Memuat...

Kabut Asap Karhutla Kalbar Menyeberang ke Malaysia, Enam Sekolah di Sarawak Hentikan Pembelajaran Tatap Muka

Ameera
Jumat, 21 Agustus 2026 / 9 Rabiulawal 1448 13:58
Kabut Asap Karhutla Kalbar Menyeberang ke Malaysia, Enam Sekolah di Sarawak Hentikan Pembelajaran Tatap Muka
Kabut Asap Karhutla Kalbar Menyeberang ke Malaysia, Enam Sekolah di Sarawak Hentikan Pembelajaran Tatap Muka

JAKARTA (Arrahmah.id) — Persebaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat kini telah menembus wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.

Kondisi tersebut memicu lonjakan polusi udara di Sarawak dan mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah.

Wilayah Tebedu, Sarawak, mencatat Indeks Pencemaran Udara (API) menembus angka 200 pada 12 Agustus. Kondisi tersebut masuk kategori sangat tidak sehat dan mendorong pemerintah setempat mengalihkan kegiatan belajar mengajar menjadi pembelajaran daring.

Sedikitnya enam sekolah di Sarawak menghentikan sementara aktivitas belajar tatap muka. Kebijakan tersebut ditempuh sebagai langkah perlindungan terhadap siswa dan tenaga pendidik dari paparan asap yang semakin pekat.

Kondisi serupa juga terjadi di Kuching. Pada 11 Agustus, lembaga pemantau kualitas udara IQAir sempat menempatkan Kuching sebagai kota paling berpolusi di dunia. Buruknya kualitas udara tersebut dipengaruhi oleh asap kebakaran hutan dan lahan yang bergerak melintasi perbatasan.

Data resmi sistem pemantauan kualitas udara Malaysia juga menunjukkan sedikitnya 11 kawasan di Sarawak berada dalam kategori kualitas udara tidak sehat pada periode yang sama.

Kalimantan Barat Jadi Wilayah dengan Dampak Terparah

Eskalasi karhutla tahun ini terjadi ketika Indonesia memasuki puncak musim kebakaran pada Agustus dan September.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut enam provinsi menjadi wilayah prioritas penanganan karena memiliki kawasan gambut yang luas dan sangat rentan terbakar selama musim kemarau.

Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah dengan kondisi paling parah. Hingga 9 Agustus, luas area terbakar di provinsi tersebut mencapai sekitar 28.680 hektare.

Angka tersebut menyumbang lebih dari separuh total akumulasi luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas penanganan karhutla.

Sementara itu, estimasi LSM Madani Berkelanjutan menunjukkan angka yang lebih besar. Berdasarkan pemantauan mereka, sekitar 50.558 hektare lahan di Kalimantan Barat terindikasi terbakar.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan adanya variasi dalam metode pemantauan dan penghitungan luas area terbakar. Namun, kedua data tersebut sama-sama menunjukkan bahwa Kalimantan Barat menghadapi tekanan kebakaran yang serius.

Lonjakan kebakaran juga terlihat dari analisis spasial yang menunjukkan luas lahan terbakar di Indonesia meningkat hingga delapan kali lipat dari Juni ke Juli.

Platform pemantau satelit FireWatch bahkan mendeteksi lebih dari 154.000 titik panas di seluruh Indonesia hingga pertengahan Agustus.

Fenomena El Niño dengan kategori kuat turut memperburuk kondisi. Cuaca yang lebih kering membuat vegetasi dan lahan gambut menjadi lebih mudah terbakar, sementara proses pemadaman menjadi semakin sulit.

Pontianak Liburkan Sekolah

Dampak kabut asap juga dirasakan masyarakat di Kalimantan Barat. Pemerintah Kota Pontianak mengambil langkah perlindungan dengan meliburkan seluruh sekolah secara tidak terbatas akibat memburuknya kualitas udara.

Kebijakan tersebut diambil untuk mengurangi risiko paparan asap terhadap anak-anak yang merupakan kelompok rentan terhadap polusi udara.

Ancaman kebakaran juga mulai menjadi perhatian di wilayah Sumatra. Kebakaran lahan gambut di sejumlah daerah berpotensi menghasilkan asap dalam jumlah besar yang dapat terbawa angin menuju wilayah lain, termasuk Singapura.

Kondisi tersebut kembali menunjukkan bahwa karhutla di Indonesia memiliki dampak yang dapat meluas hingga lintas wilayah dan lintas negara.

Pusat Rehabilitasi Orangutan Terancam Api

Karhutla tidak hanya mengancam kesehatan manusia. Kebakaran juga mengancam satwa liar dan habitatnya.

Di Ketapang, Kalimantan Barat, kobaran api sempat mendekati pusat rehabilitasi orangutan milik Yayasan IAR Indonesia (YIARI). Lebih dari 60 orangutan Kalimantan berada di fasilitas tersebut.

Api dilaporkan sempat berada sekitar satu kilometer dari pusat rehabilitasi. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena angin berpotensi membuat kobaran api meluas menuju fasilitas rehabilitasi.

Melalui media sosial Instagram, YIARI menyampaikan kekhawatiran terhadap keselamatan orangutan yang berada di dalam pusat rehabilitasi.

“Api kini sangat dekat dengan pusat rehabilitasi orangutan, dan kami khawatir angin akan membuat api semakin meluas,” demikian pernyataan YIARI.

Petugas pemadam kebakaran akhirnya berhasil memadamkan kobaran utama pada 12 Agustus dini hari. Meski demikian, sisa asap tebal masih menyelimuti kawasan tersebut.

Ancaman terhadap habitat orangutan juga muncul di kawasan Hutan Sungai Putri. Sejumlah titik panas terdeteksi mendekati lanskap hutan yang menjadi habitat penting bagi ribuan orangutan liar.

Kebakaran Bromo Hanguskan 899 Hektare

Dampak kebakaran hutan juga terjadi di Pulau Jawa. Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mengalami kebakaran yang menghanguskan sekitar 899 hektare savana dan hutan.

Kebakaran tersebut turut memengaruhi aktivitas satwa liar. Sejumlah kera ekor panjang dilaporkan turun mendekati jalanan untuk mencari makanan.

Namun, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Rudijanta Tjahja Nugraha, memberikan klarifikasi bahwa kebakaran tidak berdampak langsung terhadap satwa liar.

Menurutnya, sebagian besar wilayah yang terbakar merupakan lanskap savana taman nasional sehingga dampak langsung terhadap satwa relatif terbatas.

Meski demikian, kebakaran di kawasan konservasi tetap menjadi perhatian karena dapat mengubah kondisi habitat serta memengaruhi ketersediaan sumber makanan bagi satwa dalam jangka panjang.

BNPB Kerahkan Puluhan Ribu Personel

BNPB menyatakan telah mengerahkan sekitar 48.000 personel gabungan untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah juga mengoperasikan 35 armada udara untuk mendukung operasi pengeboman air dan rekayasa cuaca.

Operasi pemadaman dilakukan untuk mencegah api meluas, khususnya di kawasan gambut yang memiliki tingkat kerentanan tinggi selama musim kemarau.

Namun, sejumlah organisasi masyarakat sipil menyoroti kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi peningkatan kecepatan penyebaran api tahun ini.

Kekhawatiran juga muncul terkait kapasitas anggaran penanggulangan bencana. Anggaran BNPB disebut mengalami penurunan drastis menjadi sekitar Rp491 miliar pada tahun ini.

Penurunan tersebut terjadi di tengah kebijakan pemerintah melakukan pengalihan anggaran untuk berbagai program prioritas nasional.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menangani kebakaran hutan dan lahan meskipun menghadapi tantangan anggaran dan kondisi cuaca.

Di tingkat daerah, keterbatasan anggaran juga menjadi sorotan. Di Provinsi Riau, misalnya, lembaga FITRA Riau mencatat anggaran penanganan kebakaran hanya sekitar Rp3,67 miliar untuk 2026.

Karhutla Berubah Menjadi Krisis Lintas Batas

Meluasnya karhutla di Kalimantan Barat menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan tidak lagi terbatas pada wilayah tempat api berkobar.

Kabut asap telah menyeberang ke Sarawak, mengganggu kualitas udara dan memaksa sekolah menghentikan pembelajaran tatap muka. Di Indonesia sendiri, masyarakat Pontianak menghadapi kondisi udara yang memburuk, sementara kawasan konservasi dan pusat rehabilitasi satwa ikut terancam.

Dengan Agustus dan September menjadi periode puncak musim kebakaran, risiko meluasnya karhutla masih tinggi. Ancaman tersebut semakin serius apabila titik panas terus bertambah dan kebakaran gambut tidak segera dikendalikan.

Kondisi ini menempatkan karhutla bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai masalah kesehatan publik, pendidikan, perlindungan satwa, serta hubungan lintas batas Indonesia dan Malaysia.

Upaya pencegahan dan pemadaman dini menjadi semakin penting agar krisis kabut asap tidak berkembang menjadi bencana regional yang lebih luas.

(ameera/arrahmah.id)