Memuat...

Stok Rudal AS Menipis akibat Perang Iran, Sekutu Asia Mulai Cemas

Zarah Amala
Kamis, 27 Agustus 2026 / 15 Rabiulawal 1448 14:08
Stok Rudal AS Menipis akibat Perang Iran, Sekutu Asia Mulai Cemas
Sistem pencegat Patriot setelah dikerahkan di sebuah taman selama latihan militer tahunan "Han Kuang" di ibu kota Taiwan, Taipei, pada Agustus 2026 (European Pressphoto Agency)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Perang berkepanjangan dengan Iran mulai memicu kekhawatiran di Asia dan Pentagon terkait menipisnya persediaan senjata serta amunisi Amerika Serikat. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengurangi kesiapan AS menghadapi potensi konflik dengan Cina.

The Washington Post melaporkan konsumsi besar amunisi AS di Timur Tengah telah membuat sejumlah sekutu Asia khawatir. Lebih dari 30 kapal AS yang semula dijadwalkan berada di Pasifik dialihkan ke Timur Tengah selama perang.

AS juga membatalkan latihan pendaratan amfibi bersama Korea Selatan yang dijadwalkan September, dengan alasan beban operasional akibat perang Iran.

Taiwan memperkirakan pengiriman rudal pertahanan udara Patriot akan mengalami penundaan signifikan karena persediaan AS terkuras akibat penggunaan di Timur Tengah.

Jepang juga dilaporkan mendapat peringatan Pentagon mengenai kemungkinan keterlambatan pengiriman sejumlah sistem pertahanan, termasuk rudal jelajah Tomahawk.

Analis memperkirakan AS telah menghabiskan sebagian besar stok rudal pencegat Patriot dan THAAD yang tersedia sebelum perang Iran, sehingga tersisa sekitar 1.000 rudal.

Pengamat pertahanan Jennifer Kavanagh menilai kecil kemungkinan Taiwan menerima seluruh 100 rudal yang diharapkan dalam waktu dekat karena prioritas pertama AS adalah mengisi kembali persediaannya sendiri.

Pentagon kini menekan industri pertahanan untuk mempercepat produksi senjata. Lockheed Martin bahkan mendapat kontrak 58,6 miliar dolar untuk meningkatkan produksi pencegat Patriot hingga tiga kali lipat pada 2030.

Di saat yang sama, Cina terus memperluas persenjataannya, termasuk rudal balistik, hipersonik, dan antikapal.

Pejabat intelijen AS mengatakan Presiden Cina Xi Jinping telah memerintahkan militernya untuk memiliki kemampuan menyerang Taiwan pada 2027. Namun, penilaian intelijen terbaru menyebut Beijing saat ini belum menunjukkan niat untuk melakukan invasi dalam waktu dekat. (zarahamala/arrahmah.id)