Memuat...

Macron Segera ke Damaskus, Prancis Incar Proyek Rekonstruksi dan Pengaruh Baru di Suriah

Samir Musa
Senin, 6 Juli 2026 / 21 Muharam 1448 06:19
Macron Segera ke Damaskus, Prancis Incar Proyek Rekonstruksi dan Pengaruh Baru di Suriah
Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa (kanan) dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Reuters)

DAMASKUS (Arrahmah.id) – Rencana Presiden Prancis, Emmanuel Macron, melakukan kunjungan ke Damaskus menjadi sorotan karena dinilai membawa ambisi politik, ekonomi, dan strategis di tengah proses kebangkitan Suriah pascaperang.

Menurut laporan Al Jazeera, jika terlaksana, Macron akan menjadi pemimpin pertama dari negara Eropa Barat yang mengunjungi Damaskus sejak perubahan pemerintahan di Suriah. Kunjungan tersebut dipandang sebagai sinyal semakin terbukanya hubungan antara Barat dan kepemimpinan baru Suriah.

Delegasi Macron disebut akan turut membawa para investor serta pimpinan perusahaan Prancis. Hal ini memperlihatkan besarnya minat Paris untuk memperoleh peluang dalam proyek-proyek rekonstruksi Suriah yang diperkirakan bernilai sangat besar seiring upaya negara itu membangun kembali infrastruktur dan ekonominya.

Macron memandang Suriah sebagai peluang investasi sekaligus perluasan pengaruh geopolitik Prancis. (EPA-EFE)

Selain kepentingan ekonomi, Prancis juga dinilai ingin memperkuat pijakan strategisnya di kawasan Mediterania Timur. Paris berupaya mengembalikan pengaruhnya di kawasan, memanfaatkan kedekatan diplomatik dengan pemerintahan baru Suriah setelah sebelumnya menjadi salah satu negara Barat yang paling awal memutus hubungan dengan rezim .

Dalam pertemuan Macron dengan Presiden Suriah, , diperkirakan akan dibahas peningkatan hubungan bilateral, kerja sama ekonomi dan investasi, perkembangan situasi regional, serta dukungan bagi proses pembangunan kembali Suriah.

Kunjungan tersebut berlangsung ketika Damaskus tengah mengubah orientasi politik luar negerinya ke arah Barat setelah puluhan tahun berada dalam pengaruh blok Soviet. Pemerintahan baru Suriah juga terus memperluas hubungan internasional setelah berbagai sanksi Barat mulai dicabut dan Presiden Ahmed Asy-Syaraa melakukan kunjungan ke sejumlah ibu kota Barat.

Presiden Suriah Ahmed Asy-Syaraa menerapkan kebijakan luar negeri yang lebih dekat dengan Barat. (Getty Images)

Meski demikian, langkah Prancis tidak sepenuhnya mendapat sambutan positif. Sejumlah kalangan di Suriah masih mengkritik sikap Paris yang sebelumnya mendukung gagasan pemerintahan otonom Kurdi serta menerima kunjungan panglima , yang oleh Damaskus dianggap sebagai bentuk campur tangan terhadap urusan dalam negeri.

Apabila kunjungan Macron benar-benar terlaksana, ia akan menjadi presiden Prancis pertama yang menginjakkan kaki di Damaskus sejak kunjungan Nicolas Sarcozy pada 2009.

Di sisi lain, Suriah diperkirakan memperoleh keuntungan diplomatik dari kunjungan tersebut. Jika terlaksana, Macron akan menjadi pemimpin negara atau lembaga regional keempat yang diterima Damaskus setelah kunjungan Tamim bin Hamad Al Thani, Ursula von der Leyen, dan Volodymyr Zelenskyy. Kehadiran Presiden Prancis itu diyakini akan semakin memperkuat posisi Suriah dalam proses normalisasi politik dengan negara-negara Barat, sekaligus membuka peluang lebih besar untuk menghadapi tantangan ekonomi dan keamanan di tengah upaya membangun kembali negara tersebut.

(Samirmusa/arrahmah.id)