Memuat...

Ustadz Rifky Soroti Fenomena Sound Horeg: "Ini Diskotek Berjalan"

Ameera
Rabu, 9 September 2026 / 28 Rabiulawal 1448 14:41
Ustadz Rifky Soroti Fenomena Sound Horeg: "Ini Diskotek Berjalan"
Ustadz Rifky Soroti Fenomena Sound Horeg: "Ini Diskotek Berjalan"

JAKARTA (Arrahmah.id) — Fenomena sound horeg yang semakin marak di sejumlah wilayah Jawa Timur kembali menuai sorotan. Kali ini, kritik datang dari pendakwah Ustadz Rifky Ja'far Thalib yang menilai perkembangan sound horeg telah mengalami pergeseran fungsi dan budaya.

Melalui unggahan di akun Instagram-nya, @ustadrifkyjafar.official, Ustadz Rifky menyampaikan pandangannya mengenai tren sound horeg dengan gaya santai, tetapi cukup menohok. Ia juga meminta para pencinta sound horeg untuk bersikap dewasa dalam menyikapi perbedaan pendapat.

"Saya lagi senang ngomong sound horeg ini. Panjenengan yang pecinta sound horeg biasa mawon nggih, santai mawon nggih. Cocok nggih didamel, mboten cocok sepura-sepura gak krungu lah ya," ujar Ustadz Rifky, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, persoalan yang muncul bukan semata-mata keberadaan pengeras suara berukuran besar, melainkan perkembangan pertunjukan sound horeg yang kini semakin kompleks.

Ia menilai sound horeg yang awalnya identik dengan pertunjukan pada siang hari kini turut berkembang menjadi hiburan malam dengan dukungan berbagai perangkat pertunjukan.

"Dan sound horeg itu sekarang enggak cuma sound, ketambahan lampu sorot. Maka zaman kemarin sound horeg itu jalannya siang, sekarang malam karena ada tambahan lampu," tuturnya.

Tidak berhenti pada penggunaan lampu sorot, Ustadz Rifky juga menyoroti kehadiran penari latar atau dancer dalam sejumlah pertunjukan sound horeg.

"Seiring berjalannya waktu, ketambahan lagi, sekarang di belakangnya sound horeg ada dancer. Lho iya, enggak usah senyum-senyum, beneran ini. Dan dancer-nya itu dibayar. Ini diskotek berjalan," sambungnya.

Ustadz Rifky kemudian mengaitkan perkembangan tersebut dengan perubahan norma hiburan di tengah masyarakat.

Ia membandingkan kondisi saat ini dengan masa ketika hiburan malam seperti diskotek masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan memiliki batasan bagi pengunjung, terutama anak-anak.

"Zaman panjenengan dan saya kecil, orang ke diskotek itu kan malu-malu. Itupun masuknya bayar, anak kecil enggak boleh masuk," tegas Ustadz Rifky.

Menurut dia, situasinya kini berbeda karena pertunjukan dengan karakteristik hiburan yang menurutnya menyerupai diskotek justru dapat hadir di ruang publik dan lingkungan permukiman.

"Sekarang diskoteknya lewat di depan rumah kita, dan ibu ngajak anaknya nonton, ngandheng anak cilik. 'Itu lho nak lihat... lohh... tutup nak telingamu, matanya gak papa nak, kupingnya aja yang bahaya,'" ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi bentuk keprihatinannya terhadap akses anak-anak terhadap pertunjukan sound horeg yang digelar di ruang publik.

Di tengah maraknya perdebatan mengenai sound horeg, Ustadz Rifky mengimbau masyarakat yang merasa terganggu untuk tidak sekadar mengeluh. Ia mendorong warga menyampaikan keberatan melalui jalur birokrasi secara tertib.

Menurutnya, komunikasi dengan perangkat lingkungan diperlukan agar kepentingan warga yang menikmati hiburan maupun warga yang merasa terganggu dapat sama-sama diperhatikan.

"Lah ini kalau tidak disuarakan, akan terus seperti itu. Maka orang-orang yang masih lurus model panjenengan harus bersuara. Tujuannya apa? Biar perangkat RT, RW, desa, camat, mereka juga menghargai orang yang tidak sependapat," katanya.

Ia menyarankan warga menyampaikan aspirasi secara resmi melalui perangkat lingkungan.

"Sampaikan, datang ke Pak RT bawa surat resmi, datang ke Pak RW, nanti diskusi warga, apa manfaatnya?" lanjutnya.

Di akhir penyampaiannya, Ustafz Rifky mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengikuti tren hiburan, tetapi juga mempertimbangkan dampak dan manfaatnya.

Ia meminta masyarakat menggunakan pertimbangan yang jernih ketika menentukan apakah sebuah hiburan layak dinikmati atau tidak.

"Coba dipikir dengan hati yang bersih, apanya ya? Boleh-boleh, hatinya senang ya? Nah, maka kalau senang dengan sesuatu yang tidak baik, itu artinya hatinya sedang tidak baik. Maka perlu diluruskan," pungkas Ustadz Rifky.

Sorotan tersebut menambah panjang perdebatan mengenai fenomena sound horeg di Jawa Timur. Di satu sisi, sound horeg berkembang sebagai bentuk hiburan dan kreativitas masyarakat. Namun di sisi lain, kemunculannya juga memunculkan perdebatan mengenai kebisingan, ketertiban lingkungan, batas ruang publik, hingga kesesuaian pertunjukan dengan norma masyarakat setempat.

(ameera/arrahmah.id)