GAZA (Arrahmah.id) - Sistem keamanan 'Israel' di wilayah permukiman sekitar Gaza dibuat siaga setelah sebuah layang-layang sederhana dari Jalur Gaza melintasi perbatasan dan jatuh di kawasan permukiman 'Israel'.
Layang-layang tersebut ditemukan di Hutan Samahoni, dekat perbatasan Gaza. Setelah diperiksa, benda itu hanya berupa rangka ringan berlapis kain gelap dengan tulisan sederhana berbahasa Arab dan tidak ditemukan bahan peledak maupun bahan pembakar.
Meski demikian, pasukan keamanan dan militer 'Israel' dikerahkan untuk memeriksa lokasi.
Pejabat 'Israel' memperingatkan bahwa benda sederhana seperti layang-layang dapat menempuh jarak puluhan kilometer tergantung arah angin, kecepatan angin, dan desainnya.
Ketua Dewan Regional Sha'ar HaNegev Uri Epstein mengatakan, anggapan bahwa benda tersebut “hanya layang-layang” sudah tidak dapat diterima. Sementara Ketua Dewan Permukiman Sdot Negev Tamir Idan memperingatkan bahwa metode semacam itu berpotensi dikembangkan untuk membawa bahan peledak atau digantikan dengan drone.
Insiden tersebut juga memicu kritik terhadap sistem pemantauan Sky Spotter milik 'Israel' yang dirancang untuk mendeteksi benda-benda kecil seperti burung dan balon serta memperkirakan lokasi jatuhnya.
Sejumlah warga permukiman sekitar Gaza mempertanyakan mengapa sistem tersebut tidak mampu mendeteksi dan melacak layang-layang yang melintas dari Gaza.
Peristiwa itu juga memicu berbagai komentar dan sindiran di media sosial. Sebagian pengguna mengaitkannya dengan trauma serangan 7 Oktober 2023 dan mempertanyakan respons keamanan 'Israel' terhadap benda yang tidak membawa bahan berbahaya.
Insiden tersebut mengingatkan kembali pada 2018 ketika layang-layang dan balon pembakar yang diterbangkan dari Gaza menyebabkan ratusan kebakaran di wilayah sekitar Gaza dan merusak lahan pertanian 'Israel'. (zarahamala/arrahmah.id)
