Memuat...

Jenderal Qaani: 'Israel' Akan Dipaksa Angkat Kaki dari Lebanon

Zarah Amala
Jumat, 26 Juni 2026 / 11 Muharam 1448 10:01
Jenderal Qaani: 'Israel' Akan Dipaksa Angkat Kaki dari Lebanon
Komandan Iran Esmail Qaani. (Foto: melalui Wikimedia Commons)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Brigjen Esmail Qaani, mengeluarkan peringatan keras kepada 'Israel' pada Kamis (25/6/2026). Qaani menegaskan bahwa keberadaan militer 'Israel' di Lebanon selatan tidak akan bertahan lama, dan Tel Aviv pada akhirnya akan dipaksa untuk menarik seluruh pasukannya dari wilayah tersebut.

"Zionis harus meninggalkan seluruh Lebanon karena tanah ini adalah arena keteguhan dan perlawanan. Jika kalian tidak menarik diri dari Lebanon hari ini atas kemauan sendiri, besok kalian akan dipaksa melarikan diri dalam rasa malu dan kekalahan yang memalukan," ujar Qaani dalam pesan yang ditujukan langsung kepada pihak 'Israel'.

Dalam pidatonya, Qaani juga mengungkit kembali peristiwa penarikan mundur total 'Israel' dari Lebanon selatan pada 2000 silam, seraya mengingatkan pidato bersejarah mantan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Hassan Nasrallah, di kota Bint Jbeil. "Janji itu masih hidup, dan adegan tersebut akan terulang kembali," tambahnya.

Pernyataan keras Qaani muncul di tengah momentum diplomatik pasca-kesepakatan nota kesepahaman (MoU) Iran-AS di Swiss, di mana kedaulatan Lebanon menjadi salah satu poin krusial yang dibahas.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, sebelumnya mengonfirmasi adanya kesepakatan dengan Washington untuk membentuk Pusat Koordinasi guna memfasilitasi pemulangan pengungsi sipil dan mengawasi penarikan pasukan 'Israel', serta mendirikan Sel Penyelesaian Konflik untuk memantau gencatan senjata. Qatar dan Pakistan bertindak sebagai mediator utama dalam proses ini.

Meskipun ada kemajuan di meja perundingan, otoritas militer Lebanon membantah laporan yang menyebutkan bahwa pasukan 'Israel' telah mulai mengosongkan area yang diklaim sebagai zona penyangga. Sumber militer senior Lebanon menegaskan bahwa tentara 'Israel' masih bercengkerama dan mempertahankan posisi mereka di wilayah yang baru saja dicaplok.

Kesenjangan arah politik antara Tel Aviv, Beirut, dan Teheran semakin melebar setelah Menteri Pertahanan 'Israel', Israel Katz, bersumpah bahwa pasukannya tidak akan mundur dari Lebanon selatan, bahkan jika Amerika Serikat yang memintanya.

Menanggapi ketegaran 'Israel' tersebut, anggota parlemen dari fraksi Hizbullah, Hassan Fadlallah, menekankan bahwa tidak ada kesepakatan akhir yang didukung Washington yang akan berhasil tanpa penarikan penuh 'Israel' hingga ke batas internasional. Menurut Fadlallah, keberhasilan diplomasi regional yang sedang berkembang ini pada akhirnya bersandar pada kekuatan di medan tempur.

Di tengah ketegangan politik ini, situasi di lapangan tetap memakan korban. Militer 'Israel' mengonfirmasi bahwa salah satu tentaranya, Sersan Mayor (Res.) Basil Sweid (32), tewas akibat truk bahan bakar militer yang terbalik dalam aktivitas operasional di Lebanon selatan.

Sejak agresi militer 'Israel' ditingkatkan pada 2 Maret lalu, otoritas Lebanon mencatat dampak kemanusiaan yang sangat masif, di mana lebih dari 4.000 orang tewas, 12.000 lainnya luka-longsor, dan lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka akibat pendudukan yang masih berlangsung. (zarahamala/arrahmah.id)