KABUL (Arrahmah.id) -- Kelompok oposisi bersenjata Afghanistan Freedom Front (AFF) mengklaim telah menewaskan seorang militer Imarah Islam Afghanistan (IIA) dan melukai tiga lainnya dalam serangan di Kabul, Afghanistan. Insiden tersebut kembali menunjukkan meningkatnya aktivitas kelompok perlawanan anti-Taliban di ibu kota Afghanistan dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut pernyataan AFF yang dipublikasikan pada Ahad (24/5/2026), seperti dilansir 8AM.Media (24/5), serangan terjadi pada Sabtu malam di Distrik Surobi, Provinsi Kabul. Kelompok itu menyebut operasi dilakukan terhadap posisi militer IIA dalam sebuah serangan bersenjata yang berlangsung singkat sebelum para pelaku melarikan diri dari lokasi.
AFF menyatakan, “Satu anggota Taliban tewas dan tiga lainnya terluka dalam operasi militer kami.” Kelompok tersebut juga mengklaim tidak ada warga sipil maupun anggota AFF yang terluka selama operasi berlangsung.
Hingga kini pemerintah IIA belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim serangan tersebut. Namun media Afghanistan mencatat IIA biasanya jarang mengonfirmasi serangan yang diklaim kelompok oposisi bersenjata.
AFF merupakan salah satu kelompok perlawanan utama yang muncul setelah IIA kembali mengambil alih Afghanistan pada Agustus 2021. Kelompok itu aktif melakukan serangan gerilya terhadap pos pemeriksaan, kendaraan militer, dan instalasi keamanan IIA di Kabul serta beberapa provinsi lain seperti Panjshir, Baghlan, dan Kunduz.
Dalam beberapa pekan terakhir, AFF juga mengklaim bertanggung jawab atas sejumlah serangan lain di Kabul, termasuk serangan roket terhadap bagian militer Bandara Kabul yang disebut menimbulkan kebakaran besar.
Laporan Council on Foreign Relations (CFR) menyebut Afghanistan masih menghadapi instabilitas serius akibat konflik bersenjata, ketegangan lintas batas dengan Pakistan, serta meningkatnya aktivitas kelompok perlawanan anti-Taliban dan ISIS-K.
Sementara itu, lembaga pemantau keamanan South Asia Terrorism Portal mencatat Kabul terus menjadi lokasi berbagai serangan gerilya terhadap IIA sejak kelompok itu kembali berkuasa. Serangan-serangan tersebut umumnya diklaim oleh AFF maupun National Resistance Front (NRF), dua kelompok oposisi utama IIA saat ini.
Para analis menilai meningkatnya operasi kelompok anti-Taliban menunjukkan bahwa IIA masih menghadapi tantangan keamanan serius meski telah menguasai Afghanistan hampir lima tahun terakhir. Konflik internal, krisis ekonomi, dan isolasi internasional disebut menjadi faktor yang memperumit stabilitas pemerintahan IIA di Kabul. (hanoum/arrahmah.id)
