GUANTANAMO (Arrahmah.id) — Lebih dari dua dekade setelah ditangkap di Pakistan, Khalid Sheikh Mohammed, terdakwa yang disebut Amerika Serikat sebagai “otak” serangan 11 September 2001, akhirnya dijadwalkan menjalani persidangan pada Juni 2028.
Hakim pengadilan militer Angkatan Udara Amerika Serikat, Letnan Kolonel Michael Shramm, pada Rabu (26/8/2026) memutuskan persidangan Khalid Sheikh Mohammed akan dimulai pada 5 Juni 2028 di pangkalan militer Amerika Serikat di Teluk Guantanamo, Kuba.
Hakim menolak usulan jaksa yang sebelumnya menginginkan persidangan dimulai pada Januari 2027. Dengan keputusan tersebut, proses persidangan baru akan dimulai sekitar 18 bulan setelah jadwal yang diajukan jaksa.
Dilansir dari Al Jazeera, Khalid Sheikh Mohammed telah menjadi tahanan Amerika Serikat selama lebih dari 20 tahun dan kasusnya merupakan salah satu perkara terorisme paling panjang dalam sejarah peradilan Amerika.
Masa kecil dan pendidikan
Khalid Sheikh Mohammed lahir pada 14 April 1965. Sejumlah sumber menyebut ia lahir di wilayah Balochistan, Pakistan, sementara sumber lainnya menyatakan ia dilahirkan di Kuwait.
Ia berasal dari keluarga konservatif. Ayahnya, Sheikh Mohammed Ali, bekerja sebagai imam masjid, sedangkan ibunya, Halimah, disebut bekerja memandikan jenazah perempuan Muslim.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Khalid melanjutkan studi ke North Carolina, Amerika Serikat. Ia kemudian memperoleh gelar teknik mesin pada 1986.
Pada 1992, ia mendapatkan gelar master dalam bidang budaya dan sejarah Islam melalui program korespondensi dari Universitas Punjab, Pakistan.

Dari Afghanistan hingga Al-Qaeda
Dalam perjalanan hidupnya, Khalid Sheikh Mohammed berpindah-pindah ke sejumlah negara. Komisi Amerika Serikat yang menyelidiki serangan 11 September menyebut ia tiba di Pakistan utara dan bertemu dengan tokoh Islam Abdul Rasul Sayyaf yang kemudian menjadi salah satu pembimbingnya.
Menurut komisi tersebut, Khalid berada di Afghanistan hingga 1992 sebelum kemudian pergi ke Bosnia untuk bergabung dalam perang melawan pasukan Serbia.
Perjalanan tersebut kemudian mempertemukannya dengan jaringan jihad internasional dan menarik perhatian pemimpin Al-Qaeda, Syaikh Osama bin Laden.
Khalid Sheikh Mohammed bertemu dengan bin Laden di Afghanistan pada 1996. Setelah serangan 11 September 2001, pemerintah Amerika Serikat menuduhnya sebagai salah satu perancang utama serangan tersebut.
Ditangkap di Pakistan dan dibawa ke Guantanamo
Khalid Sheikh Mohammed menjadi salah satu tokoh penting dalam jaringan Al-Qaeda sebelum ditangkap aparat Pakistan dalam operasi pada Maret 2003.
Majalah Amerika Serikat, Newsweek, mengutip pejabat keamanan yang menyebut penangkapan tersebut terjadi setelah seorang anggota aktif Al-Qaeda yang ditangkap sekitar sebulan sebelumnya memberikan informasi kepada aparat. Penangkapan itu disebut berkaitan dengan imbalan finansial.
Setelah ditangkap, Khalid ditahan selama sekitar tiga tahun di fasilitas rahasia milik CIA.
Pada September 2006, ia kemudian dipindahkan ke pangkalan militer Amerika Serikat di Teluk Guantanamo, Kuba.
Washington menyebutnya sebagai salah satu tahanan paling berharga karena informasi yang diyakini diketahuinya mengenai jaringan Al-Qaeda dan berbagai rencana serangan.
Namun, selama berada di fasilitas rahasia CIA, Khalid mengalami metode interogasi keras. Ia antara lain menjadi korban waterboarding atau simulasi penenggelaman serta kurang tidur.
Menurut laporan Senat Amerika Serikat yang diterbitkan pada 2014, CIA menggunakan apa yang disebut sebagai “teknik interogasi yang ditingkatkan” terhadap Khalid Sheikh Mohammed dan tahanan lainnya.
Laporan tersebut menyatakan Khalid dikenai waterboarding sebanyak 183 kali, yang digambarkan sebagai serangkaian tindakan yang membuatnya mengalami kondisi seolah-olah hampir tenggelam.

Mengaku terlibat dalam serangan 11 September
Pada 2007, Departemen Pertahanan Amerika Serikat merilis catatan persidangan tertutup di Guantanamo yang menyatakan Khalid Sheikh Mohammed mengakui perannya dalam serangan 11 September serta perencanaan sejumlah operasi lainnya.
Di antara rencana yang disebutkan adalah serangan terhadap Big Ben dan Bandara Heathrow di London.
Amerika Serikat menuduh Khalid merancang konspirasi untuk membajak pesawat dan menggunakannya sebagai senjata untuk menyerang World Trade Center di New York dan Pentagon di Washington pada 11 September 2001.
Serangan tersebut menewaskan hampir 3.000 orang. Pesawat yang dibajak menabrak dua menara World Trade Center dan Pentagon, sementara sebuah pesawat lainnya jatuh di sebuah lapangan di Pennsylvania.
Selain kasus 11 September, pemerintah Amerika Serikat juga menuduh Khalid terlibat dalam pengeboman World Trade Center pada 1993 yang menewaskan enam orang.
Ia juga dituduh terlibat dalam pembunuhan jurnalis Amerika Serikat Daniel Pearl pada 2002.
Pada 11 Februari 2008, Departemen Pertahanan Amerika Serikat secara resmi mendakwa Khalid Sheikh Mohammed, yang dikenal dengan inisial KSM, atas tanggung jawab dalam serangan 11 September melalui sistem komisi militer yang digunakan untuk mengadili tersangka terorisme.

Persidangan yang terus tertunda
Proses hukum terhadap Khalid Sheikh Mohammed dan terdakwa lainnya telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi salah satu kasus paling lama dalam sejarah peradilan Amerika Serikat.
Persidangan berulang kali tertunda akibat berbagai permohonan dari tim pembela serta persoalan logistik untuk membawa hakim, pengacara, dan staf pengadilan ke pangkalan militer Amerika Serikat di tenggara Kuba tersebut.
Pada 5 Juni 2008, sidang pertama Khalid Sheikh Mohammed bersama para terdakwa lainnya digelar di pengadilan militer Guantanamo.
Dalam persidangan, Khalid sempat menolak pengacara pembela yang ditunjuk untuknya. Ia menyatakan tidak ingin dibela oleh pengacara Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden George W. Bush.
Persidangan juga sempat diwarnai perdebatan mengenai keberadaan prajurit perempuan yang bertugas mengawal para tahanan ke ruang sidang.
Khalid mengatakan kehadiran tentara perempuan mengingatkannya pada penyiksaan dan penghinaan seksual yang menurut pengakuannya dilakukan CIA setelah ia ditangkap di Pakistan pada 2003.
Dalam persidangan lainnya, Khalid mengatakan kepada hakim, Kolonel Angkatan Laut Ralph Coleman:
“Kami adalah musuh kalian. Anda adalah perwira Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, dan saya serta saudara-saudara saya akan diadili oleh angkatan bersenjata yang sama yang membunuh rakyat kami.”
Empat terdakwa
Khalid Sheikh Mohammed dijadwalkan menjalani persidangan bersama tiga terdakwa lainnya yang dituduh terlibat dalam konspirasi serangan 11 September.
Mereka adalah:
- Walid bin Attash
- Ali Abdul Aziz Ali
- Mustafa Ahmed al-Hawsawi
Jadwal persidangan terbaru diumumkan setelah pengadilan banding federal Amerika Serikat menolak sebuah kesepakatan potensial pada musim panas tahun lalu.
Kesepakatan tersebut sebelumnya berpotensi memungkinkan Khalid Sheikh Mohammed mengaku bersalah dengan imbalan terhindar dari hukuman mati.
Dengan keputusan terbaru hakim militer, persidangan kini dijadwalkan dimulai pada 5 Juni 2028.
Guantanamo dan kontroversi “perang melawan teror”
Amerika Serikat menggunakan pangkalan angkatan laut Guantanamo sebagai tempat menahan sejumlah tersangka militan yang ditangkap dalam operasi “perang melawan teror” setelah serangan 11 September 2001.
Lokasi pangkalan yang terisolasi di Kuba tersebut menjadi salah satu simbol paling kontroversial dalam kebijakan penahanan Amerika Serikat.
Kasus Khalid Sheikh Mohammed menjadi perhatian internasional bukan hanya karena tuduhan keterlibatannya dalam serangan 11 September, tetapi juga karena lamanya proses hukum, dugaan penyiksaan selama penahanan rahasia CIA, serta perdebatan mengenai hak-hak hukum para tahanan.
Setelah lebih dari 20 tahun sejak penangkapannya, Khalid Sheikh Mohammed masih harus menunggu hingga Juni 2028 untuk menghadapi persidangan yang telah berulang kali tertunda.
(Samirmusa/arrahmah.id)
