Memuat...

Klub Tahanan Palestina Ungkap Eskalasi Penyiksaan dan Penahanan Administratif di Penjara 'Israel'

Zarah Amala
Rabu, 29 Juli 2026 / 15 Safar 1448 11:16
Klub Tahanan Palestina Ungkap Eskalasi Penyiksaan dan Penahanan Administratif di Penjara 'Israel'
24.600 penangkapan di Tepi Barat sejak Oktober 2023 (Al Jazeera)

RAMALLAH (Arrahmah.id) - Kejahatan sistematis otoritas pendudukan 'Israel' terhadap para tahanan Palestina tidak menunjukkan penurunan sejak awal agresi di Jalur Gaza pada Oktober 2023, melainkan semakin kejam dan terorganisir. Hal tersebut diungkapkan oleh Klub Tahanan Palestina dalam laporan lembar fakta (fact sheet) mengenai paruh pertama 2026 yang dirilis pada Selasa (28/7/2026).

Laporan tersebut menegaskan bahwa praktik penangkapan tidak lagi sekadar instrumen kolonial untuk membatasi kebebasan, melainkan telah menjelma menjadi bagian integral dari sistem pemusnahan massal (genocide) yang menargetkan fisik, psikologis, martabat, dan eksistensi warga Palestina melalui kebijakan yang terencana.

Klub Tahanan Palestina mencatat setidaknya 3.600 kasus penangkapan di Tepi Barat, termasuk Yerusalem, serta ratusan kasus lainnya di Jalur Gaza selama enam bulan pertama 2026. Dari jumlah tersebut, tercatat 276 anak-anak dan 107 perempuan menjadi korban.

Praktik penahanan warga sipil sebagai sandera guna menekan anggota keluarga agar menyerahkan diri juga kian marak dijadikan instrumen hukuman kolektif. Berdasarkan kesaksian pengacara dan para tahanan yang baru dibebaskan, metode pengelolaan penjara dan kamp penahanan kini didominasi oleh perluasan kampanye penangkapan massal secara masif, penggunaan penahanan administratif yang belum pernah terjadi sebelumnya serta penerapan sistem terpadu yang mencakup penyiksaan, kelaparan, pengabaian medis, pelecehan seksual, isolasi, hingga penghilangan paksa.

Sejauh ini, total kasus penangkapan di Tepi Barat sejak Oktober 2023 telah mencapai 24.600 kasus, yang mencakup 785 perempuan dan 1.900 anak. Saat ini, jumlah total tahanan di dalam penjara 'Israel' mencapai 9.400 orang, termasuk 94 tahanan wanita, 350 anak-anak, 3.244 tahanan administratif tanpa proses peradilan, serta 1.320 tahanan asal Gaza yang dikategorikan 'Israel' sebagai kombatan ilegal.

Kebijakan represif tersebut dilaporkan telah merenggut nyawa lebih dari 100 tahanan Palestina sejak dimulainya perang genosida, di mana 90 identitas telah diumumkan secara resmi, sementara nasib puluhan tahanan asal Gaza lainnya masih disembunyikan.

Sejumlah kesaksian dari mantan tahanan mengungkap tingkat kekerasan ekstrem di dalam penjara. Seorang tahanan dengan sandaran inisial B menuturkan bahwa dirinya menjadi korban penggeledahan tubuh tanpa busana (strip search) disertai hinaan di Penjara Sharon, bagian utara 'Israel'. Sementara itu, tahanan administratif berinisial D di Penjara Megiddo menyatakan bahwa ia mengalami penganiayaan fisik dan psikologis berat yang meninggalkan trauma mendalam, meski dirinya ditahan tanpa pernah dihadapkan pada dakwaan resmi. (zarahamala/arrahmah.id)