik pandang populer bagi wisatawan yang mengunjungi Gunung Bromo, salah satu objek wisata paling terkenal di Indonesia. Tidak ada laporan mengenai korban luka maupun evakuasi warga.

Ratusan petugas pemadam kebakaran, anggota TNI, polisi, petugas taman nasional, dan sukarelawan dikerahkan untuk memadamkan api. Pihak berwenang telah menutup taman nasional tersebut bagi pengunjung hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Hingga Senin, setidaknya tiga helikopter telah dikerahkan untuk operasi pengeboman air (water bombing) di titik-titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Sementara itu, tim darat melakukan pemadaman secara manual, operasi pendinginan, patroli, serta pembuatan sekat bakar guna mencegah api meluas lebih jauh.

"Kami terus mengoordinasikan upaya penanganan dan antisipasi kebakaran hutan dan lahan," ujar Wakil Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat mengunjungi lokasi kebakaran pada Ahad. Ia mengimbau masyarakat untuk menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran baru, seperti membuang puntung rokok sembarangan dan membuka lahan dengan cara dibakar.

Kebakaran di kawasan Bromo ini terjadi di tengah laporan mengenai sejumlah kebakaran hutan dan lahan lainnya di berbagai wilayah Indonesia selama musim kemarau yang ekstrem ini.

Lebih dari 50 hektare lahan gambut telah terbakar di Provinsi Jambi, Pulau Sumatra, yang menyebabkan kabut asap pekat di beberapa wilayah dan memicu kekhawatiran akan memburuknya kualitas udara. Kebakaran terbesar dilaporkan terjadi di Desa Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, di mana puluhan hektare perkebunan kelapa sawit milik warga setempat musnah dilalap api. Kebakaran tersebut telah berlangsung sejak Rabu.

Sekitar 300 petugas pemadam kebakaran dan personel penanggulangan bencana telah dikerahkan untuk memadamkan api tersebut. Para pejabat menyatakan bahwa lapisan tanah gambut yang dalam, keterbatasan pasokan air, akses yang sulit, dan angin kencang telah menyulitkan upaya penanganan, meskipun tiga helikopter telah dikerahkan untuk operasi pemadaman dari udara.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia memperkirakan bulan Agustus dan September sebagai masa paling kritis, karena vegetasi yang kering dan angin kencang menciptakan kondisi yang memicu penyebaran kebakaran secara cepat.

Kebakaran hutan di Pulau Sumatra dan Kalimantan sering kali terjadi selama musim kemarau. Kebakaran tersebut kerap dipicu secara ilegal oleh pemilik perkebunan atau petani tradisional untuk membuka lahan tanam, dan asap akibat pembakaran itu secara berkala menyelimuti sebagian wilayah Asia Tenggara dengan kabut asap yang berbahaya.  (haninmazaya/arrahmah.id)