Memuat...

Refleksi atas Kematian Ratko Mladić di Den Haag: Genosida, Ingatan, dan Politik Kekerasan dari Srebrenica ke Palestina dan Indonesia

Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman PutehDepartemen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh
Jumat, 28 Agustus 2026 / 16 Rabiulawal 1448 06:35
Refleksi atas Kematian Ratko Mladić di Den Haag: Genosida, Ingatan, dan Politik Kekerasan dari Srebrenica ke Palestina dan Indonesia
Ratko Mladić, mantan komandan militer Serbia Bosnia yang dihukum atas kejahatan perang dan genosida terkait pembantaian Srebrenica.

(Arrahmah.id) — Kematian Ratko Mladić—sosok yang dijuluki Butcher of Bosnia—di rumah sakit penjara PBB di Den Haag hari ini menutup satu bab biografis seorang pelaku genosida, tetapi sama sekali tidak menutup sejarah panjang kekerasan massal yang ia wakili. Mladić mati sebagai individu, namun struktur ideologi, militerisme, dan penyangkalan yang pernah memungkinkannya memerintahkan pembantaian lebih dari 8.000 laki-laki dan anak laki-laki Bosniak di Srebrenica tetap hidup dalam berbagai bentuk di dunia kontemporer (Nettelfield & Wagner, 1945).

Kematian ini menjadi momen reflektif untuk melihat bagaimana genosida bukan sekadar peristiwa historis yang terisolasi, tetapi sebuah pola global yang berulang—di Palestina, dalam Holocaust, dalam kekerasan kolonial Westerling, dalam pembantaian Pulot Cot Jeumpa, dan dalam genosida 1965 di Indonesia.

Srebrenica adalah ruang di mana genosida terus berlangsung dalam bentuk pencarian jenazah, identifikasi DNA, dan pemakaman tahunan. Proses ini menunjukkan bahwa genosida tidak berhenti pada momen pembunuhan, tetapi berlanjut dalam kehidupan keluarga korban (Nettelfield & Wagner, 1945).

Upaya menghitung korban—sekitar 8.000 lebih laki-laki dan anak laki-laki Bosniak—menjadi arena sengketa politik. Brunborg, Lyngstad, dan Urdal menunjukkan bahwa angka korban bukan sekadar statistik, tetapi dasar klaim hukum dan moral atas genosida (Brunborg et al., 2003).

Suara Perempuan sebagai Penjaga Memori

Leydesdorff menegaskan bahwa perempuan Srebrenica memikul beban ganda: kehilangan keluarga laki-laki dan menjadi penjaga memori kolektif (Leydesdorff, 2011). Kesaksian mereka mengubah Srebrenica dari sekadar tragedi militer menjadi tragedi manusia yang intim.

Mulaj menunjukkan bahwa makna Srebrenica terus diperebutkan dalam politik Bosnia dan Eropa (Mulaj, 2017). Simic bahkan mencatat adanya glorifikasi genosida di sebagian komunitas Serbia, hasil dari impunitas dan indoktrinasi negara (Simic, 2025).

Subotić mengingatkan bahwa membandingkan Srebrenica dengan Holocaust sering jatuh pada hirarki penderitaan yang problematis (Subotić, 2022). Namun, perbandingan yang hati-hati dapat memperluas pemahaman tentang genosida sebagai fenomena global.

Southwick menunjukkan bagaimana bahasa hukum internasional berjuang menamai yang “tak terkatakan” dalam putusan Krstić (Southwick, 2005). Hoare dan Honig menekankan bahwa Srebrenica adalah bagian dari strategi militer sistematis, bukan ledakan kebencian spontan (Hoare, 2021; Honig, 2007).

Palestina: Gaza, Nakba, dan Genosida yang Sedang Berlangsung

Nijim menempatkan Gaza sebagai studi kasus genosida modern: blokade, bombardemen, penghancuran infrastruktur sipil, dan pembunuhan massal warga sipil (Nijim, 2023). Abdullah menambahkan bahwa Palestina mengalami “genosida budaya” selama satu abad (Abdullah, 2019).

Shaw menunjukkan bahwa kekerasan di Gaza adalah bagian dari struktur kolonial-settler yang memproduksi kondisi genosidal (Shaw, 2025). Robinson mengaitkan genosida Palestina dengan krisis global kapitalisme dan sistem dunia (Robinson, 2024).

Rashed, Short, dan Docker menyebut penghancuran memori Nakba sebagai memoricide—bagian integral dari proyek genosida (Rashed et al., 2014). Bartov menempatkan Palestina dalam perspektif sejarah genosida global, termasuk Holocaust (Bartov, 2023).

Indonesia: Westerling, Pulot Cot Jeumpa, dan Genosida 1965

Kreike dan Raben mempertanyakan apakah kekerasan kolonial Belanda—penghancuran kampung, pembunuhan penduduk sipil, operasi militer sistematis—dapat dikategorikan sebagai genosida (Kreike, 2012; Raben, 2012).

Dalam konteks Westerling, eksekusi massal penduduk sipil menunjukkan pola kekerasan terorganisir yang menargetkan kelompok tertentu.

Thalal dan kolega menunjukkan bagaimana pembantaian Pulot Cot Jeumpa (1955) hidup sebagai memori yang diperebutkan antara negara dan masyarakat Aceh (Thalal et al., 2025).

Melvin mengajukan argumen kuat bahwa pembunuhan massal 1965–1966 harus dipahami sebagai genosida, dengan militer Indonesia sebagai aktor utama (Melvin, 2017; Melvin, 2018). Cribb menyoroti bagaimana peristiwa ini diajarkan (atau disembunyikan) dalam pendidikan tentang genosida (Cribb, 2004).

Politik Ingatan: Dari Den Haag ke Gaza, dari Srebrenica ke Indonesia

Kematian Mladić di Den Haag mengundang pertanyaan etis: apa arti keadilan ketika sebagian pelaku genosida di dunia lain tidak pernah diadili? Srebrenica memiliki pengadilan internasional; Gaza tidak. Westerling tidak pernah dihukum. Pulot Cot Jeumpa tidak pernah diakui sebagai genosida. 1965–1966 masih dibungkam oleh negara.

Etika ingatan menuntut kita untuk tidak berhenti pada kepuasan bahwa “Butcher of Bosnia” akhirnya mati di penjara. Sebaliknya, kematian Mladić harus menjadi momen untuk memperluas lensa: melihat bagaimana struktur genosida—dehumanisasi, impunitas, penyangkalan—berulang di berbagai konteks.

Lemkin merumuskan genosida sebagai penghancuran kelompok sebagai kelompok (Lemkin, 1946). Shaw, Schabas, Simon, dan Newbury mengembangkan konsep ini dalam berbagai arah: hukum, sosiologi, politik, dan moral (Shaw, 2013; Schabas, 2000; Simon, 1996; Newbury, 1998). Stanton menambahkan tipologi sepuluh tahap genosida (Stanton, 2013).

Dalam kerangka ini, Srebrenica, Holocaust, Gaza, Westerling, Pulot Cot Jeumpa, dan 1965–1966 adalah simpul-simpul dalam jaringan sejarah kekerasan global. Masing-masing memiliki konteks berbeda, tetapi berbagi struktur: penghancuran kelompok melalui kekerasan sistematis dan penyangkalan.

Kematian Mladić tidak menutup cerita ini. Ia hanya menandai bahwa satu tubuh pelaku telah berhenti bernafas, sementara struktur yang memungkinkannya memerintahkan genosida tetap menuntut untuk dibongkar—di Bosnia, Palestina, Indonesia, Aceh, dan banyak tempat lain.

Bibliografi

Abdullah, D. (2019). A century of cultural genocide in Palestine. In Cultural genocide (pp. 227–245). Routledge.

Bartov, O. (2023). Genocide, the Holocaust and Israel-Palestine (pp. 1–264).

Brunborg, H., Lyngstad, T. H., & Urdal, H. (2003). Accounting for genocide: How many were killed in Srebrenica? European Journal of Population/Revue européenne de démographie, 19(3), 229–248.

Cribb, R. (2004). The Indonesian genocide of 1965–1966. In Teaching about genocide: Approaches, and resources (pp. 133–143).

Honig, J. W. (2007). Strategy and genocide: Srebrenica as an analytical challenge. Southeast European and Black Sea Studies, 7(3), 399–416.

Hoare, M. A. (2021). The Bosnian genocide and the Srebrenica massacre. Bosnian Studies: Journal for research of Bosnian thought and culture, 5(1), 40–52.

Kreike, E. (2012). Genocide in the Kampongs? Dutch nineteenth century colonial warfare in Aceh, Sumatra. Journal of Genocide Research, 14(3–4), 297–315.

Lemkin, R. (1946). Genocide. The American Scholar, 15(2), 227–230.

Leydesdorff, S. (2011). Surviving the Bosnian genocide: The women of Srebrenica speak. Indiana University Press.

Melvin, J. (2017). Mechanics of mass murder: A case for understanding the Indonesian killings as genocide. Journal of Genocide Research, 19(4), 487–511.

Melvin, J. (2018). The army and the Indonesian genocide. Routledge.

Mulaj, K. (2017). Genocide and the ending of war: Meaning, remembrance and denial in Srebrenica, Bosnia. Crime, Law and Social Change, 68(1), 123–143.

Newbury, D. (1998). Understanding genocide. African Studies Review, 41(1), 73–97.

Nettelfield, L. J., & Wagner, S. E. (1945). Srebrenica in the aftermath of genocide. Cambridge University Press.

Nijim, M. (2023). Genocide in Palestine: Gaza as a case study. The International Journal of Human Rights, 27(1), 165–200.

Prunier, G. History of a genocide. Columbia University Press.

Raben, R. (2012). On genocide and mass violence in colonial Indonesia. Journal of Genocide Research, 14(3–4), 485–502.

Rashed, H., Short, D., & Docker, J. (2014). Nakba memoricide: Genocide studies and the Zionist/Israeli genocide of Palestine. Holy Land Studies, 13(1), 1–23.

Robinson, N. (2007). The genocide convention. Case Western Reserve Journal of International Law, 40, i.

Robinson, W. I. (2024). Palestine and global crisis: Why genocide? Why now? Journal of World-Systems Research, 30(1), 485–498.

Schabas, W. A. (2000). Genocide in international law (Vol. 314). Cambridge University Press.

Shaw, M. (2010). Palestine in an international historical perspective on genocide. Holy Land Studies, 9(1), 1–24.

Shaw, M. (2013). What is genocide? John Wiley & Sons.

Shaw, M. (2025). Gaza and the structure of genocide in Palestine. The Journal of Imperial and Commonwealth History, 53(2), 416–422.

Simic, O. (2025). “Celebrating” Srebrenica genocide: Impunity and indoctrination as contributing factors to the glorification of mass atrocities. Journal of Genocide Research, 27(3), 495–513.

Simon, T. W. (1996). Defining genocide. Wisconsin International Law Journal, 15, 243.

Southwick, K. G. (2005). Srebrenica as genocide—The Krstic decision and the language of the unspeakable. Yale Human Rights & Development Journal, 8, 188.

Stanton, G. H. (2013, February 5). The ten stages of genocide.

Subotić, J. (2022). Holocaust and the meaning of the Srebrenica genocide: A reflection on a controversy. Journal of Genocide Research, 24(1), 71–82.

Thalal, M., et al. (2025). Buried but unforgotten: Nested-contentious memory of the 1955 Pulot-Cot Jeumpa massacre in Aceh, Indonesia. Frontiers in Political Science, 7, 1682124.

(*/arrahmah.id)