TEPI BARAT (Arrahmah.id) - Ketegangan di wilayah pendudukan Tepi Barat meningkat tajam dalam 48 jam terakhir. Pusat Informasi Palestina, Ma’ta, mencatat sedikitnya 19 operasi perlawanan dilakukan oleh warga Palestina sebagai respons terhadap rangkaian penggerebekan militer 'Israel' dan meningkatnya kekerasan oleh pemukim ilegal.
Data Ma’ta merinci bahwa operasi tersebut mencakup 12 konfrontasi lapangan, lima insiden warga yang berhasil memukul mundur serangan pemukim, serta dua aksi demonstrasi di Al-Bireh dan Nablus. Bentrokan pecah di berbagai titik, termasuk Al-Ram dan Hizma di Yerusalem, serta di wilayah Al-Mughayyir, Deir Abu Mash’al, Beitunia, Beit Furik, Awarta, Al-Hara’iq, Qalqilya, dan Arab Al-Rashayda. Di Arab Al-Rashayda, penduduk berhasil menghalau serangan pemukim yang dilaporkan mengakibatkan tiga orang pemukim terluka.
Di sisi lain, militer 'Israel' melancarkan kampanye penangkapan skala besar di berbagai kegubernuran, dengan fokus utama di Hebron (Al-Khalil), Nablus, dan Betlehem. Puluhan warga Palestina dilaporkan ditahan dalam operasi yang kerap disertai dengan penggerebekan rumah dan penyitaan barang pribadi.
Di Ramallah, pasukan pendudukan menahan dua wanita, Jamila Dahou dan Jamila Kanaan. Sementara di Hebron, tujuh warga ditahan, termasuk lansia berusia 66 tahun, Ataf Mohammad Radwan Bader, serta seorang akademisi, Dr. Wadih Mahmoud al-Barbarawi. Pasukan 'Israel' juga melakukan tindakan represif dengan menyita kendaraan dan mainan anak-anak dari kediaman warga, serta menutup akses jalan menggunakan gerbang besi dan blok beton.
Kampanye penangkapan ini turut menargetkan kalangan jurnalis dan tokoh perempuan. Di Nablus, pasukan 'Israel' menahan Maysar al-Faqih dan Faten Hanaysheh, di mana komputer milik Hanaysheh turut disita. Di Betlehem, seorang jurnalis senior berusia 72 tahun, Hassan Mahmoud Abdel Jawad al-Faraj, ditahan bersama Adham Jamal Ibrahim Faraj setelah penggerebekan di kamp pengungsi Dheisheh.
Selain penangkapan, otoritas 'Israel' memperketat blokade wilayah dengan menutup pintu masuk utama ke desa-desa di selatan Betlehem, seperti Marah Rabah dan Al-Manshiyya, yang semakin melumpuhkan mobilitas warga antara Betlehem dan Hebron. (zarahamala.arrahmah.id)
