MANCHESTER (Arrahmah.id) -- Ratusan massa kelompok sayap kanan Britain First menggelar pawai anti-Islam di pusat Kota Manchester, Inggris, memicu aksi tandingan yang jauh lebih besar dari kelompok anti-rasisme dan komunitas Muslim sehingga menciptakan ketegangan dan bentrokan yang memaksa polisi turun tangan memisahkan kedua kubu.
Dilansir Al Jazeera (21/2/2026), aksi yang berlangsung pada Sabtu (21/2) itu diwarnai teriakan anti-imigran dan tuntutan deportasi massal Muslim dari Inggris. Para demonstran membawa bendera Union Jack dan bergerak menuju sejumlah titik di pusat kota, sementara massa tandingan berkumpul dengan spanduk anti-fasis dan bendera Palestina.
Laporan jurnalis lapangan Al Jazeera menyebutkan jumlah pengunjuk rasa anti-fasis jauh lebih besar dibanding massa Britain First, sehingga aparat kepolisian membuat barikade untuk mencegah bentrokan langsung di jalanan.
Sejumlah peserta aksi dari kelompok sayap kanan terlihat melontarkan slogan “kirim mereka pulang”, merujuk pada imigran dan Muslim, serta menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah Inggris terkait migrasi.
Video lapangan menunjukkan kedua kelompok saling berhadap-hadapan dalam jarak dekat sebelum polisi membentuk zona steril untuk memisahkan massa. Tidak sedikit demonstran dari kedua pihak yang terlibat adu mulut, sementara aparat berjaga dalam jumlah besar di sepanjang rute pawai.
Britain First dikenal sebagai partai politik sayap kanan yang menyerukan penghentian imigrasi dan pengusiran migran serta Muslim dari Inggris. Aksi di Manchester ini merupakan bagian dari gelombang mobilisasi kelompok kanan jauh yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir di berbagai kota di Inggris.
Dalam konteks lebih luas, sejak 2025 demonstrasi anti-imigrasi yang melibatkan jaringan kelompok kanan jauh telah berlangsung di banyak wilayah Inggris dan beberapa di antaranya berujung kerusuhan, penangkapan, serta korban luka di pihak kepolisian.
Kelompok anti-rasisme yang melakukan aksi tandingan menilai pawai tersebut sebagai bentuk Islamofobia dan ancaman terhadap kohesi sosial. Mereka menegaskan bahwa Manchester adalah kota multikultural yang menolak politik kebencian.
Hingga laporan ini diturunkan, polisi belum merinci jumlah korban luka, namun beberapa penangkapan dilaporkan terjadi di awal aksi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Pengamat menilai konfrontasi antara kelompok kanan jauh dan komunitas anti-fasis di Inggris mencerminkan meningkatnya polarisasi politik terkait isu migrasi, identitas nasional, dan Islam di negara tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
